Ekspor Meningkat, Industri Keramik Semakin Kemilau

Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto. (Foto : Kemenperin.go.id)

 

HALO SEMARANG – Pengapalan produk keramik dari Indonesia ke berbagai negara, pada pandemi Covid-19, atau sepanjang Januari-September 2020 lalu meningkat.

Pengapalan produk keramik nasional mencapai USD 49,8 juta atau meningkat 24%, dan secara volume menembus angka 12,8 juta M2 atau melonjak 29%.

“Kinerja ekspor selama sembilan bulan di tahun ini, merupakan yang tertinggi sejak tahun 2016,” kata Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), Edy Suyanto, seperti dirilis Kemenperin.go.id.

Peningkatan nilai ekspor tersebut, menurutnya terjadi karena adanya peningkatan daya saing industri keramik, harga gas baru, dan mulai dibukanya lockdown di negara-negara tujuan ekspor.

Adapun lima negara tujuan ekspor utama untuk produk keramik nasional, yaitu ke Filipina, Malaysia, Taiwan, Thailand dan Amerika Serikat.

“Lonjakan ekspor terjadi dengan tujuan negara Amerika Serikat mencapai 130%, Filpina sekitar 60% dan Taiwan 40%,” sebut Edy. Peningkatan ekspor di luar lima negara tujuan utama tersebut, juga terjadi di Australia dengan mencapai 50%.

Permintaan ekspor ke Amerika Serikat meningkat tajam untuk produk-produk keramik segmen premium, di mana beberapa anggota Asaki telah mengadopsi teknologi terkini dan tercanggih, untuk memproduksi keramik big slab (ukuran jumbo) beserta produk-produk olahan lainnya yang memberikan nilai tambah.

Capaian ini juga membuktikan bahwa secara skill SDM industri maupun kualitas bahan baku lokal mampu bersaing dengan produk keramik sejenis dari negara Eropa.

Direktur Industri Semen, Keramik, dan Pengolahan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian, Adie Rochmanto Pandiangan mengatakan industri keramik di Indonesia, memang berpeluang besar untuk dikembangkan. Hal itu juga karena bahan bakunya banyak terdapat di negeri ini.

“Secara kapasitas dan kemampuan, industri keramik kita telah mampu memenuhi kebutuhan nasional. Namun demikian, kami mendorong pemanfaatan teknologi, guna menciptakan produk yang inovatif dan kompetitif,” kata dia

Adie menyebutkan, sejumlah kebijakan strategis yang telah dijalankan pemerintah dalam rangka mendongkrak daya saing industri keramik nasional terhadap ancaman produk impor, antara lain penerapan safeguard atau pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengaman (BMTP) terhadap impor produk ubin keramik. Selain itu, pemberlakuan harga gas bumi untuk sektor industri sebesar USD6 per MMBTU.

“Upaya pemerintah yang telah dilakukan tersebut, sangat mendongkrak pemulihan kinerja industri keramik  nasional dan dirasakan juga manfaatnya dengan adanya peningkatan permintaan pasar dalam negeri maupun ekspor,” paparnya.

Saat ini, utilisasi produksi nasional dari sektor industri keramik mulai melonjak hingga 65% pada November 2020. “Diharapkan akan terus meningkat  sampai dengan akhir tahun 2020 sebesar 70%  dari sebelumnya hanya utilisasi hanya berkisar 45%-50% karena pandemi Covid-19,” jelas Adie.

Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin, Muhammad Khayam optimistis pada kebijakan yang telah diterbitkan pemerintah dapat meningkatkan pertumbuhan industri di tengah masa pandemi saat ini.

“Kami mengapresiasi kepada sektor industri manufaktur dalam negeri, termasuk industri keramik yang telah menunjukkan keuletan dan mampu memanfaatkan peluang rebound dengan dukungan pemerintah,” kata dia.

Khayam menegaskan, pihaknya akan terus berupaya melaksanakan langkah-langkah  kebijakan strategis yang merupakan program kementerian, di antaranya melalui program substitusi impor 35% pada tahun 2022 untuk mendukung pemulihan industri nasional, serta mewujudkan sektor industri yang maju dan berdaya saing. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.