in

Dorong Digitalisasi UMKM untuk Selamatkan Ekonomi Jateng Dari Krisis

Foto ilustrasi: Pelaku UMKM Kendal antusias mengikuti lomba masak yang digelar Forum Pengusaha Kendal belum lama ini.

HALO SEMARANG – Badai krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19 masih menjadi ancaman, salah satunya bagi sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) mengonfirmasi sekitar 50 persen atau setara 30 juta dari 64,2 juta UMKM di Indonesia harus tutup sementara akibat pandemi.

Maka untuk itu, Wakil Ketua DPRD Jateng, Heri Pudyatmoko mendorong pemerintah agar menguatkan program digitalisasi UMKM untuk menyelamatkan ekonomi Jateng dari krisis. Apalagi, katanya, potensi pertumbuhan UMKM Jateng masih sangat besar.

“Jika tidak segera berinovasi, dikhawatirkan potensi UMKM Jateng akan tergerus perkembangan zaman. Pelaku UMKM harus mampu mengikuti tren digital ini,” katanya, Jumat (25/2/2022).

Dikatakan, ada beberapa faktor yang membuat UMKM tidak bisa bertahan di tengah gelombang krisis akibat pandemi. Salah satunya, masalah arus kas atau cash flow. Sebagian besar pelaku UMKM merasakan depresiasi pendapatan selama pandemi.

“Ketidakpastian pasar ternyata memengaruhi permintaan barang yang dijual. Kini, konsumen cenderung melakukan pengeluaran untuk kebutuhan esensial, seperti produk kesehatan. Selain itu mereka lebih memilih membeli segala keperluan secara online ketimbang langsung ke gerai. Tinggal pilih barang di ponsel pintar, klik beli, bayar, dan barang segera dikirim ke rumah,” kata politisi Partai Gerindra ini.

Maka untuk itu, dirinya mendorong adanya upaya masif guna mengubah strategi berdagang konvensional pelaku UMKM ke ranah digital. Di antaranya, dengan peningkatan literasi digital, pelatihan, bimbingan teknis, dan workshop.

“Program pelatihan yang memprioritaskan pemanfaatan dan penguasaan teknologi bagi anak muda dan pelaku UMKM, diharapkan akan mengakselerasi perekonomian Jawa Tengah. Butuh perhatian pemerintah tentang hal ini. Perhatian yang dimaksud bisa berupa alokasi anggaran untuk pendampingan, pelatihan pemanfaatan teknologi digital serta dukungan peningkatan kapasitas pemasaran daring kepada para pelaku UMKM di Jawa Tengah,” katanya.

“Kami sangat mendorong penekanan program percepatan digitalisasi UMKM di Jawa Tengah. Yakni peningkatan kapasitas SDM pelaku UMKM dan dukungan kebijakan kemudahan pasar. Program-program yang perlu disiapkan pun tidak hanya sebatas pada pelatihan tapi juga pendampingan, pembuatan sistem manajemen, hingga penguasaan pada digital marketing,” tegasnya.

Sebagai informasi, pentingnya digitalisasi bagi UMKM merujuk Survei Sosial Demografi Dampak Covid-19 dari Badan Pusat Statistik (BPS). Dari data tersebut, sebanyak 9 dari 10 responden mengaku bahwa aktivitas belanja online mereka meningkat selama pandemi Covid-19. Selain dapat menghindari kerumunan, berbelanja online juga dapat meminimalisasi transaksi secara tunai. Dari permasalahan tersebut, go digital atau digitalisasi dinilai menjadi langkah yang tepat bagi pelaku UMKM untuk menjangkau pasar lebih luas dengan aman.(HS)

Ratusan Warga Rela Mengantre Berjam-jam untuk Mendapatkan Dua Liter Minyak Goreng dalam Operasi Pasar di Kendal

Mahasiswa USM Gelar Upgrading Commite, Ketua Jurusan Manajemen: Organisasi Sarana Pengembangan Diri