in

Filologi Plus Mengantar Mantan Penjaja Rokok Raih Habibie Prize

Penyerahan Habibie Prize 2023 di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta, baru-baru ini. (Foto : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Guru Besar Bidang Filologi pada Fakultas Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof Dr Oman Fathurahman M Hum, meraih Habibie Prize 2023 dalam Ilmu Filsafat, Agama, dan Kebudayaan dengan bidang kepakaran Filologi Plus.

Habibie Prize digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), untuk memberikan apresiasi kepada perseorangan yang aktif dan sangat berjasa dalam penemuan, pengembangan, dan penyebarluasan berbagai kegiatan ilmu pengetahuan dan teknologi yang inovatif serta bermanfaat secara signifikan bagi peningkatan kesejahteraan, keadilan, dan perdamaian.

Oman Fathurahman lahir di Kuningan, Jawa Barat, pada 8 Agustus 1969. Lulus dari MAN Cipasung Tasikmalaya pada 1987, Oman terpaksa “mondok” di Pesantren terpencil saat itu di Haurkuning, Salopa karena kendala ekonomi.

Setahun kemudian, dia nekat ke Jakarta untuk mengadu nasib demi mengejar cita-cita. Berbagai pekerjaan dia lakoni, agar bisa mengumpulkan biaya kuliah.

Mula-mula dia menjajakan rokok dan permen dengan berjalan kaki dari Kebayoran Lama, Jakarta Selatan hingga Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dia lalu menjadi buruh kasar di perusahaan percetakan.

Baru pada 1990, Oman berkesempatan kuliah setelah diterima di Jurusan Bahasa dan Sastra Arab pada Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dia membiayai sendiri kuliahnya dengan berdagang jam tangan, batik, kacamata, dan mengajar mengaji.

Sebagai Guru Besar di FAH UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Oman Fathurahman menggagas istilah Filologi Plus.

Filologi adalah sebuah alat atau perangkat metodologis untuk melakukan investigasi ilmiah atas teks-teks tulisan tangan (manuscript), dengan menelusuri sumbernya, keabsahan teksnya, karakteristiknya, serta sejarah lahir dan penyebarannya.

Dalam tradisi Arab, filologi disebut “tahqiq”, yang artinya membetulkan atau mengkritik. Tugas seorang filolog memang membaca dan mengkritisi teks dalam manuskrip-manuskrip kuno tulisan tangan untuk mencari keaslian bacaan sebagaimana ditulis oleh pengarang, kemudian menghadirkan bacaan itu untuk pembaca lain.

Setelah menerima Habibie Prize, pria yang akrab disapa Oman ini menjelaskan bahwa, sejak masa kolonial hingga awal 1990-an, kerja-kerja filologi lebih banyak fokus memproduksi transliterasi dan terjemahan.

Paling jauh, terjemahan disertai analisis struktur atau pendekatan bahasa dan sastra, tidak secara mendalam mengkaji konteks pengetahuan dalam teks yang dihadirkan.

“Sebagai lulusan pesantren, saya merasa tidak puas ketika menyunting sebuah teks keagamaan tentang tasawuf, tentang ketuhanan yang berisi filsafat ilmu pengetahuan Islam yang cukup kontroversial, tapi tidak mengupas sendiri teks dan konteks tersebut. Karenanya, saya lalu berupaya memposisikan diri tidak hanya sebagai “koki filologi” yang bertugas memasak sebuah teks “mentah” dalam manuskrip, melainkan sekaligus sebagai penikmat “masakan” teks itu berdasarkan konteks keilmuan keislaman yang dimilikinya,” ujar Oman di Jakarta, Jumat (10/11/2023).

filologi plus, menurut dia adalah mengawinkan filologi dengan beragam pendekatan ilmu dan menguatkan kontekstualisasi.

“Filologi Plus meniscayakan kerja filologi yang dilakukan secara interdisiplin atau multidisiplin dengan kajian ilmu lain. Dalam konsentrasi saya, filologi plus adalah filologi yang dipadukan dengan kajian Islam atau sejarah sosial intelektual Islam di Indonesia,” kata dia, seperti dirilis kemenag.go.id.

Perangkat pendekatan ilmu dan teori yang dipakai untuk melakukan kontekstualisasi, tentu tidak hanya sejarah dan islamic studies seperti yang saya terapkan, melainkan juga antropologi, sosiologi, arkeologi, kesehatan dan kedokteran, media dan komunikasi, gender, dan beragam bidang ilmu lainnya.

Habibie Prize 2023 adalah kali pertama diberikan kepada civitas akademika Perguruan Tinggi Keagamaan. Penghargaan ini diserahkan di Auditorium Sumitro Djojohadikusumo, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Jakarta.

Hadir, Kepala BRIN Laksana Tri Handoko, Dewan Pembina Yayasan Sumberdaya Manusia dalam Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (SDM IPTEK) Ilham Habibie, Ketua Yayasan SDM IPTEK Wardiman Djojonegoro, Direktur Utama LPDP Andin Hadiyanto, Menteri Agama (2014 – 2019) Lukman Hakim Saifuddin, Ketua Majelis Kehormatan Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie, Tokoh Agama Muji Sutrisno, Ekonom Hendri Saparini, dan sejumlah tokoh nasional.

“Saya meyakini, Habibie Prize yang saya terima bukan semata penghargaan untuk seorang Oman, melainkan lebih dari itu sebagai pengakuan terhadap keilmuan filologi yang memiliki tujuan mulia menggali memori kolektif bangsa dalam manuskrip,” tandasnya. (HS-08)

Presiden Jokowi Tegaskan Komitmen Transformasi Sepak Bola Indonesia

BNPT RI Ajak Mahasiswa di Kota Semarang Jauhi Intoleransi