in

Harga Kedelai Naik Saat PPKM, Ini Yang Dilakukan Perajin Tahu Di Kendal

Produksi tahu milik Muzawir, di Desa Blorok Kecamatan Brangsong, Kendal.

 

HALO KENDAL – Naiknya harga kedelai saat masa PPKM membuat para perajin tahu kelimpungan, karena tidak serta merta ikut menaikan harga tahu di tengah kondisi yang sulit akibat pandemi Covid-19.

Pandemi yang bersifat global, membuat harga kedelai, yang merupakan bahan pokok tahu ini melambung tinggi, dari semula Rp 7.500/kg menjadi Rp 11.000/kilogram.

Hal ini tentu sangat berdampak besar pada para perajin tahu di Kendal. Salah satunya dialami Muzawir (40), perajin tahu di Desa Blorok, Kecamatan Brangsong, Kabupaten Kendal.

Bagi dia, yang paling dipikirkan adalah agar usaha produksi tahunnya tetap betahan untuk keberlangsungan keluarga dan 18 karyawannya.

“Saya mencoba bertahan, dan berusaha jangan sampai ada satu pun karyawan yang diberhentikan,” ungkapnya kepada halosemarang.id, Sabtu (31/7/2021).

Apalagi, lanjut Muzawir, dengan menurunnya daya beli masyarakat, otomatis mengurangi produksi tahu, dari 40-50 drum per hari menjadi 35-45 drum per hari.

“Memang ada pengurangan produksi, cuma kami mengupayakan sedemikian rupa, karena kami secara pribadi maupun secara kekeluargaan bertanggung jawab masalah ekonomi yang ada pada karyawan kami. Jadi tidak ada pengurangan karyawan,” jelasnya.

Muzawir menjelaskan, dampak pandemi hingga ada kebijakan PPKM yang diperpanjang dengan level 4, membuat produksinya dan pelaku usaha pembuat tahu lain mengalami penurunan.

Saat ini ia hanya bisa mengolah kedelai sekitar 4-5 kuintal per hari, padahal ketika kondisi normal rata-rata 6-7 kuintal per hari.

“Atau mengalami penurunan sekitar 30-35 persen dari jumlah produksi sebelum pandemi,” ujarnya.

Hal itu, menurut Muzawir karena adanya penurunan permintaan, yang semula 40-50 drum per hari, menurun menjadi 35-45 per hari dengan ukuran yang lebih kecil.

“Sebelum pandemi Covid-19 kami membuat tahu dengan ukuran 14 kilogram per tong, kemudian karena kondisi sulit akibat pandemi, dikurangi menjadi 12 kilo per tong, dan juga mengurangi ukuran tahu,” imbuhnya.

Ia pun mengaku, pengurangan ukuran itu dilakukan untuk menyiasati usahanya agar tidak rugi.

Selain itu juga sedikit menaikkan harga tahu, yang semula Rp 155 ribu per drum, naik menjadi 180 ribu.

“Karena jika tidak ada pengurangan ukuran ya minusnya luar biasa, siapa pun tidak mampu,” jelasnya.

Muzawir pun memberikan pengertian kepada karyawan mengingat kondisi yang masih sulit, agar bisa memaklumi kondisi tempat kerjanya.

Demikian pula kepada para bakul dan pelanggan agar bisa memaklumi kenaikan harga tahu karena harga kedelai yang melonjak.

“Intinya, baik perajin, konsumen dan karyawan melakukan komunikasi dengan baik, supaya semua bisa bertahan. Meski hasilnya sedikit, karena masih bisa berjalan ini sudah luar biasa,” imbuhnya.

Muzawir yang sudah belasan tahun menekuni usaha pembuatan tahu di kampungnya berharap, pandemi Covid-19 dan PPKM segera berakhir, dan masyarakat bisa hidup normal kembali seperti biasa.(HS)

Share This

Korea Utara Mundur, AFC Drawing Ulang Kualifikasi AFC U-23 2022

Antisipasi Dortmund Memang Oke