in

Heri Pudyatmoko: Ancaman Resesi Tak Bisa Disepelekan

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko.

HALO SEMARANG – Ancaman resesi ekonomi pada tahun 2023 bisa dialami oleh banyak negara. Resesi umumnya ditandai dengan menurunnya pendapatan domestik bruto (PDB), meningkatnya pengangguran, dan pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren negatif selama dua kuartal berturut-turut.

Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko menegaskan, ancaman resesi ini tak bisa disepelekan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, diharapkan bisa mengantisipasi, dengan menyiapkan berbagai hal. Di antaranya tentang menjaga ketersediaan pangan, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok, kondusifitas wilayah, dan sosialisasi kepada masyarakat tentang perlunya memanfaatkan lahan tak produktif maupun pekarangan.

“Ancaman ini tidak boleh disepelekan. Maka diperlukan langkah-langkah antisipasi, meski sesuai prediksi Indonesia tak terkena dampak resesi secara fatal,” katanya, Senin (24/2022).

Dikatakan, isu mengenai resesi akhir-akhir ini semakin ramai menjadi pembicaraan masyarakat Indonesia. Pemicu yang menyebabkan munculnya isu resesi global tersebut adalah inflasi yang terjadi hampir di seluruh dunia yang tidak diimbangi dengan naiknya tingkat ekonomi dan daya beli masyarakat. Situasi ini diperparah dengan adanya konflik Rusia – Ukraina yang membuat harga energi semakin tinggi dan mendongkrak inflasi.

“Kita harus waspada dengan tekanan global yang semakin besar. Namun masyarakat diharapkan untuk tidak panik secara berlebihan menanggapi isu resesi ini dan tetap berhati-hati di tengah situasi ekonomi global yang tidak menentu,” katanya.

Kondisi ekonomi global yang tak stabil juga menimbulkan kekhawatiran akan menurunnya lapangan pekerjaan. Sebab, biasanya, kondisi ekonomi yang rentan membuat pelaku usaha mau tak mau harus melakukan efisiensi demi keberlangsungan usahanya.

“Inilah salah satu hal yang harus diantisipasi selain juga terkait ketersediaan pangan. Perlu langkah-langkah yang tepat untuk antisipasi ancaman resesi 2023,” tegasnya.

Sementara data Dinas Pertanian dan Perkebunan Jateng terkait produksi pangan strategis (padi, jagung, kedelai-pajale) hanya kedelai yang minus. Sementara komoditi padi dan jagung untuk konsumsi dan pakan ternak melebihi kebutuhan.

Tercatat realisasi produksi padi hingga September 2022 mencapai 8.238.177 ton. Prediksi tahun 2022 untuk produksi padi bisa mencapai 9.579.069 ton, atau sekitar 5,5 juta ton beras.

Pada 2020 produksi beras mencapai 5,43 juta ton. Sedangkan produksi beras di tahun 2021 atau sekitar 5.531.297 ton beras. Adapun, untuk produksi jagung hingga September 2022 mencapai 3.047.712 ton. Sementara, produksi kedelai hingga bulan yang sama baru mencapai 47.246 ton.

Selain itu Dinas Ketahanan Pangan (Dishanpan) Jateng juga mencatat, produksi pangan pokok seperti beras memang mengalami surplus. Data prognosa (perkiraan) yang dikompilasi oleh Dishanpan hingga akhir Desember 2022 ketersediaan beras di Jateng mencapai 10.038.575 ton. Sedangkan kebutuhan konsumsi diperkirakan 3.244.363 ton.(Advetorial-HS)

Quest Hotel Simpanglima Semarang Gelar Tea Mixology Workshop and Bar Take Over with Cakra Virajati

Pemkot Semarang Gandeng BPK RI Tangani Aset Relokasi Pasar Johar