in

Getaran dan Rob, Jadi Momok Warga Tambaklorok

Suasana Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara, Kota Semarang yang sebagian sudah tenggelam, Jumat (3/9/2021).

 

HALO SEMARANG – Daerah paling utara Kota Semarang, setiap malam dibayangi getaran bawah tanah. Malam semakin malam, di Kampung Tambaklorok, Kelurahan Tanjung Mas, Kecamatan Semarang Utara suasana sunyi tanpa ada aktivitas masyarakat, getaran itu semakin keras dirasakan oleh warga.

“Tiap malam selalu terasa getaran mesin. Dulu yang ditanam itu bukan mesin kecil, mesin yang ditanam besar-besar semua. Seingat saya, saat masih kecil, pembangunan itu sekitar 1980, satu mesin yang ditanam kurang lebih berukuran dua rumah ukuran normal. Jumlahnya banyak, mesin yang ditanam itu,” tutur Saadan, satu di antara warga Kampung Tambaklorok, Jumat (3/9/2021).

Ia mengatakan, getaran itu merupakan dampak sejumlah pembangunan proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indonesia Power, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG), Pelindo yang letaknya tak jauh dari kampungnya.

“Mungkin ini dampak dari Indonesia Power atau Pelindo. Dan itu hampir semua penghuni rumah di Tambaklorok, merasakan getaran itu,” tutur warga RT 02 RW 14 itu.

Saadan menceritakan dan menggambarkan getaran yang ia rasakan di rumahnya. Ia menunjukkan garis tepi pada kaca rumahnya yang sudah longgar menjadi parameter getaran.

“Dari malam sampai pagi itu terasa banget. Ibaratnya getaran itu mulai terasa saat orang-orang sudah tidak beraktivitas, itu terasa sekali getaran, terus bunyi mesin, terus kapal datang juga itu terasa,” kata warga kampung nelayan itu.

Sudah berpuluh tahun dirinya merasakan tiap malam, harapan kepada pemerintah sudah ia tanggalkan. Ia lebih berharap penanganan banjir rob yang belum ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Semarang.

“Yang lebih utama itu penanggulangan rob, supaya warga Tambaklorok bisa beraktivitas dengan lancar. Mulai aktivitas pendidikan, hingga aktivitas warga setiap hari bisa lancar,” paparnya.

Serupa disampaikan oleh Doni satu kampung dengan Saadan. Ia merasa pemerintah kurang perhatian terhadap kampung yang pernah dikunjungi Presiden Joko Widodo beberapa tahun silam itu. Harapan satu-satunya, lanjutnya, adalah solusi supaya banjir rob tidak menetap di kampungnya.

“Walaupun Presiden Joko Widodo sudah pernah ke sini, tapi kenyataannya perhatian masih kurang serius,” paparnya.(HS)

Share This

Audiensi Dengan Bupati, Pihak Yang Terlibat Panggung 17an Di Kendal Dijadikan Relawan Covid-19

Testing Covid-19 Kota Semarang Capai 6 Kali Lipat Standar WHO