Harga Kedelai Melambung, Perajin Tempe di Kendal Perkecil Ukuran Tempe

Salah satu perajin tempe di Desa Penaruban Weleri, Kendal.

 

HALO KENDAL – Harga kedelai di Kabupaten Kendal saat ini mencapai di atas Rp 9.500 per kilogram, dari harga sebelumnya yang hanya Rp 7.500 per kilogram.

Kenaikan harga bahan dasar untuk membuat tahu dan tempe yang cukup tinggi tersebut, secara perlahan sudah terjadi sejak Agustus dan puncaknya awal tahun 2021 ini.

Kenaikan harga kedelai ini pun berpengaruh pada industri kecil pembuatan tempe di Kabupaten Kendal.
Perajin tempe di Desa Penaruban Weleri, Tiban mengaku, naiknya harga kedelai yang cukup tinggi ini cukup memberatkan bagi perajin tempe.

Ia pun terpaksa harus mengurangi produksi tempe supaya tidak mengalami kerugian.

“Untuk menjaga pelanggan, terpaksa harus mengurangi ukuran tempe,” katanya, Kamis (7/1/2021).

Menurutnya, hal ini untuk menyiasati agar tidak sampai ada kenaikan harga tempe yang memberatkan pelanggan.

“Kalau harga dinaikkan, para pelanggan biasanya protes, maka solusinya dengan memperkecil ukuran supaya tidak rugi,” ungkap Tiban.

Ketua Primer Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Primkopti) Harum Kabupaten Kendal, Rivai menjelaskan, naiknya harga kedelai saat ini tidak mempengaruhi stok kedelai di Kabupaten Kendal.

“Primkopti telah menjaga stok kedelai tetap aman. Untuk harga pun pihak kami menjual di bawah harga pasar. Hal ini untuk membantu agar perajin tahu dan tempe tetap berproduksi,” jelasnya.

Rivai mengatakan, jika harga kedelai di pasaran rata-rata di atas Rp 9.500 per kilogram, maka Primkopti hanya menjual dengan harga Rp 9.100 per kilogram.

“Adanya kenaikan harga kedelai ini yang kena dampaknya ya perajin tahu dan tempe. Maka koperasi menekan harga seminim mungkin, supaya perajin tetap berproduksi,” katanya.

Menurut Rivai, penyebab kenaikan harga kedelai karena faktor dari negara-negara produsen kedelai.

“Stok kedelai di negara penghasil kedelai, seperti Amerika berkurang karena diborong oleh negara China,” terangnya.

Selain itu juga pengaruh dari cuaca La Nina yang menyebabkan panen mengalami penurunan.

Faktor lainnya, karena alur distribusi dari negara asal mengalami keterlambatan, akibat ada pandemi. Karena beberapa negara melakukan lockdown, sehingga barang tertahan sampai beberapa bulan.

“Kenaikan harga kedelai ini bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di negara lainnya,” imbuh Rivai.

Dia pun mengungkapkan, menyikapi harga kedelai yang cukup tinggi ini, pihaknya sudah melakukan pertemuan dengan pihak Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Koperasi dan Dinas Ketahanan Pangan untuk mencari solusi mengatasi harga kedelai yang cukup tinggi.

“Tujuannya untuk membantu para perajin tahu dan tempe supaya berproduksi dan tidak rugi. Hasil dari pembicaraan dengan pihak provinsi, segera dilakukan operasi pasar,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.