in

Gelar Pelatihan Ilmu Falak, UIN Walisongo Interpretasi Teori dan Praktik dengan Al-Murobba’

Para peserta sedang melakukan praktik dengan menggunakan alat al-Mrobba’, Minggu (29/8/2021).

 

HALO SEMARANG – UIN Walisongo Semarang gelar pelatihan Ilmu Falak di Pondok Pesantren Al-Firdaus YPMI Semarang dengan media ajar alat al-Murobba’, Minggu (29/8/2021).

Dosen Ilmu Falak UIN Walisongo, M Ihtirozun Ni’am mengatakan, bahwa Ilmu Falak merupakan salah satu ilmu yang penting untuk dikaji karena berkaitan langsung dengan masalah ibadah, mulai dari penentuan arah kiblat, waktu salat, waktu berpuasa hingga waktu melakukan salat sunnah gerhana.

“Pelatihan ini, peserta tidak hanya kita suguhi perihal perhitungan-perhitungan dalam ilmu falak, namun juga kita ajak praktik di lapangan, pengambilan data di lapangan, dan melihat fenomena-fenomena alam di lapangan. Sehingga kajian ilmu falak ini tidak terkesan monoton dan terkesan lebih menarik karena peserta bisa membayangkan, mengilustrasikan, dan mendeskripsikan lebih real benda-benda langit yang sedang dibicarakan atau diamati. Misalnya dalam penentuan nilai kemiringan Matahari (mail as-syams/ Deklinasi Matahari),” terang Ni’am sebagai pembicara.

Tidak hanya itu, ia menjelaskan, para peserta juga diajari untuk mengetahui nilai perata waktu, lintang tempat, bujur tempat, waktu hakiki, arah mata angin sejati serta arah kiblat dengan media al-Murobba’.

“Sehingga adanya praktik di lapangan itu, peserta menjadi lebih tertarik dan semangat dalam mempelajari ilmu falak, selain juga mendapatkan pengalaman yang real saat pengamatan terkait teori yang sedang dikaji,” imbuh dosen yang membuat alat al-Murobba’ ini.

Serupa dengan Ni’am, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Firdaus YPMI Semarang, KH Ahmad Ali Munir menyebut, ilmu falak merupakan ilmu yang penting dan perlu untuk dipelajari.

“Imam Ghozali saja dalam kitab Ihya’ Ulumuddin memasukkan arah kiblat dan waktu salat ini ke dalam salah satu dari adab as-safar (adab bepergian). Ini menunjukkan pentingnya mengkaji ilmu ini, karena salat di manapun dan kapan pun harus tetap ditunaikan, sehingga hal-hal yang berkaitan dengannya harus juga dipersiapkan,” tutur Munir.

Munir menyampaikan, tak jarang pentingnya ilmu ini tidak dibarengi dengan semangat dan keseriusan dalam mengkajinya. Di beberapa pondok pesantren misalnya, ilmu falak terkadang dianggap sebagai momok bagi para santri.

Banyak santri, lanjutnya, yang baru mendengar kata falak saja sudah pesimistis, karena mereka membayangkan angka-angka, dan perhitungan-perhitungan mendetail, sebuah kultur ilmu eksakta yang agak berbeda dengan kultur ilmu sosial humaniora.

“Mereka melihat tidak ada hal yang menarik di dalamnya (ilmu falak). Mungkin ini akan berbeda ketika kajian falak ditampilkan tidak hanya melulu masalah menghitung tapi juga melakukan observasi, pengamatan-pengamatan yang menarik tentang benda langit dan fenomena-fenomena lainnya,” ujarnya.

Ulin, satu di antara peserta pelatihan mengatakan, dengan adanya pelatihan tersebut, dirinya merasa terbantu dan menjadi motivasi untuk memperdalami ilmu falak.

“Saya bersyukur bisa mengikuti program pelatihan ini. Hal-hal yang sebelumnya saya anggap sulit dan belum saya pahami, dengan adanya pengintegrasian antara teori dan praktik ini Alhamdulillah bisa terpecahkan. Pada akhirnya saya tahu, konstruksi berpikir untuk mengidentifikasi deklinasi Matahari, arah mata angin sejati, arah kiblat, dan yang lainnya,” katanya.

Hal yang sama dikatakan oleh seorang peserta lain, Lailatus Shofiyah. Ia berharap ada pelatihan yang kontinyu. Menurutnya, pelatihan yang digelar ini memiliki nilai manfaat yang tinggi.

“Semoga ada sesi dua lanjutan dari pelatihan ini. Saya merasakan kegiatan ini mempunyai banyak manfaat terutama untuk membangkitkan gairah saya dalam mengkaji ilmu falak,” harapnya.(HS)

Share This

Slamet Guru Ngaji di Tejorejo Kendal, Menjadi Penjahit Keliling Untuk Mencukupi Kebutuhan Keluarga

PTM Terbatas Digelar Besok, Orang Tua Peserta Didik Buru Keperluan Sekolah