in

Hasilkan Produk Madu Aman dan Berkualitas, Dikupas Dalam Seminar Keamanan Pangan

Seminar Keamanan Pangan yang diselenggarakan Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, di salah satu hotel di Kendal, Kamis (16/9/2021).

 

HALO KENDAL – Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal menggelar Seminar Keamanan Pangan, dengan tema “Bagaimana Menghasilkan Produk Madu yang Aman dan Berkualitas”, di salah satu hotel di Kendal, Kamis (16/9/2021).

Acara yang dihadiri oleh para peternak, produsen dan distributor madu tersebut, dengan menghadirkan dua nara sumber dari Balai Besar POM Semarang dan Praktisi Madu Kendal.

Seminar yang berlangsung sejak pukul 09.30 WIB dan berakhir pukul 12. 30 WIB tersebut, dibuka oleh Kasi Kefarmasian dan Perbekalan Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal, Prihartini dan dipandu oleh moderator Hadi Lestianto.

Nara sumber dari Balai Besar POM Semarang, Maya Damayanti mengatakan, ranah pangan bukan hanya spesifik tapi harus luas dan menjadi tanggung jawab bersama.

“Tanggung jawab tiga pilar. Yakni pemerintah melakukan pengawasan yang komperehensif, kemudian pelaku usaha yang menjamin produk yang diproduksi. Selanjutnya masyarakat sebagai konsumen yang cerdas,” paparnya.

Maya juga menyebut, untuk produk pangan sudah diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 86 Tahun 2019 tentang Keamanan Pangan.

“Dalam PP tersebut sudah diatur cara pendaftaran untuk pangan. Di antaranya, untuk pangan olahan terkemas harus didaftarkan di BPOM dan Pemda setempat. Untuk pangan segar, pendaftaran di Kementerian Pertanian. Kemudian pangan segar di Dinas Kesehatan dan pangan mengandung herbal harus ke BPOM bagian obat tradisional,” paparnya.

Sedangkan untuk madu, lanjut Maya, tertuang dalam Peraturan BPOM nomor 34 tahun 2019. Beberapa jenis madu di antaranya, Madu Hutan, Madu Budi Daya dan Madu Lebah Tanpa Sengat.

“Sesuai SNI 8665 tahun 2018, madu adalah SNI revisi yang merupakan penggabungan dari SNI 3545 tahun 2013. Kemudian madu dan SNI 7899 tahun 2013, pengelolaan madu standar disusun berdasarkan perkembangan keragaman produksi mutu nasional yang meliputi madu hutan, madu budi daya dan madu lebah tanpa sengat (trigonal),” terangnya.

Dijelaskan, ketiganya merupakan cairan alami yang umumnya mempunyai rasa manis, yang dihasilkan oleh lebah liar, lebah budi daya dan lebah tanpa sengat, dari sari bunga tanaman (floral nektar) atau bagian lain dari tanaman (ekstra floral).

“Semua akan dilihat dari karakteristik dasar, yakni kadar-kadar hidroksimetilfurfural (HMF) tidak boleh lebih dari 50 mg/kg. Selanjutnya aktivitas Enzim Diastase, yakni madu hutan, madu lebah tanpa sengat SNI 01- 3545-2004 menyebutkan, bahwa kadar air madu yang baik maksimal 22%,, dengan minimal 3 DN dan HMF maksimal 50 mg/kg. Sedangkan madu budi daya tidak boleh kurang dari 3 DN,” jelas Maya.

Sementara itu, Praktisi Madu Klanceng sekaligus Pemerhati Pangan dan Founder Hibtaki asal Weleri, Khafid Sirotudin dalam pemaparannya menyampaikan terkait penerapan “GAP” produk madu.

Dikatakan, fakta per-maduan di Indonesia, yang pertama tingkat konsumsi masih rendah. Menurutnya, madu masih dinggap sebagai asupan suplemen, masih rendahnya pengetahuan tentang madu, tingkat kemakmuran masyarakat belum tinggi dan daya beli masyarakat masih kurang.

“Yang kedua, produksi madu Indonesia masih rendah, yakni dengan produksi diperkirakan 4.000 – 5.000 ton per tahun. Selain itu tingkat konsumsi madu kurang lebih 8.000 – 15.000 ton pertahun. Selanjutnya kekurangan produksi dipenuhi melalui impor 5.000 – 15.000 kilo liter,” paparnya.

Yang ketiga, maraknya madu SOS (sirupan-oplosan-sintesis), di antaranya sosialisasi dan pembinaan kepada peternak dan pembudi daya lebah. Masih kurangnya fasilitasi, pelatihan dan pendampingan kepada peternak lebah madu. Selain itu lemahnya penegak hukum dalam pemberantasan pemalsuan dan penipuan berkedok madu klanceng.

“Yang keempat adanya oknum perusahaan koperasi yang melakukan mal praktik bisnis investasi berkedok budi daya klanceng. Hal tersebut dibuktikan dengan ditangkapnya oknum direktur PT/CV dan Ketua/Manager Koperasi,” jelas Khafid.

Menurutnya, banyak manfaat yang terkandung di dalam madu murni/asli, menjadikan beragam makan olahan berbasis madu dapat ditemukan di aneka produk makanan dan minuman.

“Selain itu, produk turunan berbahan dasar madu dapat dijumpai mulai dari suplemen kesehatan, perawatan kulit, krim untuk luka, hingga jamu/herbal kaya antioksidan, dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Khafid menekankan, terdapat perbedaan dalam produk madu, namun sama-sama memiliki beragam khasiat untuk menjaga kesehatan tubuh.
“Selain madu yang kita konsumsi memenuhi syarat kemurnian/asli, kita juga harus membiasakan minum madu setiap pagi minimal satu sendok makan (10 cc),” tutur Khafid.

Sebagai penutup, dirinya menambahkan, beberapa khasiat yang kita dapatkan saat rajin mengkonsumsi madu klanceng, yaitu imunitas tubuh meningkat.
Sebab menurutnya, madu klanceng memiliki kandungan flavonoid dan antioksidan sebagai zat penangkal terhadap risiko terpapar berbagai macam penyakit.

Meski belum populer sebagaimana madu apis umumnya, namun budi daya madu klanceng memiliki sisi ekonomis bagi peternaknya.
“Dari harga, madu klanceng lebih mahal, karena koloni lebah klanceng tidak menghasilkan madu yang berlimpah, yakni hanya 100-200 ml (T laeviceps) atau 500-700 ml (H itama) setiap stup per 3-4 bulan,” pungkas Khafid.(HS)

Share This

Masuk Pembahasan Dewan, Jateng Akan Jadi Provinsi Pertama yang Miliki Brinda

Rekonstruksi Pembunuhan Taruna PIP Semarang, Polisi Temukan Fakta Baru