Hari Arsitektur Nasional 2021, Arsitek Dituntut Menunjukkan Konsep Pembangunan Berkelanjutan

Foto ilustrasi: Gedung Marba di Kawasan Kota Lama Semarang.

 

HALO SEMARANG – Setiap tanggal 18 Maret selalu diperingati sebagai Hari Arsitektur Nasional. Peringatan ini tak lain sebagai ungkapan mengenang jasa para arsitek yang banyak berperan dalam pembangunan di Indonesia.

Dalam era saat ini, arsitek dituntut melahirkan karya desain bangunan yang berkonsep berkelanjutan.

Arsitek dituntut menunjukkan karakter bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman. Sebab, untuk mendukung upaya menghemat energi sebanyak mungkin.

Hal itu diungkapkan Kepala Program Studi S1 Arsitektur Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, Prof Dr Ir Erni Setyowati, MT kepada halosemarang.id melalui sambungan telepon, Kamis (18/3/2021).

“Pembangunan di Indonesia sudah cukup baik. Dari segi arsitektur yang perlu disoroti adalah pembangunan harus berkonsep berkelanjutan,” kata Erni.

Erni menyoroti pembangunan di Indonesia yang masih belum menerapkan konsep berkelanjutan. Belum lagi, lanjutnya, pemerintah menerapkan konsep bangunan hijau yang sesuai dengan pembangunan berkelanjutan.

“Bangunan berkelanjutan dikenal dengan bangunan yang menggunakan konsep bangunan hijau. Konsep ini tertuang dalam Peraturan Menteri PUPR No 02 Tahun 2015 tentang Bangunan Gedung Hijau,” terangnya.

Secara tegas, dirinya berharap calon arsitek dan arsitek yang sudah berprofesi untuk memahami konsep tersebut. Dirinya menyebutkan prinsip energi yaitu, energi listrik, energi air, dan energi penggunaan material bangunan itu sendiri.

Tidak hanya prinsip energi yang dia tekankan. Tahapan perencanaan, konstruksi, dan operasional juga termasuk yang harus diperhatikan.

“Arsitek Indonesia harus paham dengan konsep ini, karena dapat menghemat energi sebanyak mungkin,” kata Erni menegaskan.

Selain itu, menurutnya, arsitek dalam merancang bangunan sesuai iklim di Indonesia harus mengantisipasi radiasi, baik yang ditimbulkan oleh panas lingkungan maupun matahari. Jika bangunan tidak didesain secara hati-hati, maka akan menghasilkan radiasi.

“Kita hidup di daerah iklim tropis, dalam merancang bangunan harus mengantisipasi radiasi karena panas yang ditimbulkan oleh panas lingkungan maupun matahari dibandingkan dengan daerah yang beriklim non-tropis,” tutur Guru Besar Undip ini.

Lebih lanjut Erni menilai, pembangunan yang berkonsep bangunan hijau telah dilakukan dibeberapa kota di Indonesia. Di antaranya Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Semarang.

Dikatakannya, semua kembali ke lingkungan, arsitek diharapkan dapat memanfaatkan, mencermati, serta mengkritisi lingkungan yang terpuruk karena sesuatu hal.

“Kita memiliki ide sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungannya dengan membuat keramik ini yang dapat digunakan sebagai bahan bangunan,” ungkapnya.

Pada momentum Hari Arsitektur Nasional 2021, dirinya berharap dan mendorong arsitek di Indonesia untuk dapat merancang bangunan yang ramah lingkungan sesuai konsep pembangunan berkelanjutan, serta memiliki kelebihan terkait pemahaman budaya lokal.

“Saya mendorong arsitek menghasilkan desain bahan bangunan yang dapat dimanfaatkan menjaga lingkungan,” pungkas Erni.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.