Gemaku Kutuk Tudingan Radikal terhadap Din Syamsuddin

Kristan/dok.

 

HALO SPORT – Generasi Muda Khonghucu Indonesia (Gemaku) mengutuk keras tudingan yang menyebut tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin adalah tokoh radikal.

Ketua Gemaku Kristan menyatakan narasi isu yang menyebut Din Syamsuddin adalah tokoh radikal memiliki makna negatif, dan sebuah narasi yang sangat tak berdasar.

Menurut dia, Din Syamsuddin merupakan tokoh moderasi beragama yang sudah lama bersama-sama dengan para tokoh lintas agama memperjuangkan Kebhinekaan dan Pancasila.

- Advertisement -

‘’Sebagai sebuah bangsa janganlah kita mudah menghakimi sesama anak bangsa hanya karena sebuah perbedaan pemikiran,’’ ungkap Kristan.

Pihaknya mengutuk keras terhadap tuduhan yang diarahkan kepada tokoh muslim itu.

‘’Gemaku berharap penegak hukum mengorek informasi lebih dalam siapa sesungguhnya orang-orang yang ada di balik hal-hal seperti itu,’’ tambahnya.

Pendapat senada dilontarkan Alim Sugiantoro, tokoh Khonghucu dari Kelenteng Kwan Sing Bio Tuban, Jatim. Alim berharap orang tidak mudah menghakimi orang lain dengan cara sewenang-wenang.

‘’Ingat, kita semua bersaudara. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa sangat penting pada masa pandemi seperti sekarang,’’ tutur pengusaha properti ini.

Melihat track record tokoh sekelas Din, lanjut Kristan, tak mungkin ingin mengkhianati negara dengan dalih radikal. Ada grand design di balik tuduhan itu dengan tujuan untuk memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa.

‘’Pemerintah dan elemen masyarakat harus bisa membongkar masalah ini dengan tuntas. Saat ini ada penilaian pemerintah anti terhadap demokrasi dan perbedaan pendapat harus dilawan dengan bukti nyata,’’ paparnya.

Dalam pandangan Gemaku, Din merupakan tokoh lintas agama yang berjuang untuk semangat perdamaian dan kebhinekaan. Dia pernah menjadi utusan khusus Presiden untuk dialog dan kerja sama antaragama dan peradaban.

Kristan menjelaskan adanya perbedaan pandangan antara Din dan pemerintah dalam situasi demokrasi merupakan sebuah dinamika yang wajar. Yang penting, semua pihak harus bisa menyelesaikannya secara bijaksana dan dengan cara kekeluargaan.

‘’Gemaku merasa bersedih jika para tokoh bangsa saling serang. Setiap elemen bangsa seharusnya berintrospeksi diri dengan arif dan bijaksana di tengah mudahnya disintegrasi bangsa akibat proxy war di era digital,’’ ujarnya.

Kristan menegaskan perbedaan pendapat hendaknya disikapi sebagai bagian demokrasi dan keniscayaan. Cara-cara yang bisa membuat disintegrasi bangsa hendaknya direduksi sekecil-kecilnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.