in

Eksotisme Pecinan Semarang Simpan Sejuta Romantisme Warga Peranakan Tionghoa

Artist Talk dalam program Buah Tangan #29 yang diinisiasi oleh Kolektif Hysteria di Grobak Art Kos, Jl Stonen No 29, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Kamis (30/11/2023).

EKSOTISME bangunan tua di kawasan Pecinan Kota Semarang, menjadi daya tarik sendiri bagi Yehezkiel Cyndo Lumempo, spesialis sketsa asli Yogyakarta yang baru tinggal menetap di Kota Semarang pada tahun 2021.

Tak hanya keindahan dan keunikan bentuk fasad Pecinan, Kota Semarang, Yehezkiel Cyndo Lumempo juga memiliki alasan tersendiri memilih kawasan tersebut sebagai objek karya ilustrasi visualnya di program Buah Tangan #29 “Rupa Muka Pecinan Semarang”.

Melalui Artist Talk dalam program Buah Tangan #29 yang diinisiasi oleh Kolektif Hysteria di Grobak Art Kos, Jl Stonen No 29, Kecamatan Gajahmungkur, Kota Semarang, Kamis (30/11/2023), Yehezkiel Cyndo melihat sisi eksotis dan romantis pada bangunan Pecinan, Semarang.

Sebagai warga peranakan Tionghoa, Cyndo menilai ada cerita romantis di balik deretan ruko Pecinan, Semarang. Terlebih ia mengaku histori kebudayaan leluhurnya terputus dan berhenti semenjak kakek-neneknya meninggal dunia.

Bangunan khas Pecinan Semarang kemudian menjelma menjadi lorong waktu dan jalan pulang Cyndo. Kultur budaya hingga filosofi dan sejarah Tionghoa yang melekat pada fasad bangunan, membuatnya takjub.

“Rumah merupakan sebuah peradaban yang istimewa. Secara sadar, manusia membangun peradaban adalah dengan pembangunan rumah. Budaya Pecinan itu tersampaikan dengan baik lewat fasadnya,” kata Yehezkiel Cyndo.

Fasad adalah muka bangunan pertama yang bisa dikenali orang dengan mudah. Sehingga ia pun memilih objek tersebut dengan segala ciri khas yang menempel di Pecinan, sebagai identitas warga peranakan yang ada di Kota Semarang.

“Identitas pertama yang ditangkap secara visual adalah fasadnya. Di gambar saya, hal ini yang ingin saya sampaikan terkait fasad paranakan di Semarang,” kata dia.

Senada dengan hal itu, Alberta Cindy dari Seraya Podcast yang hadir sebagai penanggap diskusi juga menjelaskan bahwa kondisi ruko-ruko di Pecinan, Semarang saat ini sudah banyak yang berpindah tangan. Baik itu dijual karena dibagi untuk pewaris, maupun disewakan kepada orang lain untuk membuka usaha.
Mengingat, kasawan Pecinan adalah komplek ruko-ruko yang selama ini hidup karena aktivitas perniagaan. Akan tetapi, Cindy menyebut jika para penyewa atau pembeli baru ruko-ruko tersebut umumnya masih warga peranakan Tionghoa juga.

“Kalau tidak ya paling orang-orang tua yang anak-anaknya sudah tidak tinggal di sana. Atau kalau misal sudah dimiliki pewaris, biasanya dialihfungsikan menjadi gudang saja,” jelas Cindy, sekalu warga Semarang asli.

Mendengar hal itu, Cyndo pun mengamini, sebab ketika proses memotret bangunan di komplek Pecinan, ia melihat banyak plang-plang keterangan bahwa bangunan-bangunan tersebut dijual maupun disewakan.

Cyndo menyayangkan apabila suatu saat komplek Pecinan, Semarang berubah muka dan kehilangan ciri khasnya. Sebab, sejarah dan memori panjang kehidupan warga peranakan di Kota Semarang, setidaknya bisa ditelusuri dari kawasan tersebut.

Dalam proses kreatifnya, Cyndo mengaku sengaja mengambil fasad-fasad bangunan yang masih khas dengan kultur budaya Tionghoa. Secara personal, memorinya tentang budaya Tionghoa berkaitan dengan kultur kebiasaan seperti menumpuk barang.

“Memori saya tentang kultur Tionghoa itu, punya kebiasaan suka menumpuk barang. Jadi semakin kumuh rumah itu yang saya lihat, itu semakin saya,” kata Cyndo sembari bercanda.

“Ya ini kultur Tionghoa itu, kalau membuka toko mau berpuluh-puluh tahun pun akan tetap dicintai. Itu kultur yang akan tetap saya lakukan juga,” jelasnya.

Enam puluh lima fasad bangunan Pecinan yang sesuai dengan kriteria itulah yang ia pilih. Tentu dengan mempertimbangkan bahwa belum ada perubahan dari bentuk fasad asli dari masing-masing ruko tersebut.

“Nuansa pedagang lawasnya yang saya ambil. Yang kerasa banget bukan bangunan modern, tapi misal ada bangunan medern yang pasti harus ada tumpukan barang-barang dalam komposisinya,” kata dia.

Bentuk jendela yang dipasang secara repetisi, pintu-pintu kayu bersusun maupun rolling door dan berbagai ornamen arsitektural lain yang menyimpan memori kehidupan warga peranakan di Indonesia.

“Dia bukan tipe bangunan yang polos, selalu ada ornamen kehidupan. Jendela itu dibuat pasti dengan sadar. Kenapa jendela itu di sana,” terang Cyndo.

“Jendela itu pasti punya cerita. Entah sudah berapa ratus ribu kali dia dibuka, perasaan yang buka itu pasti berbeda-beda. Mungkin dia lagi marah sama pasangannya, atau jatuh cinta sama siapa pun,” lanjutnya.(HS)

Jembatani Freshgraduate, Udinus Bakal Gelar Job Fair Tiap Tahun

Ikut Kegiatan Posyandu, Tim KKN Unnes Sosialisasi Pencegahan Stunting