Dulu Lawan Jepang, Sekarang Lawan Covid

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo, menyerahkan tumpeng dan mendengarkan pesan-pesan dari Werdiniyati Soedardjo, pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang ke-75, dilaksanakan secara sederhana di Halaman Museum Mandala Bhakti, Rabu (14/10/2020) (Foto:jatengprov.go.id)

 

HALO SEMARANG – Semangat kepahlawanan dan nasionalisme dapat menjadi modal bagi generasi saat ini, untuk berperang melawan pandemi Covid-19. Saat ini yang dibutuhkan oleh bangsa ini, adalah persatuan dan kontribusi dari seluruh komponen bangsa.

Hal itu disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, seusai mendengarkan wejangan dari Werdiniyati Soedardjo, pejuang Pertempuran Lima Hari di Semarang. Peringatan Pertempuran Lima Hari di Semarang ke-75, dilaksanakan secara sederhana di Halaman Museum Mandala Bhakti, Rabu (14/10).

Menurut Ganjar, heroisme pejuang dapat menetes ke generasi, yang kini berhadapan dengan pandemi. Karena itu, sesuai pesan dari Werdiniyati, yang penting saat ini adalah senantiasa merawat cinta terhadap bangsa dan saling tolong menolong.

“Semoga heroisme yang sejak dulu diberikan, menetes kepada kita hari ini. Dulu lawan Jepang sekarang lawan Covid-19. Sekarang yang dibutuhkan adalah persatuan dan kontribusi dari semuanya,” ungkapnya, seperti dirilis jatengprov.go.id.

Gubernur mengatakan untuk melawan Covid-19, dibutuhkan kerelaan dan kesadaran semua orang untuk tetap memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak. Selain itu segala aspirasi yang disampaikan haruslah dengan cara yang santun.

“Tidak sulit kok, ketika menyampaikan aspirasi dengan baik, tidak sulit kok dengan cara tidak melempar-lempar sehingga ada yang terluka. Kita butuh nilai keadilan yang beradab, kita butuh persatuan Indonesia. Semoga cerita kepahlawanan itu menetes di sanubari kita, sebagai anak dan cucu bangsa,” kata Ganjar.

Sebelumnya kepada Ganjar Pranowo, Werdiniyati Soedardjo yang kini sudah berusia 88 tahun, berpesan agar generasi saat ini mengisi kemerdekaan, sesuai peran masing-masing.

Melalui putrinya,  Sih Wahyu Nur Hastanti, Werdiniyati menceritakan pengalamannya berjuang menghadapi tentara Jepang.

“Ibu itu dulu pas berjuang masih umur 13 tahun. Waktu itu ibu membawa senjata untuk kakaknya, dengan cara disembunyikan dalam bakul dan ditutupi sayur-sayuran,” ujarnya, saat mendampingi Werdiniyati, menerima penghargaan peniti emas dari Gubernur Jateng Ganjar Pranowo.

Wahyu menceritakan, ibunya harus berjalan kaki dari Jatingaleh ke kawasan Tugu Muda, dan menghindari pemeriksaan tentara-tentara Jepang.

“Kalau ada tentara Jepang, ibu ya pura-pura ngarit (mencari rumput). Sampai di kawasan sini (Tugu Muda) ibu melihat banyak yang dibantai. Kakak ibu juga turut dibunuh Jepang,” paparnya.

Werdiniyati juga berpesan agar generasi muda menjalani era kemerdekaan sesuai dengan peran yang dilakukan.

“Kalau untuk anak-anak sekarang, yang penting tanggung jawab pada bangsa. Nek sekolah ya sungguh-sungguh sekolah, bekerja ya tanggung jawab, kalau umpamanya jadi pembantu ya jangan seolah-olah jadi pejabat, (uang) dikumpulkan untuk masa depan,” pesannya.

Werdiniyati juga mengucapkan terima kasih, atas perhatian yang diberikan oleh para pemerintah. Ia juga berpesan agar menjalani hidup secara sabar dan jangan saling membenci.

“Makasih putra-putra kinasih (tercinta) kalian mau memperhatikan kita-kita sudah tua seperti ini, dikumpulkan ditanya dilihat. Kalau kita ada kesalahan dimaafkan. Tapi kalau kita masih dibutuhkan, sampai kapanpun Yang Ti (Werdiniyati Soedardjo-Red) tidak akan meninggalkan,” kata lurah perempuan pertama di Kota Semarang itu.

Perlu diketahui, selain Werdiniyati ada dua pelaku Pertempuran Lima Hari yang mendapat penghargaan. Yakni Domo Mulyadi dan Huri Prasetyo.  (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.