in

Gurihnya Kerupuk Tayamum Kaliwungu, Proses “Menggorengnya” Unik

Salah satu jenis kerupuk useg atau tayamun asal Sarirejo, Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

 

BAGI beberapa orang, ada sesuatu yang kurang bila bersantap tanpa ditemani kerupuk. Sebagian masyarakat Indonesia, kerupuk merupakan makanan gurih renyah yang seringkali menjadi pelengkap saat makan.

Apalagi, kerupuk ini sangat banyak macamnya. Baik dari segi rasa, bahan dasar, bentuk dan juga warna, serta cara pengolahannya.

Berbicara soal kerupuk, pernahkah menikmati kerupuk tayamun? Jenis kerupuk ini merupakan salah satu cemilan khas yang berasal dari daerah Kabupaten Kendal.

Kerupuk tayamum memiliki cita rasa yang sangat luar biasa lezat, dan membuat yang baru mencobanya ingin mencoba lagi dan lagi.

Dinamakan kerupuk tayamun, karena kerupuk ini dalam proses penggorengannya dengan menggunakan pasir atau istilahnya adalah di-sangan.

Pengrajin kerupuk tayamum atau goreng pasir di Desa Sarirejo, Kecamatan Kaliwungu, Kendal, Hj Istrikah mengatakan, karena proses penggorenganya tidak menggunakan minyak goreng tapi menggunakan pasir (wedhi) dan di useg-useg, maka nama kerupuk ini identik dengan wudhu tayamum. Maka banyak orang yang menyebutnya sebagai kerupuk tayamum.

“Selain terkenal dengan nama kerupuk tayamum, kerupuk ini juga punya nama lain kerupuk pasir atau kerupuk useg,” ungkapnya kepada halosemarang.id, Sabtu (3/7/2021).

Sering timbul pertanyaan mengapa digoreng menggunakan pasir bukan menggunakan minyak goreng?

Menurut Istrikah, mengingat harga minyak pernah sangat mahal, masyarakat Kendal zaman dulu lebih memilih menggoreng beberapa jenis makanan menggunakan pasir yang sudah dibersihkan. Hal ini untuk menggantikan minyak goreng, dan proses pengolahan seperti ini akrab disebut dengan cara disangan.

Kebiasaan sangan tersebut, saat ini masih banyak dilakukan oleh warga Kendal, khsusnya saat memasak kerupuk. Sebagaian warga mengaku jika proses sangan lebih sehat bagi tubuh manusia karena tak menggunakan minyak kelapa atau minyak sawit.

Desa Sarirejo adalah salah satu desa penghasil kerupuk tayamum. Produknya, bahkan tak hanya dipasarkan di Kendal. Krupuk tayamum sudah sangat akrab bagi warga sekitar Kendal, seperti Batang, Kota Semarang, Grobogan, Demak, dan Salatiga.

Banyak pengrajin di Desa Sarirejo memakai alat penggorengan menggunakan wajan atau bisa juga menggunakan alat berbentuk molen ukuran kecil.

“Kerupuk tayamum biasanya diberi pewarna yang terdiri dari empat warna, yaitu putih, merah, kuning dan hijau. Rasa yang ditawarkan ada dua macam, yaitu rasa bawang dan rasa udang,” kata Mashury, putra dari Istrikah.

Selain proses penggorengannya yang unik, ternyata kerupuk ini juga lebih sehat karena bebas kolesterol. Namun ada satu hal yang harus diperhatikan saat menikmati kerupuk ini, seringkali ada ‘bonus’ pasir atau kerikil kecil yang ‘menyelinap’ di antara kenikmatan kerupuk tayamum.

“Harga krupuk tayamum pun relatif murah, untuk yang jenis bibir atau batok mentah Rp 9.000/kilogram. Sedangkan untuk Krupuk mie mentah Rp 12.000/kilogram,” pungkas Mashury.(HS)

Share This

Ganjar: Semua Ibadah di Rumah, Tolong Jangan Diperdebatkan

Ganjar Minta Dirut RSUD Ashari Pemalang Perbaiki Pelayanan: Rumah Sakite Ojo Kemproh