Gelar World Class Professor, Kemdikbud Dorong Peningkatan Kualitas Publikasi dan Pengembangan Teknologi

Foto : kemdikbud.go.id

 

HALO SEMARANG – Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kembali menggelar kegiatan World Class Professor (WCP). Kegiatan ini untuk mendorong peningkatan kualitas publikasi internasional.

Ajang yang digelar semenjak tahun 2017 ini, bertujuan untuk memberikan kesempatan bagi para dosen perguruan tinggi dalam negeri, untuk berkolaborasi dan berinteraksi dengan profesor berkelas dunia.

Adapun pada 2020 ini, program WCP juga digelar dalam rangka mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka, meliputi meningkatkan kinerja Tri Dharma Perguruan Tinggi dan daya saing Sumber Daya Manusia di perguruan tinggi, serta meningkatkan peringkat perguruan tinggi menuju QS WUR 100 sampai dengan 500 terbaik dunia.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Nizam, mengungkapkan bahwa saat ini publikasi Indonesia sudah melebihi negara-negara di ASEAN, akan tetapi secara kualitas perlu dioptimalkan kembali.

Pada Webinar Annual World Class Professor Tahun 2020 secara virtual, belum lama, dia mengatakan di Indonesia terdapat lebih dari 300.000 dosen dan terdapat 452 publikasi sudah dihasilkan. “Hal tersebut perlu ditingkatkan kembali,” ungkapnya, seperti dirilis Kemdikbud.go.id

Untuk itu, Nizam menilai program WCP ini sangat baik karena terdapat interaksi antara para profesor dan pakar di Indonesia, dengan mitranya di tingkat internasional, baik diaspora maupun profesor di berbagai negara untuk berkolaborasi, berkreasi, berinovasi dan melakukan penelitian -penelitian dengan topik yang relevan dengan kebutuhan riset di Indonesia.

Program WCP ini menjadi salah satu upaya untuk bisa meningkatkan kualitas publikasi dari para peneliti di Indonesia.

“Meningkatkan mutu ini menjadi tantangan utama dan menjadi sangat penting, untuk bisa meningkatkan publikasi Internasional kita. Saya berharap melalui kolaborasi antarprofesor dari Indonesia dan dari luar negeri, bisa membina para lektor kepala yang akan berkarir meningkatkan kepangkatannya melalui pembinaan dari WCP ini,” harap Nizam.

Lebih lanjut, Nizam menjelaskan selama riset di perguruan tinggi berjalan sendiri maka akan sangat sulit untuk menghilirkan karya-karya hasil penemuannya.

Oleh karena itu riset yang ingin menghilir harus bermitra dengan industri. Hal tersebut dikarenakan relevansi dari riset akan nyata dan lebih cepat untuk masuk ke pasar, menggerakkan industri dan meningkatkan produktivitas nasional.

Hal tersebut merupakan bagian dari indikator kinerja utama perguruan tinggi nomor 5 mengenai seberapa banyak karya-karya dari perguruan tinggi dimanfaatkan oleh industri dan sebaliknya masalah-masalah industri diselesaikan oleh perguruan tinggi.

Kegiatan tersebut harus bermuara pada mahasiswa. Bagaimana mahasiswa tersebut terlibat dari riset-riset dan pengembangan dalam penelitian yang dilakukan dosen.

“Output utama perguruan tinggi adalah mendidik dan menyiapkan sumber daya manusia unggul. Ketika kita menciptakan inovasi, dan teknologi, disana mahasiswa terlibat sehingga mereka menjadi kreator-kreator ilmu pengetahuan dan teknologi kedepan,” kata dia.

Direktur Sumber Daya Ditjen Dikti, Sofwan Effendi, menjelaskan bahwa Program World Class Professor ini sudah dilaksanakan sejak 2017 dan sudah menghasilkan joint publication di jurnal internasional bereputasi, minimal dalam status under review, serta menjadikan pengusul sebagai first author, sedangkan mitra kerja dari WCP sebagai co-authors.

“Sejak 2017 luaran yang sudah mencapai published pada jurnal internasional bereputasi Q1 dan Q2 sebanyak 370 artikel. Sementara yang masih dalam posisi under review, sebanyak 32 artikel, beberapa di antaranya masih dalam posisi accepted dan submitted sebanyak 34 artikel, di mana posisi ini akan terus berubah ke posisi di atasnya yaitu under review atau published,“ ujar Sofwan.

Selain joint publication, WCP juga menghasilkan luaran lain yaitu dokumen pengembangan program capacity building, double degree, joint degree, pengembangan kurikulum, atau mekanisme transfer kredit dalam rangka mendukung akreditasi perguruan tinggi secara internasional atau akreditasi prodi internasional.

Selain itu, terdapat pelaksanaan guest lecturer dari WCP dan pelaksanaan joint supervision atau external examinator dalam program S3 double degree untuk perguruan tinggi dalam negeri. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.