Dosen USM: Public Speaking Diperlukan Guna Peningkatan Pemasaran

Dosen Sekaligus Ketua Tim Pengabdian Masyarakat USM, Tika Ristia Djaya, saat memberikan materi kepada peserta pelatihan public speaking guna peningkatan pemasaran produk Kompag di Kampus USM, Kamis lalu (25/3/2021).

 

HALO SEMARANG – Dosen ilmu komunikasi Universtas Semarang (USM) melalui program pengabdian kepada masyarakat, baru saja memberikan pelatihan public speaking guna peningkatan pemasaran produk Kompag (komunitas partner go food) di gedung Q.1.1, FTIK USM, Kamis lalu (25/3/2021).

Go food , merupakan komunitas Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di era digital, dengan tujuan memenuhi kebutuhan konsumen bidang kuliner.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Tika Ristia Djaya, SIKom MIKom menjelaskan, persaingan UMKM bidang kuliner membuat pedagang semakin termotivasi untuk berinovasi dalam memasarkan produk.

Dosen USM tersebut juga menjelaskan, baik digital maupun analog dilakoninya, bahkan teknik public speaking pun dipraktikkan. Dikatakan, pentingnya kemampuan berbicara di depan publik dalam upaya pemasaran poduk Kompag.

“Hal ini adalah persuasif produk melalui public speaking. Tujuannya untuk mempengaruhi khalayak agar khalayak merubah perilakunya untuk mengkonsumsi atau membeli produk kompag dan peningkatan dari konsumen menjadi pelanggan,” kata Tika kepada halosemarang.id, Senin (29/3/2021).

Menurutnya, persuasif dengan seni bicara mengandung estetika yang dapat menarik perhatian masyarakat.

“Namun sayangnya tak sedikit orang dapat melakukan public spaking dengan baik dan benar, hingga mampu menaruh perhatian audience,” ujarnya.

Tika mencontohkan, salah seorang peserta bernama Bagas, yang mengaku merasa grogi saat berbicara di depan publik.

“Bagas bercerita jika dirinya masih sering merasa grogi, meski sudah sering berbicara di depan umum. Hal itu karena antara gesture dan rangkaian kalimat dengan intonasi, aksentuasi, tempo dan artikulasi penting untuk menciptakan komunikasi yang efektif,” terang Tika.

Dengan demikian, lanjutnya, dalam penyampaian harus memperhatikan seni berbicara seperti bahasa tubuh, penguasaan audience, penyampaian pesan, humor dan tanya jawab.

“Elemen-elemen tersebut dapat menjadi pelengkap, penjelas dan penguat ketika menyampaikan pesan (berbicara),” tandasnya.

Selain itu, lanjut Tika, dalam pelatihan juga dipaparkan mengenai iklan melalui public speaking.

“Iklan bertujuan mengenalkan dan mengingatkan kembali produk yang telah lama tenggelam di benak masyarakat. Dengan public speaking, mengiklankan produk akan meningkatkan daya jual,” imbuhnya.

Tika pun mencontohkan peserta pelatihan lain, Isti, yang menceritakan pengalamannya bahwa produk yang tidak diiklankan akan sulit dikenal masyarakat.

Namun, dengan semakin sering beriklan maka penjualan semakin meningkat. Apalagi ketika beriklan disertai dengan estetika foto yang cukup menarik, maka pesan akan mudah diterima oleh masyarakat karena gambar/foto itu sendiri dapat mewakili pesan.

“Selain itu ada peserta pelatihan lain, Novi yang berharap kegiatan serupa diselenggarakan secara berjangka dengan harapan dapat megikutinya untuk meningkatkan semangat dalam mempromosikan produknya,” ujarnya.

Sebagai penutup, Tika kembali mengungkapkan, pelatihan ini bagian dari pengabdian masyarakat. Karena pengetahuan public speaking sangat diperlukan bagi para pelaku usaha.

Menurutnya, dengan mentransformasikan ilmu seperti hal ini, menjadi tugas dosen sekaligus merupakan kontribusi USM melalui pegabdian masyarakat yang dilaksanakan oleh dosen USM.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.