in

Gemintang Akrabkan Pola Hidup Vegan di Kota Semarang

Gemintang Dhewandrie (24) pemilik Plant Dish lapak kuliner berbasis tanaman (vegan) di Kota Semarang.

 

KRISIS kesehatan global yang sekarang ini masih belum berakhir, menjadikan mayoritas orang mengubah kebiasaan yang mengutamakan kesehatan.

Sebagian orang memilih mengubah kebiasaan lama dengan menerapkan gaya hidup sehat serta menjaga pola makan. Vegan atau vegetarian dipilih sebagian masyarakat untuk menjadi alternatif guna menjaga kesehatan.

Pada dasarnya, vegan adalah pola makan yang menghindari daging beserta turunannya. Orang yang beralih ke vegan, memiliki alternatif lain untuk memenuhi kebutuhan protein.

Salah satunya dilakukan perempuan belia di Kota Semarang, yang menawarkan santapan yang dikenal dengan istilah vega itu. Gemintang Dhewandrie mencoba memberikan hal baru dalam dunia kuliner tanpa embel-embel daging.

Berawal dari penyakit yang kerap menyambangi dirinya, ia mencoba perlahan menikmati makanan dari bahan serba nabati. Gemintang mulai merasakan perbedaan dan beradaptasi hingga penyakit tersebut terusir dari tubuhnya.

Terdapat faktor dunia hiburan yang juga mempengaruhinya untuk terjun menjauhi daging. Sebuah film dokumenter berjudul “The Game Changer” menguatkan dirinya untuk mengikuti pola makan berbasis tanaman.

“Jadi sebelumnya saya agak gampang capek, pusing, meriang dan alergi susu. Tidak sengaja saya nonton film dokumenter tentang vegan judulnya ‘The Game Changer’. Saya bisa menyimpulkan orang beralih ke vegan lebih sehat dan menjadi produktif,” ungkap Gemintang saat dihubungi halosemarang.id, Rabu (21/7/2021).

Terlepas dari sebuah film dokumenter itu, Gemintang menjadi satu-satunya orang di keluarganya yang berpola makan beda. Ia merasakan tidak mudah, namun lambat laun toleransi tumbuh di keluarganya.

“Hanya saya yang vegan. Emang cukup sulit karena sehari-hari sudah ketergantungan pada protein dari hewani. Sementara vegan makannya tahu, tempe kalau nggak jamur. Tapi saya merasa lebih enak di badan, jarang pusing dan gatal-gatal hilang,” imbuh Gemintang yang serius menggeluti dunia bisnis itu.

Kemudian, pada bulan Februari yang lalu, ia membulatkan tekad mendirikan usaha kuliner berbasis tanaman. Ia menamai dengan sebutan Plant Dish.

Menumpang di sudut sebuah restoran Jalan Ahmad Yani, Kota Semarang, selama lima bulan ia menyapa kaum vegan dan vegetarian di Kota Semarang.

“Pertamanya saya jualan dua minggu sekali di bazaar restoran Eastmen Coffee House. Banyak peminatnya, ada repurchase datang lagi membeli, lalu saya nambah menu baru lagi,” ujar Gemintang yang juga melayani pemesanan melalui online ini.

Ia menyebut, beberapa pelanggannya memiliki latar belakang yang beraneka ragam. Ada yang murni beralih menjadi vegan karena kesehatan maupun sayang dengan binatang.

“Ada yang beralih ke vegan karena keinginan, ada juga beralih ke vegan karena penyakit. Tidak 100 persen juga ada yang bisa beralih ke vegan,” ucap perempuan berusia 24 tahun ini.

Alumnus Fakultas Psikologi Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta ini juga menyarankan pelanggannya konsultasi kepada dokter terlebih dahulu sebelum beralih meninggalkan makanan berbau hewani.

“Untuk memenuhi gizi saya sarankan untuk dapat konsultasi ke dokter terlebih dulu,” katanya dengan ramah.

Supaya tidak sepenuhnya terlihat tanaman, ia menyuguhkan menunya dengan menjiplak bentuk makanan dari olahan daging. Harga yang ditawarkannya masih tergolong ramah terhadap kantong.

“Mulai dari vegan bakmi, dan vegan nasi campur Rp 20 ribu, vegan ayam woku Rp 40 ribu untuk tiap 300 gram, dan, Rp 65 ribu untuk vegan rendang per 400 gram,” paparnya yang juga menyediakan olahan vegan frozen food untuk luar kota ini.(HS)

Share This

PPKM Diperpanjang, Ganjar Pastikan Bantuan Segera Tersalurkan

Kurangi Penggunaan Plastik, Pembagian Daging Kurban di Kangkung Dibungkus Daun