in

Hadiri Pelepasan Anak Pati Asuhan, Bupati Purbalingga Sebut Dampak Putus Sekolah

Silaturahmi dan Pelepasan Anak Asuh Panti Asuhan Mandhanisiwi PKU Muhammadiyah Purbalingga, Sabtu (11/6). (Foto : Purbalinggakab.go.id)

 

HALO PURBALINGGA – Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, menilai, penyebab utama anak putus sekolah di wilayahnya, bukan ekonomi, melainkan lingkungan.

Persoalan anak putus sekolah di wilayahnya itu, disampaikan Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, dalam Silaturahmi dan Pelepasan Anak Asuh Panti Asuhan Mandhanisiwi PKU Muhammadiyah Purbalingga, Sabtu (11/6).

Menurut dia, tingginya angka putus sekolah ini, memberikan dampak buruk, antara lain peningkatan angka perkawinan pada usia muda.

Adapun perkawinan di usia muda, juga menimbulkan berbagai dampak negatif, termasuk risiko kematian ibu, angka kematian bayi, dan bayi lahir stunting.

“Survei membuktikan, justru faktor lingkungan paling dominan terhadap kasus putus sekolah. Dan dampaknya akan muncul perkawinan dini dan berdampak pula pada angka kematian ibu, angka kematian bayi dan kasus stunting,” kata dia, seperti dirilis purbalinggakab.go.id.

Sementara itu terkait Silaturahmi dan Pelepasan Anak Asuh Panti Asuhan Mandhanisiwi PKU Muhammadiyah Purbalingga, Bupati Purbalingga, mengatakan ketika anak-anak selesai menjalani pengasuhan di Panti Asuhan Mandhanisiwi, hal itu bukan akhir dari segalanya.

Selesainya masa pengasuhan itu, merupakan permulaan untuk menyongsong masa depan.

“Saya pesan kepada anak-anak dan orangtua murid, hari ini bukan akhir dari segalanya, tetapi merupakan permulaan bagi anak kita, untuk menyongsong masa depan yang lebih gemilang. Saya mendorong orang tua dan anak-anak, untuk bisa terus melanjutkan jenjang pendidikan lebih tinggi,” kata Bupati Tiwi.

Anak-anak yang telah selesai masa asuhnya, merupakan generasi dan aset bangsa.

Dari 11 anak asuh yang telah selesai menjalani pengasuhan dan pendampingan di panti asuhan Mandhanisiwi, lima di antaranya telah diterima di Universitas Muhammadiyah Purworejo.

“Potensi generasi muda sangat luar biasa, dimana masa depan Indonesia ada di tangan generasi muda saat ini. Merekalah yang akan menentukan Indonesia di masa depan. Terlebih lima alumnus panti asuhan ini telah diterima menjadi mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Purworejo,” katanya.

Bupati juga berpesan, meskipun telah selesai menjadi anak asuh, mereka harus tetap menjalin silaturahmi dan tidak melupakan panti asuhan yang telah mendidiknya.

“Selamat kepada anak asuh yang telah selesai. Jalin terus silaturahmi dengan panti asuhan Mandhanisiwi. Jangan dilupakan meskipun kalian sudah berada di luar kota,” kata dia.

Sementara itu ketua pengurus Panti Asuhan Mandhanisiwi, Suparna mengungkapkan, lembaga sosial yang dipimpinnya menangani anak-anak penyandang sosial dengan segmen keterlantaran.

Kebanyakan anak asuh ditinggal orang tua, kurang kasih sayang, faktor ekonomi dan masalah keluarga pecah.

Panti Asuhan Mandhanisiwi didirikan tahun 1960 dan baru tahun 1963 memiliki gedung. Rencananya dalam waktu dekat, gedung itu akan direhab dan diganti dengan bangunan baru lantai dua, dengan anggaran senilai Rp 1,3 miliar.

“Aula panti rencananya akan direhab dan tingkat. Kebetulan semua panitia merupakan alumni panti dengan anggaran Rp. 1,3 miliar. Dan alumni ada yang jadi pemborong, ada yang nyumbang split secukupnya, ada yang nyumbang uang Rp 25 juta dan ada yang membantu semen,” kata Suparna. (HS-08).

88 Siswa SD Negeri 1 Krandegan Banjarnegara Ikuti Wisuda Khotmil Qur’an dan Pendalaman Al Kitab

Baru Dilantik, Pengurus Forki Batang Persiapkan Atlet ke Pra-Porprov Jateng