in

Harus Dipahami, Jual Rokok Tingwe Dapat Dikenakan Cukai

Foto ilustrasi tembakau linting.

 

HALO SEMARANG – Tren rokok tingwe atau linting dewe (melinting sendiri) menjamur di kalangan masyarakat dipicu oleh harga rokok pabrikan yang terus menanjak. Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut disusul maraknya lapak-lapak penjual tembakau rajang di sejumlah wilayah.

“Sekarang jadi concern kami, kalau memang yang masih di lodong per ons itu tidak masalah. Asal tidak dimerk, tapi jika dia dijual, dikemas berdasarkan gram, ada mereknya, itu barang kena cukai,” tutur Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kantor Wilayah (Kanwil) Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Provinsi Jawa Tengah (Jateng)- DI Yogyakarta Moch Arif Setijo Noegroho, Selasa (24/8/2021).

Perhatian khusus ditujukan pada daerah yang tinggi persebaran tembakau siap linting, seperti di Surakarta dan Yogyakarta. Sebab, lanjutnya, terdapat batas tipis antara tembakau rajang dengan tembakau iris atau TIS. Ia menyebut, tembakau rajang pada dasarnya tidak termasuk barang kena cukai. Meskipun demikian, ia menekankan penjual harus ekstra hati-hati.

“Perlu diketahui, TIS adalah tembakau yang siap dilinting, yang dikemas dalam penjualan eceran. Sepanjang dia belum penjualan eceran, dia tidak kena cukai. Berbeda dengan perhitungan cukai pada rokok, cukai pada TIS dihitung berdasarkan berat barang yang dijual,” ukar Arif.

Berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Republik Indonesia No.198/PMK.010/2020, TIS adalah produk dari daun tembakau yang dirajang, untuk dipakai, tanpa mengindahkan bahan pengganti atau bahan pembantu yang digunakan dalam pembuatannya.

Dijelaskannya, berbeda dengan cukai produk hasil tembakau lainnya, tarif cukai TIS terhitung cukup rendah. Cukai TIS paling tinggi dipatok di Rp 30 per gram untuk harga jual eceran per gram Rp 275.

“Itu paling murah sebetulnya, totalnya dari berat. Klembak kemenyan juga sama, itu paling murah,” jelas Arif.

Pihaknya menyadari bahwa banyak masyarakat yang sepenuhnya belum mengetahui aturan tersebut. Oleh karena itu, meskipun pemerintah telah menetapkan aturan terkait penjualan tembakau iris, penindakan atas pelanggaran itu belum dilakukannnya.

“Apabila dia (penjual) melanggar, dilihat dari kacamata hukum merupakan pelanggaran. Namun apa harus ditangkapi semua. Kami tidak melakukannya, harus dilihat dari berbagai sisi. Nanti akan ada sosialisasi, bisa saja mereka belum mengerti bahwa itu melanggar,” terangnya.

Arif menambahkan, bahwa kondisi pandemi Covid-19 menghambat proses sosialisasi aturan cukai TIS tersebut. Di Yogyakarta, misalnya, penjual dan pemilik toko tembakau telah didata dan diundang untuk diberikan edukasi dan sosialisasi.

“Itu sudah diberi tahu, nanti Solo rencana seperti itu. Kita tentunya mengupayakan cara-cara yang smooth,” tandasnya.(HS)

Share This

Ini Jawaban Bupati, Atas Nota Keuangan Rancangan Perubahan APBD 2021 Kabupaten Kendal

LazisNU dan Anggota DPRD, Salurkan Bantuan Kepada Warga Trompo Kendal