in

Generasi Milenial di Jepara Diharapkan Jadi Agen Keberagaman

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Jepara, Dwi Riyanto menyerahkan wayang kepada Dalang Ki Sugiharto, selanjutnya untuk dipentaskan dalam Camp Lintas Agama di lapangan Suwaluh, Desa Plajan Kecamatan Pakisaji. (Foto : Jepara.go.id)

 

HALO JEPARA – Generasi milenial harus dapat saling menjaga toleransi antarumat beragama. Hal ini karena keberagaman merupakan keniscayaan yang dapat membuat hidup lebih berwarna dan penuh dinamika.

Hal tersebut disampaikan Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Jepara, Dwi Riyanto saat mewakili Bupati Jepara Dian Kristiandi dalam acara Camp Lintas Agama, di lapangan Suwaluh, Desa Plajan Kecamatan Pakisaji, belum lama.

Camp Lintas Agama, diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara. Kegiatan ini berlangsung mulai 18 sampai 20 Februari.

Acara tersebut dihadiri Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Zamroni Lestiaza; Kabag Kesra Setda, Agus Bambang Lelono; Joko Malis mewakili Petinggi Plajan; Ketua Pepadi (Persatuan Pedalangan Indonesia) Hendroyono; tokoh agama; dan tokoh masyarakat.

Dalam sambutannya, Dwi Riyanto mengatakan generasi milenial harus menjaga toleransi antarumat beragama. Menurutnya, ini seiring telah ditetapkannya kabupaten Jepara sebagai kabupaten kerukunan.

Oleh karena itu, perlu gerakan bersama agar tercipta toleransi dan harmoni demi terwujudnya kerukunan umat beragama. Sehingga menjadi modal dasar dan bekal bagi generasi penerus, dan dapat menjadi benteng yang kuat bagi pertahanan nasional.

“Kita harus saling menjaga toleransi dan merawat kebhinekaan yang ada. Dan ini harus kita tanamkan kepada generasi penerus bangsa,”katanya.

Lanjut Dwi Riyanto, ada tiga faktor penting dalam menjaga marwah, agar perbedaan agama tidak menjadi perpecahan. Ketiga faktor tersebut meliputi kerukunan antarumat beragama, kerukunan intraumat beragama, serta kerukunan umat beragama dengan pemerintah.

Seperti diibaratkan sebuah bangunan. Indonesia adalah rumah bersama. Karena di dalamnya terdapat suku agama, ras, budaya, keyakinan, etnis, dan lainnya.

“Ini tantangan yang harus kita jawab bersama. Dalam kondisi apapun, merajut kembali bangsa ini suatu keharusan. Agar tidak mudah dirongrong pihak yang tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Sementara itu, Gubernur BEM FTIK, Yuyun Fitriah mengungkapkan, pendidikan toleransi sejatinya untuk dipraktikkan dalam proses pembelajaran, dan menjadi budaya peserta didik lintas agama di lingkungan sekolah.

Dia juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, sehingga Camp Lintas Agama berjalan lancar.

Acara tersebut dikemas dalam pergelaran wayang kulit, menampilkan Dalang Ki Nurwito dari Karanggondang dan Ki Sugiharto dari Ngasem Batealit. Dengan lakon “Semar Mbangun Kahyangan”, yang berarti membangun peradaban yang damai dalam keberagaman.

Pada kesempatan itu, juga diserahkan tokoh lakon wayang dari Dwi Riyanto kepada Dalang Ki Sugiharto, selanjutnya untuk dipentaskan. (HS-08)

BPNT 2022 Disalurkan lewat Pos Dalam Bentuk Uang, Bupati Blora Minta untuk Membeli Pangan

Bertahap, Pelaku Seni di Kudus Perkenalkan Tari Kretek