Hari Musik Nasional 2021, Musisi Siap Adaptasi Kondisi

Musisi Keroncong Kota Semarang merayakan Hari Musik Nasional 2021 di Taman Srigunting Kota Lama Semarang, Selasa (9/3/2021).

 

HALO SEMARANG – Musisi Indonesia merayakan Hari Musik Nasional setiap 9 Maret. Tahun ini, para pekerja dan penggiat musik merenungi industri musik pada momentum satu tahun pandemi.

Jika di tahun-tahun sebelumnya, musisi dan para pekerja industri musik merayakan hari musik dengan suka cita dan harapan akan perbaikan industri musik, perayaan Hari Musik Nasional 2021 dilaksanakan secara sederhana oleh sekelompok Musisi Keroncong Kota Semarang di Taman Srigunting kawasan Kota Lama Semarang.

Alasan dirayakannya di Taman Srigunting kawasan Kota Lama Semarang, karena tempat ini sudah menjadi salah satu objek yang terkenal, dan pusat tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun internasional.

Tokoh musisi Keroncong Kota Semarang, Marco Manardi mengatakan, selama satu tahun pandemi Covid-19, dia dan beberapa musisi lain di Kota Semarang tidak dapat berbuat atau berharap lebih untuk menyelenggarakan pertunjukan musik.

“Selama satu tahun ini ibaratnya lahan, dan tempat untuk melangsungkan pertunjukan sudah tidak ada,” ungkap Marco ditemui halosemarang.id, Selasa (9/2/2021).

Penggawa kelompok Congrock 17 itu menambahkan, sebelum pandemi Covid-19, pihaknya dapat tampil sebanyak empat kali dalam satu bulan.

“Congrock 17 misalnya, yang biasanya satu bulan bisa manggung tiga sampai empat kali, saat ini mati total. Virtual kita manfaatkan, tapi sejauh mana sponsor yang mau? Tidak ada sponsor yang mau melirik,” lanjut Marco.

Menurutnya, seniman dapat melakukan kreativitas dari pentas secara virtual. Akan tetapi, lanjut Marco, tidak ada pemasukan.

“Banyak temen-temen yang mengalami seperti itu. Tapi kami agak bisa bernapas lega meskipun sedikit. Kafe sudah mulai buka dengan pembatasan dan protokol kesehatan yang ketat. Tapi sejauh apa prospek bisnis kafe di masa seperti ini?,” tuturnya.

Marco menyatakan, bahwa seniman dapat beradaptasi pada pandemi Covid-19. Terkait dengan perizinan pertunjukan akan dipatuhinya. Menurutnya, perputaran ekonomi pada pertunjukan tidak boleh dianggap remeh.

“Kalau pun dengan harus jaga jarak, kami siap menggelar pertunjukan di lapangan dengan mengkotak-kotakkan tempat, atau sistem drive in untuk penonton,” tegas Marco.

Dikatakan Marco, pasar dan pusat perbelanjaan yang dibuka, seyogyanya juga diikuti dengan izin pertunjukan kesenian.

“Pasar, dan swalayan dibuka, kenapa pertunjukan ditutup. Penonton bayar tiket, tempat dibatasi itu lebih bisa diatur daripada mengatur masyarakat di pasar atau swalayan,” keluhnya.

Terlebih, para seniman telah melakukan ancang-ancang untuk beradaptasi pada situasi yang menuntut untuk lebih produktif, meskipun sulit tetap akan dilalui.

“Pandemi Covid-19 sudah ulang tahun, jadi sekarang seniman bisa memprediksi, sudah bisa menghitung kira-kira seperti apa persyaratan untuk sebuah pertunjukan, kami seniman siap untuk beradaptasi,” terang Marco.

Dirinya beranggapan pada momentum Hari Musik Nasional tahun ini sebagai langkah untuk melahirkan karya lebih baik lagi.

“Semoga musik nasional bisa lebih diterima bagi masyarakat, mari kita cintai musik dalam negeri, termasuk musik keroncong karena murni asli Indonesia,” tutupnya.

Senada, diungkapkan Mail pelaku keroncong Kota Semarang. Mail memaknai Hari Musik Nasional 2021 seperti air yang mengalir. Menurutnya, apapun harus dirayakan dengan melihat kondisinya.

“Mengalir sajalah, kalau dibikin pusing ya repot semua. Kenyataannya seperti ini ya dijalani. Kalau ada support lebih bagus,” ucapnya.

Dirinya berharap adanya dukungan dari pemerintah untuk para seniman agar dapat menyelenggarakan pertunjukan. Menurutnya, bergantung pada dunia seni sudah menjadi ladang pencahariannya.

“Kami itu ingin udara segar, mungkin dengan support dari pemerintah seperti apa caranya. Misalnya acara musik di rumah secara virtual saya siap beradaptasi,” tandas Mail.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.