Gugatan Potret Nyonya Meneer Tidak Diterima, Charles Ajukan Upaya Kasasi ke MA

Foto ilustrasi logo Nyonya Meneer.

 

HALO SEMARANG – Gugatan hak cipta penggunaan potret Nyonya Meneer yang diajukan Charles Saerang melawan PT Bhumi Empon Mustiko belum berakhir.

Setelah majelis hakim PN Semarang memutuskan untuk tidak menerima gugatan tersebut, Charles mengambil upaya hukum lanjutan berupa kasasi ke Mahkamah Agung.

Kuasa hukum Charles, Alvares Guarino menegaskan, kasasi penting diajukan untuk memperjuangkan hak-hak kliennya. Sebab, dia melihat banyak kejanggalan dalam putusan majelis hakim.

Disebutkan, salah satu pertimbangan hakim tidak menerima gugatan karena Charles dianggap sudah tidak memiliki legal standing.

Alasannya karena PT Perindustrian Nyonya Meneer yang dipimpin Charles sudah dinyatakan pailit.

“Padahal Pak Charles bertindak selaku ahli waris dari Nyonya Meneer, bukan sebagai mantan Dirut PT Perindustrian Nyonya Meneer. Ini kan beda konteks,” tegas Alvares, Kamis (29/10/2020).

Dia menjelaskan, pokok gugatan ini berkaitan dengan penggunaan potret Nyonya Meneer dalam produk minyak telon PT BEM.

Potret tersebut digunakan tanpa seizin Nyonya Meneer atau ahli warisnya. Karena tidak memiliki izin maka dianggap melanggar Undang-Undang Hak Cipta.

“Pak Charles ini selaku ahli waris yang keberatan. Secara moral bagaimana coba, potret neneknya dipakai dalam produk dagang untuk meraup keuntungan. Seharusnya ini ada royalti,” ungkap Alvares.

Dia menganggap, majelis hakim PN Semarang tak berani melakukan penemuan hukum (rechtvinding).

Padahal itu perlu dilakukan saat hakim mengalami keragu-raguan di dalam mempertimbangkan sebuah perkara.

Permohonan kasasi diajukan Charles pada 14 September 2020. Ada tiga pihak yang menjadi termohon.

Yakni Dirjen Hak Kekayaan Intelektual Kemenkumham RI, Badan Pengawas Obat dan Makanan BPOM, dan PT BEM.

Ada banyak hal yang termaktub dalam kasasi tersebut. Selain menegaskan kedudukan Charles sebagai ahli waris, juga membantah dalih-dalih yang dilontarkan pihak PT BEM sebelumnya.

Seperti dalih PT BEM yang mengklaim kepemilikan merek dagang Nyonya Meneer adalah satu kesatuan dengan potret Nyonya Meneer.

Menurut Alvares, protret merupakan suatu yang khas.

“Potret itu beda dengan foto biasa. Kalau foto bisa panorama, kendaraan, dan lainnya. Khusus potret objeknya sudah pasti orang. Harus ada izin. Undang-undang menyatakan begitu,” tandas Alvares.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.