in

Harjanto Halim: “Tepo Seliro” Adalah Cerminan dari Nilai Pancasila dalam Perilaku Sehari-hari

Acara Talkshow bertajuk “Pancasila Dalam Tindakan Kolaboratif Inklusif” yang digelar secara live di Taman Budaya Jawa Tengah, dalam rangka Memperingati Hari Lahir Pancasila, Selasa (1/6/2021).

 

HALO SEMARANG – Tindakan atau perilaku yang bisa mencerminkan nilai-nilai Pancasila dalam aktivitas kehidupan sehari-hari di masyarakat, sebenarnya bisa diwujudkan dari hal-hal yang sederhana.

Menurut salah-satu tokoh keberagaman, Harjanto Kusuma Halim bahwa nilai-nilai Pancasila sebenarnya sudah ada sejak lama termasuk dalam masyarakat Jawa, yakni sikap toleransi atau rasa Tepo Seliro.

Saat ini, rasa Tepo Seliro ini sudah makin terkikis oleh gempuran budaya dari luar serta mulai lunturnya nilai-nilai kemanusiaan.

“Menurut saya, hal yang sederhana yang bisa kita lakukan adalah sangat penting dalam praktik dalam kehidupan sehari-hari, asas kepatutan. Serta harus dijunjung tinggi, artinya apa, kalau saya pergi ke luar kota kadang pagi-pagi sekali berangkatnya, sehingga saya buatkan sarapan dan kopi sendiri untuk sopir saya itu dulu,” ucap Halim, sapaan akrabnya saat menjadi nara sumber bersama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo dalam acara Talkshow secara live bertajuk “Pancasila dalam Tindakan Kolaboratif Inklusif” yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah, Selasa (1/6/2021).

Menurut Halim, Pancasila dalam tindakan, juga bisa ditunjukkan dengan apapun yang dihasilkan oleh anak bangsa harus didukung semuanya.

“Misalnya, saya dari etnis Tionghoa, dari kecil saat menonton pertandingan badminton kalau tim Indonesia melawan Tiongkok, saya selalu membela Indonesia. Karena, sontak muncul rasa kecintaan terhadap bangsa, di dalam diri saya,” imbuhnya.

Nara sumber lain, Prof Haryono dari BPIP mengatakan, meminjam istilah dari Bung Karno, dalam pidatonya 1 Juni 1945, bahwa Pancasila itu sebagai meja statis. Di mana, bisa menyatukan semua elemen bangsa tidak membedakan latar belakang, seperti Suku, Agama, dan Ras, maupun golongan tertentu.

“Kalau di dalam Islam, disebut Rahmatal Lilalamin, tidak menciptakan perdamaian untuk satu umat saja, tetapi menyatukan semua umat. Selain, Pancasila sebagai meja statis, tetapi juga sebagai bintang penuntun. Sehingga bisa menjadi bangsa yang merdeka bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Dan tidak mungkin kita menjadi bangsa yang merdeka dan adil makmur seperti yang diharapkan itu, kalau kita tidak menguasai teknologi,” paparnya.

Wali Kota Surakarta, Gibran Rakabuming Raka yang hadir juga mengatakan, berharap anak muda ikut menjadi menyebarkan berita-berita yang positif daripada berita maupun video yang tidak substansi dan mengarah ke yang negatif. Sebab, sekarang ini berita yang negatif akan lebih banyak dishare dibandingkan dengan berita prestasi suatu daerah.

“Misalnya Solo Peroleh WTP 11 kali, malah tidak ada yang nggagas. Tapi kalau berita yang miring cepat diviralkan,” ujarnya.

Hal ini yang akan menjadi Pekerjaan Rumah (PR) pihaknya. Bagaimana ke depan bisa menyebarkan prestasi suatu daerah yang punya prestasi menonjol.

“Juga aktif di media sosial kalau bisa berita menyenangkan ,prestasi Indonesia dilambungkan. Bukan viralkan yang tidak produktif dan video yang tidak substansi,” harapnya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo mengatakan, gagasan di luar Pancasila juga aktif disebarkan lewat berbagai media. Sehingga pihakya juga akan memenuhi semua ruang, seperti contoh atau tauladan yang baik bisa direkam dan disebarkan lewat medsos.

“Seperti membuat film, dengan narasi yang baik bisa dijadikan teladan untuk masyarakat,” kata Ganjar.(HS)

Share This

Hari Susu Nusantara, Jateng Tingkatkan Produksi Susu dan Kesejahteraan Peternak

Hari Lahir Pancasila, Bukti Kokohnya Indonesia