in

Gulali, Jajanan Jadul Yang Tetap Digemari Generasi Milenial

Hendar (50), penjual gulali di Kota Semarang saat sedang menyiapkan pesanan.

 

KEMBANG Gula atau biasa disebut gulali adalah jajanan tradisional di Indonesia yang populer saat era 90an.

Namun hingga sekarang, makanan yang terbuat dari bahan baku gula dan berasa manis ini masih saja digemari dan diburu anak-anak zaman sekarang.

Tak hanya rasa yang menjadi daya tarik makanan ini, bentuknya yang dibentuk beraneka ragam juga menjadi pemikat anak-anak untuk membeli dan menyantap jajanan manis tersebut.

Namun sayang, di Kota Semarang jenis makanan ini bisa dikatakan sudah langka. Tak banyak penjual gulali yang memiliki keahlian khusus untuk membentuk gulali menjadi banyak ragam wujud yang menarik.

Hendar (50), salah satu penjual gulali di Kota Semarang menyebut, bentuk terompet, mangkok, dan balon adalah bentuk favorit anak-anak saat hendak mencicipi daganganya tersebut.

“Terfavorit gulali bikinan saya, kebanyakan pada minta dibikinkan terompet. Gulali yang saya bikin dijual Rp 2 ribu per tangkai gulali dari semua jenis bentuk. Tapi paling umum dibuat seperti rambut,” kata Hendar, Rabu (14/7/2021).

Ia menjual gulali mengendarai sepeda dengan terpasang tulisan “Jajanan Jadul” yang berarti jajanan zaman dulu.

Pria yang ditemui sedang keliling di wilayah Sarirejo, Kecamatan Semarang Timur itu menceritakan awal mula dirinya bisa sampai puluhan tahun berjualan makanan manis ini.

Pembuatan gulali ini berawal dari ilmu yang ia peroleh dari pamannya. Setelah itu, ia mulai berjualan saat masih bujangan.

“Saya memulai usaha gulali sejak tahun 1995. Paman saya awalnya jualan gulali dan saat itu saya diajarin oleh paman. Sampai akhirnya saya menekuni bisnis tersebut sampai sekarang,” kata Hendar.

Harga Gula

Hendar menjelaskan, dalam sehari, 2 kilogram gula dalam satu wajan ia pakai saat proses pembuatan gulali. Pria asal Tasikmalaya itu juga menerangkan, bahwa jajanan yang ia jual itu tak menggunakan bahan pengawet.

Namun, kata dia, saat kondisi pandemi seperti saat ini, dengan merelakan berjualan keliling dari kecamatan satu ke kecamatan lainnya, penjualan gulali perhari rata-rata hanya laku hanya 1 kilogram.

“Dulu, saya mangkal di sekolahan, namun semenjak pandemi ya menunggu anak-anak keluar dari rumah saja. Tapi minat anak ke gulali tetap masih ada,” imbuhnya.

Hal itu membuat Hendar mengalami penurunan omzet dalam usaha yang digeluti sejak dulu hingga sekarang. Bahkan, dirinya mengaku pemasukan jualannya tak bisa ditebak.

“Kadang ya sehari dapat Rp 150 ribu, kadang Rp 200 ribu. Soal kendala, jika bahan baku gula harga naik, tentu akan merepotkan. Apalagi harga gula cenderung mudah naik turun,” ungkapnya.

Sementara itu, salah seorang anak-anak bernama Nur Halim mengaku sangat menyukai jajan gulali yang dibuat Hendar. Saat membeli, ia selalu meminta dibikinkan gulali dalam bentuk terompet.

“Saya suka gulali karena manis apalagi dalam bentuk terompet soalnya bagus,” imbuhnya.(HS)

Share This

Penjualan Sapi Kurban Di Kendal Cenderung Meningkat

Masuk Minggu Ke 2 PPKM Darurat, Mobilitas Jateng Turun 21 Persen