Film Dinilai Mampu Mengangkat Pariwisata Di Jateng

Kawasan Kota Lama Semarang, yang kerap dijadikan sebagai lokasi syuting film.

 

HALO SEMARANG – Industri perfilman dinilai memiliki peran strategis sebagai sarana promosi untuk mendongkrak sektor pariwisata di Jawa Tengah.
Wakil Ketua DPRD Jateng, Sukirman menyatakan, film bisa dijadikan ajang promosi pariwisata di Jawa Tengah yang efektif.

Menurutnya, film dan wisata bisa dikombinasikan menjadi perpaduan yang menarik untuk mempromosikan daerah.

“Saya berharap agar perfilman di Indonesia bisa mengangkat ikon Jawa Tengah seperti Dieng, Lawang Sewu, dan lainnya. Film dan pariwisata perlu ada perpaduan,” ujarnya dalam diskusi dengan tema “Pandemi, Film dan Pariwisarta di Jateng” di salah satu stasiun televisi nasional di Jakarta, Rabu (5/11/2020).

Di tengah pandemi, lanjut Sukirman, semua sektor pengembangan usaha di Tanah Air termasuk sektor pariwisata dan perfilman kurang bergeliat.

“Kondisi ini bukan berarti insan perfilman berdiam diri. Bagaimana industri perfilman harus menyikapi tatanan baru selama pandemi? Sementara sektor pariwisata meski belum ada peningkatan signifikan, namun ada sebagian destinasi yang dikelola dengan baik seperti Kota Lama Semarang,” paparnya.

Sementara, aktris Sha Ine Febriyanti yang juga jadi pembicara di talk show tersebut sependapat, bahwa film bisa mengangkat potensi wisata daerah.

Selain film, menurutnya, untuk mempromosikan pariwisata bisa menggandeng influencer.

“Memang benar, lokasi syuting dapat mengangkat sektor pariwisata di daerah bersangkutan. Selain itu bisa juga bekerja sama dengan influencer untuk mempromosikan pariwisata di daerah,” katanya.

Ine menambahkan, Jawa Tengah memiliki banyak lokasi syuting yang menarik untuk diangkat ke layar lebar.

“Sejauh ini Jateng paling popular untuk produksi film, seperti syuting film ‘Bumi Manusia’ di Kabupaten Blora itu mampu menarik wisatawan,” tuturnya.

Di tengah pandemi Covid-19, lanjutnya, siapa pun dapat berkreativitas membuat film, meski dengan sarana dan prasarana yang minimalis.

“Suatu hal yang harus disiasati orang membuat film tidak lagi harus di layar lebar. Semua bisa memproduksi film bermutu sepanjang memiliki plot dan alur yang jelas,” katanya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.