in ,

Es Legen yang Masih Bertahan Ketika Perkebunan Siwalan Genuk Mulai Berubah Jadi Permukiman

Es Legen/dok.

 

KETIKA melewati ruas Jalan Woltermonginsidi, Kecamatan Genuk, Kota Semarang, akan banyak ditemui di pinggir jalan penjual siwalan dan minuman Es Legen. Minuman ini memang tidak asing di telinga banyak orang, khususnya warga Semarang dan sekitar.

Minuman berwarna putih keruh namun terlihat segar tersebut biasanya dijajakan di pinggir jalan bersama buah siwalan yang masih utuh.

Meskipun air legen terlihat keruh, namun melihatnya saja sudah akan tahu kesegaran air yang berasal dari pohon aren atau siwalan ini. Es Legen biasa dinikmati dengan memakan buah siwalan sebagai pendampingnya.

Seiring berkembangnya zaman, dan hilangnya banyak kebun siwalan di wilayah Bangetayu, Kecamatan Genuk, Es Legen tidak banyak dijumpai di perkotaan Kota Semarang. Namun minuman ini masih bisa ditemui di beberapa warung yang ada di Jalan Woltermonginsidi.

Bu Tri, salah satu penjual Es Legen dan siwalan mengatakan, saat ini untuk memperoleh siwalan dari Semarang memang agak susah. Kebanyakan siwalan dan Es Legen yang dia jajakan, diperoleh dari wilayah Tuban atau Rembang. Hal itu karena banyak perkebunan siwalan di wilayah Genuk yang kini beralih fungsi jadi permukiman.

“Dulu panen sendiri siwalan dan legennya. Tapi sekarang beli di pedagang dari Jawa Timur,” katanya, saat ditemui halosemarang.id balum lama ini.

Sementara Nur Kholis, warga Pedurungan Semarang yang ditemui saat menikmati Es Legen di Jalan Woltermonginsidi mengatakan, dia dan keluarga memang menyukai siwalan sebagai camilan saat siang hari. Khususnya saat Ramadan, dia selalu berburu siwalan di Jalan Woltermonginsidi untuk pelengkap menu berbuka puasa.

“Saat cuaca panas memang segar minum Es Legen dan makan siwalan. Tapi sekarang untuk mencarinya agak susah,” tandasnya.

Harga Legen kemasan botol 1,5 liter dijual dengan harga Rp 10.000 dan satu plastik buah Siwalan berisi 4-5 buah harganya Rp 5.000. Bagi pembeli yang hendak meminum di tempat, satu gelas Es Legen dengan potongan buah Siwalan kecil-kecil cukup merogoh kocek Rp 3.000 sampai Rp 5.000.

“Enaknya diminum dingin. Kalau di rumah disimpan di kulkas bisa tahan dua minggu. Tapi kalau di luar seminggu makin asam rasanya (bertambah kadar alkoholnya),” jelasnya.

Hasil Penyadapan

Dari penelusuran halosemarang.id, kata legen sendiri berasal dari kata dasar legi (bahasa Jawa) yang artinya manis.

Legen kebanyakan dibuat dari bunga pohon siwalan jenis perempuan yang bunganya berbentuk sulur. Sulur bunga ini dipotong sedikit demi sedikit untuk disadap getahnya yang ditampung pada sebuah tabung yang biasanya terbuat dari potongan batang bambu satu ruas.

Lama penyadapan ini biasanya semalam, pada sore hari tabung bambu ini (disebut bumbung) diletakkan sebagai penampung, maka pada pagi harinya sudah memuat penuh satu tabung. Satu manggar bunga biasanya menghasilkan sekitar tiga hingga enam tabung legen.

Untuk mengurangi rasa asam, biasanya pada dasar bumbung ditaburi sedikit air kapur. Air legen ini dalam bahasa Indonesia disebut nila.

Tapi nila ada juga yang dihasilkan dari manggar bunga kelapa atau dari manggar bunga pohon aren, tetapi secara khusus legen hanya dibuat dari pohon siwalan. Jenis pohon siwalan ada dua macam, yang satu bunganya manggar seperti kelapa dan menghasilkan buah yang disebut buah siwalan.

Isinya seperti kolang-kaling yang empuk, kenyal dan manis. Sedang pohon jenis lainnya hanya berbunga berbentuk sulur dan khusus dimanfaatkan untuk disadap getahnya menjadi legen.

Dua pohon jenis ini saling membutuhkan, sehingga dapat berlangsung penyerbukan menghasilkan buah siwalan yang kelak dapat ditanam menjadi pohon serupa.(HS)

Share This

Ikut Prihatin dengan Nasib Mantan Lawan

Dosen FE USM Berikan Pelatihan Pembuatan Sabun Cuci Kepada Ibu Rumah Tangga di Ungaran