Ekosistem Startup Berkembang, Masyarakat Manfaatkan Media Daring untuk Belanja Selama Pandemi

Suasana Pedagang Pasar Pedurungan Semarang selama pandemi Covid-19, nampak lengang karena pembeli mulai merambah belanja kebutuhan via daring.

 

SERBA salah rasanya bila dalam situasi pandemi seperti sekarang persediaan bahan makanan menipis. Mau belanja ke pasar tapi was-was, sementara kebutuhan logistik harus dipenuhi.

Tapi kegelisahan tersebut tak berlaku bagi sebagian besar masyarakat Kota Semarang. Mereka memanfaatkan Tumbasin, sebuah aplikasi dari perusahaan lokal yang menghubungkan langsung antara pembeli dengan penjual pasar tradisional.

Cukup mainkan ujung jari di layar gawai, barang pesanan akan diantar sampai ke rumah.

Setelah diluncurkan pada awal tahun 2020 oleh Pemkot Semarang, aplikasi ini menuai respon positif. Hingga saat ini Tumbasin telah didownload lebih dari 10 ribu kali.

Founder PT Tumbas Sinergi Indonesia (Tumbasin), Bayu Mahendra mengatakan, produk dari perusahaan startup miliknya tersebut lahir dari keinginannya supaya pedagang pasar tradisional memiliki jangkauan yang lebih luas dalam memasarkan produknya.

Seiring dengan tren digitalisasi, pedagang dituntut tidak hanya bergantung pada transaksi tatap muka namun juga via daring.

Pembeli cukup order kebutuhan yang diinginkan seperti sembako, sayur, daging, buah, bumbu dapur dan sebagainya. Besoknya pesanan diantar ke rumah oleh kurir. Pembayaran pun mudah karena bisa dilakukan secara COD (Cash on Delivery).

Harga sesuai dengan harga pasar. Tinggal tambah ongkir. Jauh dekat sama saja cukup Rp 10 ribu saja.

“Dulu jangkauan kita cuma di dua pasar, setelah terbentuk kerja sama dengan Pemkot Semarang jangkauan kami semakin luas. Harapan saya nantinya seluruh pasar di Semarang bisa terhubung dengan aplikasi Tumbasin sehingga siapa saja, di mana saja dapat terlayani,” ujar pria yang juga merupakan warga asli Kota Semarang ini.

Saat ini agen shoper Tumbasin tersebar di empat pasar yaitu Pasar Karangayu, Pedurungan, Bulu dan Peterongan.

Kepala Bidang Pengembangan Perdagangan dan Stabilisasi Dinas Perdagangan Kota Semarang, Sugeng Dilianto menjelaskan, untuk mengetahui harga komoditas pangan di pasaran, masyarakat dapat mengakses Sistem Informasi Perdagangan Kota Semarang (SIP’S). Daftar harga di situ merupakan acuan di pasar tradisional se-Kota Semarang.

“Aplikasi ini sangat memudahkan bagi siapa saja. Harapannya semoga Tumbasin tidak hanya terdapat di empat pasar tapi menjangkau seluruh pasar se-Kota Semarang,” ujar Dili, Sabtu (25/4/2020).

Terbukti di masa seperti sekarang, aplikasi Tumbasin menjadi alternatif jitu yang memudahkan siapa saja untuk berbelanja kebutuhan dapur. Kenaikan order di masa pandemi bahkan sempat mencapai sepuluh kali lipat dibanding sebelumnya. Di hari-hari biasa jumlah permintaan sekitar 50-100 order per hari namun setelah muncul kasus Covid-19, jumlah permintaan menyentuh hingga 1000 order.

Karena keterbatasan SDM terutama tenaga kurir, juga tak mau sampai mengecewakan pelanggan, akhirnya server sempat ditutup sementara. Namun kemudian dibuka lagi, hanya saja saat ini kuota dibatasi sebanyak 200 order per hari.

Kepala Pasar Pedurungan Kota Semarang, Yuni Susanto menyebut, selama pandemi Covid-19, jumlah pengunjung pasar berkurang. Pedagang mengeluh sebab omzet menurun sampai 50 persen. Beruntung bagi para pedagang mitra Tumbasin, permintaan tetap ada sehingga dampak tak terlalu dirasa.

“Permintaan untuk bermitra dengan Tumbasin jadi banyak. Tapi ini kan ada prosedurnya. Ada kualifikasinya seperti kualitas barang dan harga yang dipatok. Harga dari pedagang tidak boleh terlalu mahal dan kualitas barang harus terjamin mutunya,” terang Yuni, Sabtu (25/4/2020).

Padahal sebelumnya, Yuni harus bekerja ekstra untuk mensosialisasikan manfaat aplikasi tersebut kepada pedagang. Banyak yang merespon baik namun lebih banyak yang merasa ogah.

“Ya bisa dimaklumi. Pedagang kan maunya barangnya laku dan segera dapat uang. Harus berupa fisik. Sementara kalau lewat aplikasi di internet, iya kalau COD ada uang fisik, kalau pakai e-money pedagang tidak mau. Ribet,” tambahnya.

Nur Aini (48) pedagang sembako di Pasar Pedurungan merasa sangat terbantu dengan keberadaan aplikasi ini. Selama pandemi transaksi tatap muka dengan pelanggan menurun sampai 30 persen dari hari biasa. Namun order lewat tumbasin yang dipegang anaknya mampu mendongkrak pendapatan sebesar 20 persen. Artinya dia terhindar dari kerugian yang lebih besar.

“Saya sebenarnya males pakai internet. Tahunya ya Whatsapp. Makanya sudah saya pasrahin saja ke anak kalo urusan orderan Tumbasin. Yang penting ada order saya siapin. Pembeli bayar di aplikasi juga yang urus anak saya. Saya mau terima bersih saja,” tandasnya, Senin (27/4/2020).

Pemanfaatan media daring untuk kegiatan digital marketing mestinya menjadi kebutuhan bagi pelaku usaha. Terlebih bila digarap serius, nilai ekonomi pasar digital memunculkan angka yang menggiurkan.

Berdasarkan data dari East Ventures Digital Competitiveness Index (EVDCI) Nilai pasar ekonomi digital Indonesia telah menembus US$40 miliar pada 2019 dan diproyeksikan mencapai US$133 miliiar pada 2025.

Sebagai pelaku di bursa pasar digital Kota Semarang, Bayu menganggap ekosistem startup di Semarang beberapa tahun terakhir mulai berkembang. Dia pun meyakini Kota Semarang berpotensi menjadi pusat startup yang bergairah, sebab didukung dengan anak muda-anak muda yang kreatif.

“Kalau dalam kasus Tumbasin, yang paling terasa ya keengganan pelaku usaha menggunakan produk digital. Tinggal pembiasaan saja. Di luar itu kita punya banyak anak muda bertalenta yang pikirannya segar. Apalagi kalau dilihat kebutuhan internet yang terus bertumbuh. Ini bisa dilihat sebagai potensi,” kata Bayu.

Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), penggunaa internet di tahun 2018 mencapai 64.8 persen. Angka tersebut mengalami kenaikan 10.1 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan melihat potensi ini Bayu berharap ke depan muncul perusahaan-perusahaan startup baru dengan produk yang memberikan manfaat bagi pelaku usaha, UMKM, pemerintah dan masyarakat.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.