in

Hadapi Omicron, Kemenkes Imbau Pasien OTG Isolasi Mandiri

Siti Nadia Tarmidzi. (Foto : Kemkes.go.id)

 

HALO SEMARANG – Kementerian Kesehatan mengimbau agar pasien Covid-19 yang bergejala ringan dan tidak bergejala, untuk menjalani isolasi mandiri atau isolasi terpusat. Adapun rumah sakit, hanya untuk pasien bergejala berat dan kritis.

Imbauan itu disampaikan Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, berkaitan dengan peningkatan jumlah kasus Covid-19, terutama varian Omicron.

Dikatakan, dalam menghadapi penyebaran Omicron, pemerintah mempergencar upaya testing, tracing dan treatment (3T). Hingga Kamis (10/02/2022), pemerintah sudah melakukan tes terhadap sekitar 400 ribu spesimen perhari.

Dari testing yang gencar dilakukan, diketahui jumlah pasien Covid-19 terus meningkat. Kenaikan angka perawatan pasien ini, menurutnya memang harus dikontrol, agar layanan kesehatan masyarakat tidak terpengaruh secara berarti.

“Dengan begitu, skema mendorong masyarakat yang bergejala ringan atau tanpa gejala (OTG) untuk isolasi di rumah, menjadi strategi pilihan, agar pasien yang lebih membutuhkan, termasuk mereka yang bergejala berat dan kritis, dapat memperoleh perawatan intensif,” kata Siti Nadia Tarmizi, seperti dirilis Setkab.go.id, Sabtu (12/2/2022).

Selain mengalokasikan rumah sakit bagi mereka yang lebih membutuhkan layanan intensif, pemerintah juga terus mendorong program vaksinasi nasional.

Hingga 9 Februari 2022, Indonesia telah memiliki lebih dari 500 juta vaksin dan hingga 11 Februari 2022 pukul 18.00 WIB, total 187,94 juta (90,24 persen) jumlah masyarakat Indonesia telah divaksinasi dosis 1 dan 134,74 juta (64,70 persen) telah divaksinasi dosis 2.

Pemerintah pun mengimbau masyarakat terutama kelompok rentan untuk mengikuti program vaksinasi baik dosis primer maupun dosis lanjutan atau booster.

“Data Kemenkes periode 21 Januari – 8 Februari 2022 menunjukkan dari 487 pasien Covid-19 yang meninggal, 66 persen di antaranya belum divaksinasi lengkap. Kami terus mendorong masyarakat untuk mengikuti program vaksinasi yang telah disediakan secara gratis oleh pemerintah, termasuk vaksinasi booster, terutama bagi mereka yang lansia,” ujar Nadia.

Pemberian vaksin, imbuh Nadia, telah terbukti secara ilmiah mampu mengurangi risiko terburuk akibat terinfeksi Covid-19.

“Penelitian terbaru Kemenkes, Universitas Padjadjaran, dan Universitas Indonesia menunjukkan mereka yang sudah mendapatkan vaksin Sinovac dua dosis, pemberian vaksin booster setengah dosis mampu meningkatkan antibodi yang sebanding dengan dosis penuh,” imbuhnya.

Lebih lanjut Nadia menyampaikan, jarak waktu terbaik untuk mendapatkan dosis booster adalah minimal enam bulan setelah menerima vaksinasi kedua. Kemudian, apabila apabila seseorang mendapatkan booster di bulan ke 6-9, maka antibodi yang diproduksi bisa sampai 12,5 – 88,9 kali lipat, tergantung merek vaksin booster yang digunakan.

Menutup pernyataannya, Nadia kembali menegaskan bahwa vaksinasi bukan satu-satunya cara untuk mampu mengurangi dampak terburuk Covid-19.

“Cara terbaik adalah melengkapi vaksinasi bersama protokol kesehatan yang disiplin seperti memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Lewat semua cara pencegahan yang bisa dilakukan baik oleh pemerintah dan masyarakat, diharapkan penularan Covid-19 yang didominasi Omicron bisa segera dilalui dan dikendalikan secepatnya,” tandasnya. (HS-08)

Ditinggal Tidur, Ponsel Milik Warga Kabupaten Pekalongan Ini Dibawa Pencuri

Terjadi Lonjakan Covid-19, Mantan Bupati Kendal Mirna Sentil Kepala Daerah Sekarang