Dunia Pendidikan Belum Aktif, Bisnis Fotokopi Sekarat Di Tengah Pandemi

Bambang saat mengoperasikan mesin fotokopi di sekitar kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang, Sabtu (27/2/2021).

 

HALO SEMARANG – Pandemi Covid-19 belum kunjung berakhir. Beberapa hari lagi pandemi Covid-19 di Indonesia genap usianya menjadi satu tahun.

Segala sektor terkena dampak, tidak hanya kesehatan saja. Perekonomian pun menurun drastis akibatnya. Seperti yang dialami Bambang, karyawan jasa fotokopi di sekitar kampus Universitas Dian Nuswantoro (Udinus) Semarang.

Bambang mengungkapkan, selama pandemi penurunan penghasilan dialami tempatnya bekerja. Hal ini dikarenakan aktivitas perkuliahan yang dilakukan secara dalam jaringan (daring).

“Ya, dibandingkan sebelum pandemi sangat jauh. Biasanya mahasiswa ramai datang ke sini untuk fotokopi dan print tugasnya, kampus Udinus tutup sekarang sepi,” ungkap Bambang saat ditemui halosemarang.id, Sabtu (27/2/2021).

Sebelum datangnya wabah Covid-19, omzet yang didapatkan dalam sehari berkisar Rp 1 juta. Hampir setahun pandemi menerpa, omzetnya semakin menunjukkan penurunan.

“Banyak mahasiswa yang kuliah di rumah. Selama pamdemi ya berkurang drastis, sehari paling banyak Rp 200 ribu,” imbuh pria asal Pekalongan ini.

Akibat perkuliahan yang dilakukan tidak secara tatap muka, lanjut Bambang, banyak mahasiswa yang kembali ke daerah asalnya. Mahasiswa dituntut untuk melakukan studi dengan sistem dalam jaringan (daring).

Sementara sebelumnya, mahasiswa sering bersinggungan dengan jasa fotokopi di kampusnya.
Pria yang menjalankan bisnis jasa fotokopi sejak lima tahun lalu ini mengeluhkan, pendapatannya per bulan pun turut terdampak. Dia mengaku, tidak dapat menabung kembali.

“Pendapatan saya pun juga ikut berkurang, motor sampai saya jual untuk mencukupi kebutuhan hidup di Semarang, mumet (pusing),” ujar Bambang yang tidak menyebutkan nilai penurunan pendapatannya.

Bambang berharap, kondisi sebelum pandemi Covid-19 segera kembali lagi, perekonomian akan berjalan normal kembali.

“Semoga kembali kayak dulu lagi, nanti kan kehidupan normal lagi. Mahasiswa aktif kuliah lagi sudah itu saja,” tutupnya.

Tidak hanya Bambang yang mengalami kondisi pahit dampak pandemi Covid-19. Hal itu juga dirasakan Darkun, pelaku usaha jasa fotokopi di daerah kampus Universitas Semarang.

“Penghasilan fotokopi dan print berkurang, 50 persen. Sebelum pandemi dapat Rp 1 juta/hari, sekarang Rp 500 ribuan sudah sangat bagus sekali,” tutur Darkun, Sabtu (27/2/2021).

Selama ini, Darkun mencoba peruntungan dari sektor lain. Dirinya, melirik bisnis jual beli burung kicau. Akan tetapi tidak semulus yang dia harapkan.

“Saya pernah beli burung kicau, terus saya jual lagi. Lumayan lah untuk tambah-tambah, tapi sekarang tidak lagi, ya belum rejekinya di situ,” ujar pria asal Grobogan ini.

Perihal program bantuan dari pemerintah, lanjut Darkun, pernah mencoba mendaftar namun tidak kunjung dia dapatkan.

“Saya enggak tahu bagaimana lagi, sudah pernah mendaftar bantuan dari pemerintah dan kartu pra kerja tapi ya enggak lolos,” tambahnya.

Senada yang diharapkan Bambang, dia menginginkan keadaan normal sebelum pamdemi.

“Saya ingin kembali normal lagi seperti dulu sebelum pandemi, supaya bisa kebutuhan keluarga saya,” pungkasnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.