HKTI Jateng Tolak Rencana Pemerintah Impor Beras

Sekretaris DPD Pemuda Tani HKTI Jateng, Aan L Saputra.

 

HALO SEMARANG – Dewan Pengurus Daerah (DPD) Pemuda Tani Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Jateng menolak terkait dengan kebijakan impor beras sebanyak satu juta ton melalui Perum Bulog. Hal itu diungkapkan oleh Sekretaris Umum DPD Pemuda Tani HKTI Jateng, Aan L Saputra.

“Ya jelas (menolak) di daerah saya saja harga gabah sudah mulai turun yang normalnya sekitar Rp 4.200 per kilogram. Di bawah IR paling sekitar Rp 3.800 sampai Rp 3.900 per kilogram. Daerah saya di Banjarnegara termasuk paling mahal bertahan sekitar Rp 4.000. Kalau dipukul rata sekitar Rp 3.800 sampai Rp 3.850 sudah mentok,” ungkap Sekretaris Umum DPD Pemuda Tani HKTI Jateng, Aan L Saputra saat dihubungi halosemarang.id, Jumat (26/3/202) sore.

Aan menuturkan, pemerintah harus mengedepankan aspirasi di tingkat petani dan melakukan kajian yang harus memikirkan berbagai langkah.

“Harapannya pemerintah tidak jadi mengimpor beras, pemerintah lebih maksimal terkait penyerapan aspirasi di tingkat petani. Pemerintah harus melakukan kajian terkait wacana impor beras yang harus memikirkan berbagai langkah,” ungkapnya.

“Dari Jawa Tengah menolak adanya wacana kebijakan impor beras,” tambah Aan menegaskan.

Perlu diketahui, pemerintah berencana melakukan impor beras sekitar 1 juta ton pada awal tahun 2021. Dengan rincian 500 ribu ton untuk cadangan beras pemerintah dan 500 ribu ton untuk kebutuhan Bulog.

Rencana impor beras tersebut pertama kali diusulkan oleh Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartarto dalam rapat kementerian perdagangan pekan lalu.

Sedangkan sebelumnya ada rencana impor tersebut Presiden Joko Widodo mengeluarkan seruan untuk mencintai produk dalam negeri.

Informasi yang diperoleh, Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksi produksi beras periode Januari-April 2021 cukup tinggi, di angka 14,54 juta ton. Ini artinya meningkat 26,84 persen dibandingkan produksi beras periode yang sama tahun 2020 yang hanya 11,46 juta ton.

BPS juga memproyeksikan potensi panen raya Januari-April akan surplus lebih kurang 4,8 juta ton beras. Kondisi ini akan berdampak pada harga beras dan gabah di lapangan turun, sedangkan kemampuan pasar tentunya terbatas.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.