Harga Cabai Tembus Rp 100 ribu/Kilogram, Ini Kata Dinas Perdagangan Kota Semarang

Salah satu pedagang cabai di Pasar Mangkang melayani pembeli.

 

HALO SEMARANG – Harga kebutuhan pangan strategis, yaitu berupa cabai di pasar tradisional Kota Semarang saat ini mengalami kenaikan yang drastis hingga tembus Rp 100 ribu/kilogram. Kenaikan harga cabai sudah terasa sejak September-Oktober 2020 lalu, dan diprediksi akan terus naik hingga akhir Maret 2021.

Kenaikan harga cabai ini cukup lama, pada akhir bulan Desember 2020 lalu, harga cabai rawit merah sudah mencapai Rp 60 ribu/kg. Dan masih terus terjadi sampai bulan Januari-Februari 2021 atau menjelang Tahun Baru Imlek, harga cabai terus melambung yaitu sampai Rp 80 ribu/kg. Lalu, memasuki bulan Maret 2021, bahkan harga cabai rawit merah tembus 100 ribu/kg.

Seperti dari pantauan di Pasar Peterongan, Rabu (3/3/2021) kenaikan harga cabai terutama jenis cabai rawit merah melonjak menjadi Rp 100 ribu/kg dari harga sebelumnya Rp 85-90 ribu/kg.

Sedangkan untuk jenis cabai keriting merah sekarang menjadi Rp 50/kg dari harga sebelumnya Rp 40 ribu/kg. Untuk cabai rawit ijo harga sekarang menjadi Rp 40 ribu/kg yang sebelumnya harga Rp 35 ribu/kg. Begitu juga jenis cabai ijo teropong sekarang harga mencapai Rp 30 ribu/kg dari harga sebvelumnya Rp 18 ribu/kg.

Salah satu pedagang, Suprihatin mengatakan, kenaikan harga cabai ini sudah sejak satu pekan terakhir ini.

“Harga cabai sampai sekarang belum turun juga dari akhir tahun 2020 lalu yang cenderung naik terus. Dan sejak Imlek tahun 2021 ini masih bertahan terus mengalami kenaikan. Bahkan, sejak seminggu ini, kenaikan harganya melambung sampai Rp 100 ribu/kg. Kalau untuk bahan pangan lainnya saat ini masih stabil,” ujarnya.

Salah satu penjaga warung makan, Dewi (37) mengatakan, pihaknya terpaksa harus membeli cabai dengan harga mahal. Sebab, dalam setiap masakan bumbunya harus memakai cabai. Jadi mau tidak mau harus membeli cabai untuk berjualan. “Kalau tidak ada cabai tidak bisa berjualan. Sekarang, karena cabai mahal, biasanya saya campur dengan jenis cabai lainnya. Memang nanti, kualitas masakan biasanya pedas jadi kurang pedas,” katanya, Kamis (4/3/2021).

Sementara itu, menaggapi harga cabai di pasar tradisional saat ini yang tembus sampai 100 ribu/kg, Dinas Perdagangan Kota Semarang sebelumnya pun telah memperediksi akan terjadi hal yang sama seperti harga cabai yang juga tinggi. Seperti pada bulan Januari tahun 2020 lalu, hingga menjadi Rp 85 ribu/kg. Justru sekarang ini lebih tinggi lagi, hingga tembus menjadi Rp 100 ribu/kg.

Kabid Pengembangan Perdagangan dan Stabilitas Harga Dinas Perdagangan Kota Semarang, Sugeng Dilianto mengatakan, kenaikan cabai memang berawal sejak Pandemi Covid-19, atau awal Maret 2020. Di mana pada saat itu, rumah makan, restoran, cafe banyak yang tutup karena adanya pembatasan Kegiatan Masyarakat (PKM), yang membatasi jam operasional tempat usaha tersebut.

“Sehingga membuat permintaan cabai sangat sedikit, dan imbasnya petani bingung untuk menjual hasil produksinya. Padahal untuk menanam cabai butuh biaya tinggi, akibatnya gagal panen, petani rugi. Ditambah saat ini cuaca ekstrem membuat bibit cabai rawan rusak,” katanya, Kamis (4/3/2021).

Dia menambahkan, karena harganya sempat turun, membuat petani masih trauma untuk menanam cabai. Padahal, saat cafe dan restoran mulai buka, seiring dengan masa PKM mulai dilonggarkan dan permintaan cabai mulai tinggi, tidak diimbangi dengan produksi cabai. Karena ada sebagian petani yang beralih menanam komoditas lain selain cabai.

“Jadi pasokan cabai dari petani menipis, dan akhirnya membuat kelangkaan di pasaran saat permintaan tinggi,” imbuhnya.

Pihaknya memprediksi kenaikan harga cabai ini akan berlangsung hingga Minggu ketiga bulan Maret 2021. Akhir Maret atau April 2021 kita usahakan harga cabai akan turun.

“Kami sudah koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Tengah untuk monitoring ke pasar-pasar, terkait kenaikan harga cabai ini. Sekaligus mengajak pihak kepolisian baik dari polrestabes, dan polda yang nantinya bersama-sama juga ikut monitoring,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.