in

Dulu 5 Besar, Kini PS Sleman Terpaksa Revisi Target

Pemain PS Sleman Irfan Jaya (kedua dari kanan) saat menghadapi Borneo FC di BRI Liga 1 2021/2022. (Foto: istimewa)

 

HALO SPORT – PS Sleman mematok 5 besar saat mengarungi kompetisi BRI Liga 1 2021/2022. Namun belum separuh jalan, PSS terpaksa merevisi target. Suporter pun mendesak agar dilakukan perombakan dengan mencoret tiga sosok yang dinilai menyebabkan terpuruknya tim.

PSS mengawali kompetisi dengan hasil yang sesungguhnya tak mengecewakan. Tim sukses menahan Persija Jakarta 1-1. Meski kemudian kalah 3-2 dari Persiraja Banda Aceh, mereka berhasil bangkit dengan menaklukkan tim elite Arema FC 2-1.

Namun PSS kehilangan momen saat menghadapi Madura United dan Persebaya Surabaya. Tim asuhan Dejan Antonic menelan kekalahan beruntun yang berujung adanya tuntutan dari suporter.

Tidak hanya Dejan yang diangap biang kegagalan PSS sehingga harus di-out, namun Direktur Utama PT PSS Marco Gracia Paulo dan bek Arthur Irawan termasuk harus segera didepak. Dari tuntutan itu, Marco yang sudah tersingkir. Melalui rapat sirkulir pemegang saham perseroan, Marco akhirnya diberhentikan. Posisinya digantikan Andywardhana Putra yang sebelumnya menjabat sebagai Direktur Keuangan PT PSS.

Bagaimana dengan Dejan dan Arthur? Andy, sebagai dirut anyar, menyatakan nasib Dejan masih akan dievaluasi setelah putaran kedua berakhir. Atau dua laga pamungkas Super Elja. Dejan sudah melewati ujian pertama saat PSS menang 2-1 atas Borneo FC. Selanjutnya, mereka menghadapi Persikabo 1973, Minggu (7/11/2021). Ini menjadi penentuan bagi eks pelatih Madura United.

“Kalau Arthur lebih bersifat teknis. Selain itu tergantung pemegang saham apakah memutus kontraknya atau tidak,” ucap Andy.

Perombakan memang disiapkan klub karena posisi PSS yang masih berkutat di papan bawah. Bahkan kemenangan atas Borneo FC tak menjadikan peringkat tim melesat jauh. Irfan Jaya dkk hanya naik satu tingkat dengan menduduki peringkat 13. Jarak poin PSS dengan tim-tim yang berada di zona degradasi pun masih dekat. PSS yang memiliki poin 11 hanya unggul tiga dengan Barito Putera yang berada di posisi 16 atau zona merah.

Tak Mudah Perbaiki Peringkat

Persaingan yang ketat dan tak mudah bagi PSS untuk memperbaiki peringkat menjadikan mereka terpaksa merevisi target. Saat Marco masih menjabat sebagai Dirut PT PSS, dirinya optimistis tim bisa menembus lima besar.

Menurut dia pencapaian itu termasuk wajar karena PSS menduduki peringkat delapan saat mengakhiri kompetisi musim 2019. PSS harus menunjukkan peningkatan di setiap musim. Termasuk setelah mencapai target itu, PSS mencanangkan juara liga. Tidak hanya berambisi mengangkat trofi, namun tim Sleman ini ingin mencicipi kompetisi level Asia.

Hanya ekspetasi itu sepertinya tak kesampaian. Dengan posisi seperti sekarang ini dan kompetisi segera mengakhiri putaran kedua, PSS harus bekerja keras untuk naik peringkat. Repotnya lagi, tak sedikit tim-tim kuat yang berada di atas PSS.

“Tidak ada pilihan, kami terpaksa merevisi target mengingat persaingan di liga yang ketat. Kami, sebelumnya, memang memasang target lima besar. Namun kami harus realistis,” kata Andy.

PSS, menurut Andy, harus realistis karena liga musim ini lebih kompetitif. Bagaimana tidak, Persipura Jayapura masih berkutat di zona degradasi dengan menduduki peringkat 17. Tim asuhan Jacksen F. Tiago yang tak lagi diperkuat legenda, Boaz Solossa, baru sekali meraih kemenangan dan sudah tujuh kali menelan kekalahan.

Juara Piala Menpora 2021 Persija Jakarta masih tertahan di peringkat delapan. Bahkan Madura United sudah tersendat di pekan-pekan awal kompetisi. Slamet Nurcahyo dkk baru meraih kemenangan pada pekan keempat setelah mengalahkan PSS dengan skor tipis 1-0.

“Dengan kondisi seperti ini memang agak berat untuk memenuhi target lima besar. Harapan untuk mencapai posisi itu tetap terbuka. Namun kami harus bekerja ekstrakeras. Bila akhirnya tak terpenuhi, saya berharap posisi PSS tidak jauh dari target awal,” ujar Andy lagi.

Bila kembali menduduki peringkat delapan di akhir musim, pencapaian PSS tetap tak mengecewakan. Paling tidak mereka menunjukkan konsistensi meski mengawali liga dengan hasil buruk.

Laga terakhir putaran kedua bisa menjadi penentu. Apakah PSS berhasil bangkit atau justru kembali terpuruk saat menghadapi Persikabo 1973. Kemenangan atas lawannya memang bisa memulihkan kepercayaan diri pemain. Bila gagal lagi, Dejan bisa terdepak.

Meski sesungguhnya pelatih asal Serbia ini masih layak mendapat kepercayaan menangani PSS, namun tidak menutup kemungkinan PT PSS memilih memenuhi tuntutan suporter dengan memberhentikan pelatih. Apalagi evaluasi atas kinerjanya dinilai tak memuaskan.(HS)

Share This

Di Hadapan Ganjar, Mantan Teroris Nyatakan Penyesalan Terdalam

Kuasai Perempat Final Tunggal Taruna Putri, PB Djarum Pastikan Satu Tiket Final