Dukuh Manggisan di Batang Jadi Kampung Bahasa Asing

Gapura Kampung Pusat Bahasa di Dukuh Manggisan, Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. (Foto : Batangkab.go.id)

 

HALO BATANG – Ada yang menarik ketika memasuki Dukuh Manggisan, Desa Amongrogo, Kecamatan Limpung, Kabupaten Batang. Di gapura batas dukuh, terpampang papan besar, bertuliskan “Selamat Datang di Kampung Pusat Bahasa Dukuh Manggisan Desa Amongrogo”.

Ya… Di dukuh itu warganya memang banyak yang belajar dan mempraktikkan bahwa asing. Tetapi berbeda dengan di Kampung Inggris Pare di Kediri, kampung bahasa di Dukuh Manggisan tak hanya memfasilitasi warga yang ingin belajar bahasa Inggris. Di tempat itu, mereka juga belajar bahasa asing lain, seperti Arab, Mandarin, Jerman, dan Jepang.

Pendiri Kampung Pusat Bahasa Dukuh Manggisan, Turjaun menuturkan Kampung Pusat Bahasa ini, didirikan sejak Januari 2019, yang bekerja sama dengan Yayasan Hidayah Bangsa Salatiga.

“Jadi awal mulanya saya bertemu dengan Profesor Mahmud, selaku Direktur Yayasan Hidayah Bangsa Salatiga. Dia juga menjadi dosen di luar negeri. Setalh itu saya memiliki gagasan untuk mendirikan Kampung Bahasa di Kabupaten Batang, dengan tujuan untuk mencerdaskan bangsa,” kata Turjaun, seperti disampaikan batangkab.go.id, Minggu (15/11).

Menurut dia Kampung Pusat Bahasa, berfokus pada upaya pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM). Jika kemampuan SDM-nya tinggi, maka sumber daya alamnya akan tergarap sepenuhnya, sehingga masyarakatnya bisa makin makmur.

“Harapannya ini sebagai percontohan nasional. Jadi tidak hanya Kampung Inggris, tetapi juga mencakup berbagai macam bahasa asing lainnya,” kata dia.

Turjaun menerangkan, pada awal dirintis, Kampung Pusat Bahasa menyediakan lima program bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris, Arab, Mandarin, Jerman, dan Jepang.

Adapun untuk guru, yang didatangkan dari luar negeri. Harapannya nanti Bahasa Inggris dan Mandarin menjadi bahasa wajib, karena kedua Bahasa itu merupakan Bahasa Internasional.

“Banyak produk berbahasa mandarin dipasarkan di Indonesia, sehingga menurut saya bahasa Mandarin juga sangat perlu agar masyarakat tidak tertipu,” ujarnya.

Turjaun mengatakan, jika masyarakat memiliki minimal dua bahasa, maka jika mau kemanapun itu istilahnya tidak akan kesasar.

“Selain itu, bisa juga kita kirim ke perbatasan negara, karena di daerah perbatasan sangat minim pendidikan, sehingga harapannya dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada di perbatasan negara,” imbuhnya.

Turjaun menyampaikan untuk peserta didik di Kampung Pusat Bahasa yaitu 200 orang yang berasal dari berbagai daerah di Kabupaten Batang dengan rentang usia yang beraneka ragam, yang tertua yaitu kisaran umur 40-an tahun.

“Bagi masyarakat yang mau belajar di Kampung Pusat Bahasa Dukuh Manggisan silahkan saja,  gratis tidak akan dipungut biaya sepeserpun. Karena ini niatnya adalah untuk membangun desa,” katanya.

Namun, di tengah pandemi Covid-19, berbagai sektor seperti mengalami mati suri, tak terkecuali di bidang pendidikan. Hal ini juga berimbas pada kegiatan belajar mengajar di Kampung Pusat Bahasa, Dukuh Manggisan.

“Sejak pandemi Covid-19 kegiatan belajar mengajar tidak dilakukan. Hal ini bertujuan untuk mencegah dan memutus rantai penyebaran virus Corona,” imbuhnya.

Jadi, intinya saya berpesan bahasa itu penting, lanjutnya, orang tanpa bahasa, maka akan buta segalanya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.