Halo Semarang
Take a fresh look at your lifestyle.

DPRD Kota Semarang Berharap Program di BLK Menyesuaikan Era, Tak Hanya Pelatihan Menjahit dan Membuat Roti

Jajaran Anggota DPRD Kota Semarang saat melakukan tinjauan ke kantor UPTD Disnaker BLK Mijen yang berlokasi di Jalan RM Hadi Soebeno, Mijen, Kota Semarang, Senin (6/1/2020) siang.

 

HALO SEMARANG – Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Semarang meminta Dinas Tenaga Kerja mengoptimalkan Balai Latihan Kerja (BLK) untuk pelatihan dan pembekalan masyarakat sebelum memasuki dunia kerja.

Hal ini disampaikan Sekretaris Komisi D DPRD Kota Semarang, Anang Budi Utomo saat melakukan tinjauan ke kantor UPTD Disnaker BLK Mijen yang berlokasi di Jalan RM Hadi Soebeno, Mijen, Kota Semarang, Senin (6/1/2020) siang.

Anang menjelaskan, Pemkot Semarang menjadi salah satu kota yang mempunyai dua gedung BLK, yakni di Gayamsari dan Mijen. Hanya saja, optimalisasi gedung BLK tersebut dianggap masih kurang lantaran hanya digunakan sebanyak 19 kali pelatihan pada tahun 2020 mendatang.

“Disnaker hanya memprogramkan 19 kali pelatihan saja selama 2020, sehingga kami minta untuk ditambah volumenya. Di samping itu, program atau kegiatan dan kualitas pelatihan juga harus ditingkatkan menyesuaikan era, dengan era sekarang yang serba digital,” kata Anang.

Dalam program Disnaker, Balai Latihan Kerja melatih 7 program yang dinilainya juga sudah lawas dan tak menyesuaikan perkembangan zaman. Seperti pelatihan jahit garment, tata busana, operator komputer, tata kecantikan, tata boga, membatik dan pembuatan roti. Padahal, lanjut Anang, peluang kerja di era digital sangat luas.

“Kalau modelnya masih lama seperti itu maka akan kehilangan banyak peluang. Era sekarang kan sudah masuk ke era 4.0, sehingga harus disiapkan agar generasi muda mampu berkompetisi pada era sekarang. Jangan sampai kalah dengan tenaga kerja dari luar Semarang atau tenaga kerja asing,” imbuhnya.

Anang mencontohkan, pelatihan modiste atau jahit, maka harus dibarengi dengan pelatihan aplikasi atau online shop.

“Bisa juga ditambah pelatihan star up dan fintech. Tentunya, di sini juga diajarkan untuk penggunaan sistem aplikasi dan internet jaringan yang canggih,” katanya.

Anang berharap, pada tahun 2020 Dinas Tenaga Kerja bisa membuat perencanaan yang baru, sehingga tahun 2021 sudah mulai mengimplementasikan pelatihan berbasis teknologi dan jaringan internet.

Senada dengan Anang, Anggota Komisi D DPRD Kota Semarang, Rohaini menegaskan, DPRD akan mendorong optimalisasi gedung UPTD BLK Mijen.

“Kami mengapresiasi dibangunnya gedung UPTD BLK Mijen yang bisa menjangkau masyarakat hingga pelosok kota. Tentunya, optimalisasi gedung ini harus didukung dengan kualitas dan program yang mumpuni,” kata Rohaini.

Menurutnya, Komisi D akan mendukung program peningkatan sumber daya manusia (SDM) dengan program pelatihan.

“Kami siap membantu Disnaker, jika anggaran pelatihan dirasa kurang, bisa ditingkatkan. Karena selama 2020, anggaran pelatihan BLK hanya Rp 500 juta, padahal angka pengangguran di Kota Semarang yang tercatat di Disnaker mencapai 3.823 orang,” katanya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja Kota Semarang, Sutrisno mengatakan, sejak gedung UPTD BLK Mijen berdiri tahun 2016, pihaknya telah membekali masyarakat sekitar dengan berbagai pelatihan.

Menurutnya, dua gedung Balai Pelatihan Kerja yang dibangun di Gayamsari dan Mijen berfungsi untuk menjangkau dan mendekatkan masyarakat sekitar untuk mendapat pelatihan dan persiapan kerja.

“Semarang kan wilayahnya terbagi beberapa wilayah, sehingga pemerintah memberikan fasilitas mendekatkan masyarakat. Yang di Mijen, Tugu, Mangkang, Ngaliyan, Gunungpati bisa tercover pelatihan di BLK Mijen begitu pula yang di Gayamsari,” jelasnya.

Menurutnya, Disnaker Kota Semarang selalu berupaya mempersiapkan SDM yang siap berkompetisi di dunia kerja dengan mengadakan pelatihan, job fair, mencari link dengan perusahaan-perusahaan, bekerja sama dengan akademisi serta perguruan tinggi.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang