in

Ekstrimitas Bisa Muncul di Mana Saja, Menag Tawarkan Tiga Cara Tumbuhkan Toleransi

Menag Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan sambutan pada Webinar Suara Pancasila, yang digelar secara hybrid oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Rabu (27/10). (Sumber : Kemenag.go.id)

 

HALO SEMARANG – Gejala ekstrimitas bisa muncul di mana saja, termasuk di perguruan tinggi. Untuk itu diperlukan upaya untuk terus menumbuhkan toleransi dan sikap menerima perbedaan. Indonesia adalah negara yang sangat majemuk. Keragaman menjadi sumber kekuatan bangsa.

Pesan ini disampaikan Menag Yaqut Cholil Qoumas saat memberikan sambutan pada Webinar Suara Pancasila, yang digelar secara hybrid oleh Dewan Eksekutif Mahasiswa (Dema) UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta Rabu (27/10).

Webinar ini diikuti sekitar 500 peserta, yang berasal dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia. Webinar mengangkat tema “Damai dalam Perbedaan”.

Sehubungan itu, Menag menawarkan tiga cara untuk menumbuhkan rasa toleransi dan memperkuat penerimaan atas kebhinekaan. Pertama, open your mind! Bacalah banyak buku, diskusikan beragam pandangan, perluas wawasan, dan jangan lupa piknik.

“Saya meyakini, orang berilmu akan terbuka pikirannya, open minded, dan akan memiliki toleransi yang kuat. Dia akan menyadari bahwa di sekitar dirinya ada banyak orang lain yang berbeda, binneka dalam banyak hal. Dan dia akan semakin sadar tidak bisa hidup sendiri dengan pikirannya atau keyakinannya saja,” kata Menag Yaqut, seperti dirilis Kemenag.go.id.

Kedua,  perbanyak ruang perjumpaan! Keluarlah dari tempurung untuk bersosialisasi dengan sebanyak mungkin orang yang berbeda dengan dirimu. Rasakan pengalaman menjadi minoritas dan mayoritas sekaligus.

“Tentu, kita perlu cukup teguh dalam memegang prinsip kebenaran yang kita yakini, namun terbuka untuk berdialog dengan wong lian (orang lain),” jelasnya.

“Kekokohan karang kian teruji dengan deburan ombak yang terus-menerus menerpanya. Karena toleransi akan kian menguat seiring banyaknya perjumpaan dengan berbagai keragaman,” lanjutnya.

Ketiga, merenung dan berefleksi, untuk memikirkan, menyadari, dan mensyukuri betapa besar kekayaan keanekaragaman bangsa Indonesia yang telah Allah anugerahkan. Keragaman yang terikat harmonis dalam balutan NKRI.

“Bandingkan dengan banyak negara lain yang gagal mengikat kebinnekaannya, dan didera konflik saudara terus menerus. Kita harus sangat bersyukur dengan cara merawat Indonesia, rumah kita bersama ini,” tandas Menag.

Menag mengingatkan, bahwa toleransi adalah hal yang penting perlu dijaga. Ketentraman yang sudah dirasakan selama ini harus diwarisi ke anak cucu jangan sampai kebhinekaan yang dimiliki negara kita nantinya hanya menjadi cerita. (HS-08)

Share This

Terjadi Bencana, Golden Time Penyelamatan Korban 3 Hari

Pedagang Gorengan di Kota Semarang Ramai Keluhkan Naiknya Harga Minyak Goreng