in

Gerakan Jateng Di Rumah Saja Sebagai Upaya Menekan Penyebaran Covid-19

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichadl dok/ Instagram @ngainirrichadl.

 

HALO SEMARANG – Gerakan Jateng Di Rumah Saja tinggal beberapa hari lagi akan berlangsung di Jawa Tengah. Rencana itu menuai pro dan kontra dari seluruh elemen masyarakat.

Anggota Komisi B DPRD Jateng, Muhammad Ngainirrichadl juga angkat bicara. Richadl menanggapi rencana yang akan berlangsung pada Sabtu-Minggu (6-7/2/2021).

Richadl menilai gerakan ini adalah sebagai upaya untuk menekan angka penularan serta penyebaran Covid-19.

“Pada prinsipnya segala upaya untuk mencegah penyebaran covid saya setuju,” paparnya ketika dihubungi halosemarang.id melalui pesan WhatsApp, Kamis (4/2/2021).

Segala upaya memutus mata rantai penyebaran virus yang hampir satu tahun ini menjadi pandemi adalah hal yang perlu didukung dengan maksimal. Dia setuju dengan upaya-upaya tersebut.

Namun demikian, dia juga menggarisbawahi adanya masyarakat yang mendapatkan penghasilan dari kerja harian. Baginya pemerintah harus memikirkan masyarakat yang tidak mendapatkan penghasilan jika tidak bekerja.

“Namun perlu diingat bahwa banyak masyarakat yang mengandalkan hasil dari kerja harian, kalau tidak kerja tidak ada penghasilan. Nah ini yang menurut saya harus diperhatikan serius, andai dua hari tak kerja maka perlu dua hari untuk dapat uang dua kali lipat agar bisa bertahan dalam dua hari tak kerja,” ucapnya.

Di situasi pandemi Covid-19 yang menurutnya berat bagi segala sektor. Dia menyebutkan sektor ekonomi mikro yang berada di titik paling berat.

“Memang berat masa pandemi ini, terutama di para pelaku ekonomi mikro,” tandasnya.

Solusi yang ditawarkannya yaitu mengurangi hari berlangsungnya gerakan tersebut menjadi satu hari saja.

“Jangan sampai kebijakan itu berdampak pada adanya kelaparan di Jawa Tengah. Oleh karenanya, kalau mau dicoba jangan dua hari, cukup satu hari saja,” pungkasnya.

Edy Geol, pelaku usaha mikro di komplek Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) Semarang menuturkan, dia sepakat dengan gerakan tersebut. Namun dengan syarat perlu adanya bantuan yang diberikan kepada masyarakat yang terdampak seperti dirinya.

“Sebenarnya tidak setuju dengan dua hari di rumah saja, tapi berbeda jika dari pemerintah ada bantuan saya setuju untuk meringankan beban. Dan saya menjadi setuju karena ini adalah imbauan dari pemerintah,” katanya.

Edy menambahkan, kesadaran masyarakat selama ini masih rendah dalam menerapkan protokol kesehatan. Menurutnya, kesadaran akan protokol kesehatan harus diterapkan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19.

“Selama tidak ada kesadaran masyarakat menerapkan protokol kesehatan, bagaimana Covid-19 mereda?,” imbuhnya.

Perlu diketahui, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo meluncurkan gerakan Jateng Di Rumah Saja. Gerakan yang dicanangkan oleh Ganjar itu merupakan ikhtiar bersama untuk memutus dan menekan penyebaran Covid-19.(HS)

Share This

Tak Lagi Banjir, Kawasan Tanah Mas Semarang Bisa Jadi Contoh Penanganan Persoalan Pesisir

Tak Ada Hukuman Pelanggaran Jateng di Rumah Saja, Ganjar: Mari Heningkan Cipta