Dosen USM Berikan Pelatihan Dan Alat Bantu Peningkatan Produksi Tahu Berkah Kudus

Tim Hibah Kompetitif Pengabdian Universitas Semarang (USM) saat berkunjung ke Mitra “Tahu Berkah” di Desa Ploso Kudus baru-baru ini.

 

HALO SEMARANG – Tim Hibah Kompetitif Pengabdian Universitas Semarang (USM) yang terdiri Dr Titin Winarti, Drs Wawan Setiawan, MM dan Edi Widodo, SKom, MKom memebrikan alat guna meningkatkan produktifitas tahu ke Mitra “Tahu Berkah” di Desa Ploso Kudus baru-baru ini.

Kegiatan ini merupakan serangkaian kegiatan Program Kemitraan Masyarakat (PKM) yang didanai oleh Kemristek BRIN Tahun 2021.

Tahu Berkah salah satu usaha yang tidak terkena dampak pandemi Covid-19, dan memiliki cita rasa yang berbeda dengan tahu lainnya.

- Advertisement -

“Cita rasa tahu Kudus memang berbeda dengan tahu Semarang, menurut saya lebih legit dan enak. Tahu berkah tidak menggunakan MSG dan pengawet, ini juga yang istimewa karena sehat,” ungkap Titin.

“Tim pengabdi USM memberikan alat untuk membantu pencucian kedelai berbasis mesin mekanik agar lebih bersih, higienis, dan cepat, serta memberikan bantuan bak pemasak kedelai berbahan stenles, dan alat pengiris tahu semi otomatis,” tambahnya.

Selain itu tim dosen USM juga memberikan pelatihan terkait penggunaan alat-alat tersebut gar bisa bermanfaat secara maksimal, serta pemilik Tahu Berkah juga diajari SOP manajemen mutu dan proses produksi.

Titin menambahkan, bahwa penghasil industri tahu terbesar di Kudus adalah Kecamatan Jati, tepatnya di Desa Ploso. Di sini banyak dijumpai industri skala rumah tangga yang memproduksi tahu untuk mensuplai kebutuhan masyarakat Kabupaten Kudus, Jepara, dan Demak.

Salah satu produsen tahu ini bernama “Tahu Berkah” yang menjadi mitra dalam hibah PKM (Program Kemitraan Masyarakat) tahun 2021 Tim Pengabdi USM.

Pemilik Tahu Berkah bernama Ibu Kustini Istri Pak Makmum, memiliki tenaga kerja sebanyak delapan orang dengan jam kerja dari jam 8.00 pagi hingga jam 18.00 sore.

Dalam sehari, dengan mengerahkan seluruh tenaga kerja dan peralatan yang dimilikinya, Tahu Berkah hanya mampu memproduksi 40-50 kali masak, yang masing-masing proses mengolah 12,5 kg kedelai. Sehingga total produksi per hari sebesar 550 kg kacang kedelai.

Semua hasil produksi tahu langsung diambil oleh pengecer yang jumlahnya kurang lebih 35 orang. Tahu langsung dijual ke pengecer ke daerah Kudus, Jepara, dan Demak.

Tahapan pembuatan Tahu Berkah belum bisa memenuhi permintaan seluruh pengecer, yang diperkirakan mencapai 1.000 Kg.

Hal ini disebabkan beberapa peralatan dan proses yang masih manual, seperti lambatnya proses pencucian karena masih dilakukan secara manual, bak perendaman kedelai perlu dibuat lebih higienis, pemasak yang menggunakan keramik bukan stainless sehingga waktu masak lebih lama dan proses pengirisan tahu yang manual.

Permasalahan ini yang membuat tim pengabdi dari Universitas Semarang tertarik untuk membuat proposal dan diajukan ke Kemenristek BRIN.

“Alhamdulillah, berdasarkan SK No: B/124/E3/RA.00/2021 tanggal 23 Februari 2021 tentang Penerima Pendanaan Pengabdian kepada Masyarakat di Perguruan Tinggi Tahun Anggaran 2021, mendapat amanah RISTEK BRIN untuk melaksanakan proposal yang sudah diajukan dan disetujui.
Ini program hibah pengabdian terakhir di bawah Kementerian Riset dan Teknologi dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek/ BRIN), karena hasil keputusan DPR Kemenristek/BRIN akan dilebur ke Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud),” kata Dr Titin Winarti.

“Semoga lebih baik dan lebih banyak proposal penelitian dan pengabdian yang akan didanai Tahun 2022, serta hasil penelitian dan pengabdiannya lebih bermanfaat bagi masyarakat,” tandas dia.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.