in

Hadapi Industri 4.0, FGD Penguatan Industri Hilir Digelar Di Kendal

Acara FGD Penguatan Industri Hilir di Kabupaten Kendal, Kamis (10/6/2021).

 

HALO KENDAL – aktivitas industri selalu membawa efek ganda terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, seperti melalui penyerapan tenaga kerja, peningkatan nilai tambah, dan penerimaan devisa.

Untuk itu, bersama pemangku kepentingan, para pelaku usaha tengah menyiapkan skema integrasi industri.

Skema ini dapat menumbuhkan industri di Kabupaten Kendal yang implikasinya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Hal tersebut disampaikan Direktur PT Terryham Proplas Indonesia, Syamsunar, selaku moderator dalam acara Focus Group Discussion, yang mengambil tema “Penguatan Industri Hilir di Kabupaten Kendal”, Kamis (10/6/2021).

Acara FGD tersebut menampilkan nara sumner Muhammad Taufik, selaku Direktur Kimia Hilir dan Farmasi, Ditjen IKFT Kementerian Perindustrian RI.

Selain itu nara sumber lain, Taufiek Bawazier, selaku Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian RI.

Menurut Syam, sapaan akrabnya, dalam skema tersebut, integrasi dimulai dari bahan baku, proses produksi, jasa terkait, hingga menjadi produk akhir.

“Bahkan sampai pada daur ulang produk industri tersebut. Skema ini penting bagi peningkatan daya saing industri ke depan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Kendal, Dico M Ganinduto dalam pemaparannya mengatakan, untuk implementasi, pemerintah akan mengurangi hambatan-hambatan di sektor perindustrian, sehingga mampu menciptakan iklim investasi yang kondusif di dalam Kendal.

“Salah satu target yang bisa didorong adalah pengembangan industri padat karya berorientasi ekspor di Kabupaten Kendal melalui Kawasan Industri,” tutur Dico.

Untuk memacu daya saing industri ini, pihaknya tengah menjalankan langkah strategis seperti peningkatkan kompetensi tenaga kerja, perlindungan pasar dalam negeri, pengembangan industri subtitusi impor, perluasan pasar ekspor, dan pemanfaatan lembaga pembiayaan ekspor.

Kemudian, industri padat karya berorientasi ekspor lainnya yang sedang didongkrak kinerjanya.

“Antara lain sektor industri pengolahan ikan dan rumput laut, industri aneka (mainan anak, alat pendidikan dan olahraga, optik, alat musik), industri kreatif (kerajinan, fashion, perhiasan), serta industri elektronik dan telematika (multimedia, software),” papar Dico.

Selanjutnya, juga ada industri furniture kayu dan rotan, serta industri makanan dan minuman (turunan CPO, olahan kopi, kakao).

Sedangkan, khusus industri kecil dan menengah (IKM), pihaknya akan meminta keringanan seperti insentif pajak dan diskon bea masuk untuk kebutuhan peralatan produksi. Misalnya, fasilitasi kemudahan impor tujuan ekspor.

“Kami juga tengah mendongkrak produktivitas dan daya saing IKM, karena merupakan tulang punggung perekonomian daerah, sekaligus sebagai sektor mayoritas dari seluruh populasi yang mampu menyerap banyak tenaga kerja,” ungkapnya.

Dengan terintegrasinya sektor industri, pemerintah berharap ke depan ada dampak positif terhadap kinerja manufaktur dan penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Kendal.

Menurutnya, program tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia dalam menghadapi era industri 4.0.

“Kami harapkan program ini akan memperbaiki keterampilan tenaga kerja di Kabupaten Kendal. Sehingga mereka punya daya saing lebih. Kami juga menginginkan mereka diperkenalkan dengan industri 4.0, sehingga ke depannya pekerja kita tidak gagap teknologi,” ungkap Dico.

Sementara itu, Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE), Kementerian Perindustrian, Taufiek Bawazier mengatakan, pihaknya telah mendirikan Pusat Inovasi dan Pengembangan SDM Industri (PIDI 4.0).

Hal ini untuk memberikan pengalaman langsung dan pendampingan kepada industri dalam penerapan industri 4.0 yang diharapkan mampu mengakselerasi pengembangan SDM industri.

Dijelaskan, PIDI 4.0 merupakan pusat pembelajaran manufaktur digital yang membantu perusahaan mengembangkan operasi, desain, dan produktivitas mereka di seluruh rantai nilai.

“PIDI 4.0 memiliki visi sebagai solusi satu atap penerapan industri 4.0 di Indonesia dan Jendela Indonesia 4.0 untuk dunia. Untuk itu, PIDI 4.0 akan dijalankan dengan konsep kemitraan dan kerja sama pemanfaatan antara pemerintah dan swasta,” jelasnya.

Oleh sebab itu, ini adalah bagian tugas dari Pemerintah Kabupaten, dalam mengadakan kegiatan yang membahas mengenai PIDI 4.0.

“Ini penting bagi seluruh stakeholder industri 4.0 untuk bergabung dan berkontribusi aktif dalam mengakselerasi transformasi Industri 4.0 di Kabupaten Kendal,” pungkas Taufiek.(HS)

Share This

UPGRIS Kenalkan NVivo 11 Untuk Analisis Kualitatif

Puas tapi Misi Belum Selesai