Film Sengkala, Karya Sineas Kendal Yang Ingin Angkat Kearifan Lokal

Salah satu cuplikan Film Sengkala saat diputar di Komunitas Rumah Kita (Koruki) Demak, Sabtu (20/2/2021).

 

SEBUAH film pendek garapan sineas Kota Kendal yang berjudul Sengkala diputar di Komunitas Rumah Kita (Koruki) Demak. Koruki menjadi tempat kelima setelah Salatiga, Temanggung, Kudus, dan Kota Semarang disinggahi untuk pemutaran film ini.

Di Koruki para sineas muda yang membawa nama Silent Candle Production menampilkan tiga film pendek. “Sir”, “Andini”, dan “Sengkala” berhasil diputar dan dinikmati penonton, Sabtu (20/2/2021).

Sutradara “Sengkala”, Ahmad Sofyan Hadi menuturkan, pada film garapannya mengangkat isu yang terjadi di masyarakat, khususnya di Desa Kalirejo, Kecamatan Kangkung, Kabupaten Kendal.

Di mana masyarakatnya mempercayai jika menghadirkan pagelaran wayang pada suatu acara, maka akan hadir malapetaka yang akan menimpa tuan rumah. Mitos dan kepercayaan warga ini pun dia apresiasi menjadi sebuah karya film pendek berdurasi 25 menit dengan judul “Sengkala”.

“Sengkala prosesnya berasal dari cerita masyarakat. Kami melakukan riset yang berdasarkan mitologi di Kendal. Saya mengangkat mitos dari Desa Kalirejo, Kecamatan Kangkung itu, di sana tidak boleh nanggap wayang,” tutur Sofyan sapaan akrabnya kepada halosemarang.id.

Berawal dari ketertarikan dirinya terhadap mitologi tersebut, bersama tim produksi dirinya melakukan riset di lokasi dan menggali informasi warga sekitar, pelaku sejarah, serta budayawan.

“Kami kejar apa yang sebenarnya terjadi di sana. Kemudian singkat cerita bertemu dengan pelaku sejarah, namanya Pak Munaji,” imbuhnya.

Dalam cerita yang disampaikan Pak Munaji diperankan menggunakan nama Suraji. Suraji adalah pemuda dari seorang saudagar kaya yang sebentar lagi akan menikah.

Ayahnya, Subroto berkeinginan menghadirkan pagelaran wayang dengan lakon; Lindhu Segara, saat menikahkan anaknya.

Namun, ketika diingatkan oleh saudaranya yang bernama Somad untuk tidak menghadirkan wayang saat pernikahan anaknya, Subroto sangat tersinggung dan menentang keras peringatan dari orang-orang. Bahkan akan membuktikan apa yang terjadi, sebab Subroto mengira itu hanya akal-akalan orang-orang yang iri saja.

Namun keadaan berubah setelah pernikahan itu, diawali dengan hubungan pasangan pengantin baru yang kandas, usaha Suraji selalu gagal, dan lambat laun ekonomi berkurang hingga habis.

“Sangat banyak mitologi di Kabupaten Kendal yang bisa digarap untuk menjadi cerita sejarah anak dan cucu kita kelak. Seperti salah satu desa di sebelah Kalirejo tidak boleh jualan nasi, dan masih banyak lagi,” ungkapnya.

Dukomentasi Sejarah

Bermula dari penggarapan film pendek Sengkala, membuat dirinya bersama tim produksi terdorong melakukan riset-riset terhadap mitologi lain yang terdapat di Kabupaten Kendal.

Kemudian, fokus terkait garapan mitologi, dinamakan produksi Pepaling Ing Tanah Jawi yang memiliki arti pengingat di tanah Jawa.

“Semoga pada garapan berikutnya akan ada judul lain yang mengisahkan mitologi. Sebenarnya kami itu sedang melakukan upaya pengarsipan sejarah melalui film. Di luar negeri saja metode pengarsipan dengan film sudah dilakukan sejak lama. Sedangkan, di Kendal sendiri misalnya, saya belum menemukan metode ini,” pungkas Ian sapaan akrab sang sutradara.

Sementara itu, pada kesempatan yang sama halosemarang.id menemui Ketua Koruki, Kusfitria Marstyasih, sapaan akrabnya Pipit. Dirinya mengaku diberikan kesempatan yang luar biasa menjadi salah satu singgahan dari para sineas Kendal.

Menurutnya, tidak salah jika Koruki menjadi tempat pemutaran film. Karena, lanjut Pipit, Koruki bermitmen dari awal ingin bertindak sebagai fasilitator dan motivator terhadap anak-anak bangsa yang ingin berkreasi.

“Ini adalah wujud kerja dari Pak Humas ya, yang betul membagun relasi sesuai tugasnya. Di mana ada karya anak bangsa yang patut kita apresiasi,” tuturnya.

Dirinya mengaku baru mengetahui jika pemutaran film ini dilaksanakan secara keliling dari satu kota ke kota lainnya. Hal tersebut membuat bangga Pipit, sekaligus memotivasi dirinya.

Selain itu, film yang digarap mengangkat berdasarkan kearifan lokal yang ada.

“Saya sangat apresiasi karena para tim mengusung local wisdom yang ada di Kabupaten Kendal,” imbuh Pipit.

Kearifan lokal di Kabupaten Kendal yang diangkat, juga menghadirkan dialek-dialek khas daerah.

“Seharusnya ini menjadi inspirasi terhadap anak muda yang lain, bahwa tidak semuanya yang berbau lokal itu ketinggalan zaman,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.