in

Film “Srimulat: Hidup Memang Komedi” Ajak Penonton Nikmati Guyonan Orang Jawa

Jumpa pers Film berjudul Srimulat: Hidup Memang Komedi di Kota Semarang, Rabu (22/11/2023).

HALO SEMARANG – Film berjudul Srimulat: Hidup Memang Komedi mengajak para penonton untuk menikmati guyonan orang jawa. Karya ini bisa dinikmati berbagai generasi dengan sentuhan komedi khas ala Srimulat yang tetap dipertahankan.

Floor Director Srimulat: Hidup Memang Komedi, David Nubrianto mengatakan, respon komedi yang bakal diberikan oleh film ini hanya sekadar tertawa namun juga diakhiri dengan tepuk tangan. Apalagi, Srimulat sudah menjadi suatu genre komedi tersendiri di Indonesia.

“Kalau ditanya porsi komedinya, kalo ada 1000 persen pake kata 1000 persen kali ya, titik tawanya lebih padat. Jadi memang benar – benar vibesnya kalau nonton, bayangkan nonton komedi tapi di layar lebar, responnya nggak cuman ketawa, tapi ada yang diakhiri tepuk tangan,” ujar David saat jumpa pers di Semarang, Rabu (22/11/2023).

Menurutnya, film komedi ini dapat dinikmati dari genersi ke genarsi, dari gen z, milenial hingga orang tua. Ia yakin film karya sutradara Fajar Nugros ini dapat menghibur keluarga di Indonesia.

“Uniknya ngomongin generasi, ggak ada gap disitu untuk titik tawa, biasanya kan jokes bapak – bapak, jokes gen z, ini enggak jokes keluar dari gen z, melenial sampai orang tua sekalipun ketawa. Saya bisa jamin film ini lucu banget,” terangnya.

Disisi lain, Rohana yang diperankan oleh Naimma Aljufri mengatakan, dari 12 karakter yang bermain hanya dua orang yang fasih berhasa Jawa.

“Sebelumnya hanya tau candaannya aja, awal casting aku berusaha untuk bisa medok, meskipun mendoknya belum terdengar bagus. Persiapan kita semua dibantu sama acting coach kita, kita dibentuk dulu jadi orang Jawa, dari 12 karakter hanya 2 yang asli orang Jawa, kita bukan ODGJ (Orang Dengan Genetik Jawa),” terangnya.

Lanjut Naimma, untuk menjadi masing – masing karakter tersebut, selama tiga bulan para aktor harus terlebih dahulu mengetahui bagaimana menjadi orang Jawa, dari cara duduk, berfikir, hingga tubuhnya.

“Kita dikosongkan dulu, agar bisa dibentuk orang Jawanya dulu, baru dibentuk karakternya, jadi setiap hari, hampir 3 bulan, kita brain game, olah tubuh, olah suara, dilatih supaya medoknya tu beneran kerasa kita tu orang jawa,” bebernya.

Senada, Dimas Anggara yang berperan sebagai Timbul menjelaskan jika dirinya harus belajar dulu dengan tokoh aslinya.

“Kita juga lakukan riset yang padet juga, kita diskusi langsung sama Srimulat aslinya, pada tarzan, tessy, kita berdiskusi banyak tentang bagaimana karakter ini, di panggung seperti apa. Karena apa yang kita liat di panggung, dengan kenyataan di belakang berbeda sekali, itu yang kita kulik,” imbuhnya. (HS-06)

Praktisi Hukum: Iklan Susu Kreasi AI Tak Langgar UU Perlindungan Anak

Ikuti Akademi Paradigta Indonesia, 56 Kader Pekka di Kendal Diwisuda