in

Gagal Lolos PPDB, Psikolog: Picu Siswa Alami Gangguan Psikologis

Psikolog Unika Soegijapranata, Dr. Christin Wibhowo, M.Si.

HALO SEMARANG – Dalam pelaksanaan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) Kota Semarang tahun ajaran 2024/2025, banyak menimbulkan ketidakpuasan bagi calon siswa dan orangtuanya. Terutama yang gagal untuk melanjutkan atau menyekolahkan anaknya ke sekolah pilihan, baik di tingkat SD, SMP maupun SMA negeri.

Mereka yang tertolak sistem PPDB karena persyaratan yang diminta dari sekolah tidak terpenuhi, baik untuk lewat jalur prestasi, zonasi maupun afirmasi, dinilai bisa terdampak psikologisnya. Karena sudah berusaha keras dan melewati sejumlah tahapan seleksi, namun mereka pada akhirnya tetap gagal masuk ke sekolah pilihan yang dicita-citakan.

Menurut Psikolog dari Unika Soegijapranata, Dr. Christin Wibhowo, M.Si, menjelaskan, bahwa dampak tidak lolos PPDB bagi calon siswa yaitu mereka akan rentan mengalami gangguan psikologis/kejiwaan. Sebab di dalam setiap diri anak, menururnya memiliki dua faktor yang dapat mempengaruhi tingkat stres yakni faktor diatesis dan stressor.

“Misalnya, anak jadi cenderung untuk mengurung diri sendiri di kamar, cemberut, dan lemas atau kurang bersemangat. Ini kuat diperingaruhi oleh diatesis, karena faktor keturunan, biologi, kerentanan/bawaan. Jika stres yang dipicu oleh diatesis ini pengelolaan stressornya (Coping) bagus, maka tidak akan sampai munculnya gangguan kejiwaaan pada diri anak,” terangnya, Kamis (11/7/2024).

Dijelaskan, diperlukan penyelesaian untuk masalah tersebut. Menurutnya orangtua dituntut untuk bagaimana bisa memberikan contoh yang baik untuk anaknya, yaitu dengan memberikan dukungan yang kuat bagi anak mereka. Dengan begitu akan membantu anak-anak untuk mencari solusi yang tepat.

“Karena jika orangtua ikut panik dan justru menjadi emosi karena anaknya tidak diterima, maka akan jadi stres semua. Memang sebaiknya masalah tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut larut, kalau stressnya cuma berlangsung tidak lebih dari 30 menit karena kaget boleh lah, tapi setelah itu langsung mengambil keputusan dan segera menyusun langkah kedepannya dengan baik, itu yang terpenting,” paparnya.

Dikatakan Christin, langkah yang dilakukan sebagai orangtua adalah bersikap bijaksana. Yaitu tidak ikut menjadi panik dan bahkan meluapkan emosinya.

“Sebab harus memberi contoh kepada anaknya. Kalau orangtua juga tidak bisa menguasai keadaan, maka si anak juga akan ikut merasa bersalah nantinya. Jika diperlukan orangtua bisa melakukan negosiasi dengan pihak sekolah untuk memberikan masukan terkait sekolah alternatif,” ungkapnya.

“Karena ini kan menyangkut dengan masalah kebijakan biaya di sekolah alternatif. Kemudian, jika memang tetap gagal di sekolah tersebut, tetap harus move on, karena itu bukan segalanya, tidak menjadi masalah dan harus mencari jalan terbaik lainnya,” imbuhnya.

Christin menegaskan, orang tua dan anak juga harus bisa merencanakan secara detail jenjang pendidikan yang akan ditempuh nantinya.

“Jadi energinya bisa dipakai untuk menyusun langkah-langkah selanjutnya. Selain memilih di sekolah swasta, atau bisa alternatif untuk mengikuti kejar paket, atau kursus- kursus,” katanya.

Ditambahkan, usahakan anak dan orangtua juga beraktivitas di rumah seperti biasanya dan tidak selalu fokus memikirkan pada masalah PPDB.

“Sehingga nantinya secara bertahap (stres) akan hilang dengan sendirinya, dan tidak terbawa ke hal atau pekerjaan lainnya, serta membuat keadaan menjadi normal dalam keseharian,” pungkasnya. (HS-06)

Hadiri Prosesi Pemakaman Kades Botomulyo, Wabup Kendal: Orangnya Baik, Supel dan Humoris

Kota Semarang Jadi Tempat Roadshow Bus KPK, Mbak Ita: Pemberantasan Korupsi Tanggung Jawab Seluruh Masyarakat