in

DLH Kota Semarang: Sampah Medis Penanganan Covid-19 Capai 320 Kilogram Perhari

Foto ilustrasi limbah medis.

 

HALO SEMARANG – Produksi sampah atau limbah medis penangangan pasien Covid-19 di Kota Semarang mencapai 320 kilogram perhari. Limbah tersebut dihasilkan dari fasilitas kesehatan (Fakes), seperti puskesmas, rumah sakit dan rumah sakit darurat Covid-19, serta rumah isolasi pasien Covid-19.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono mengatakan, produksi sampah atau limbah medis dari penanganan pasien Covid-19 saat ini rata-rata mencapai 320 kilogram perhari.

Limbah ini dikategorikan ke dalam limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), umumnya berasal dari fasilitas kesehatan.

“Seperti rumah sakit, puskesmas, termasuk rumah isolasi Covid-19 di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, Balai Diklat Kota Semarang,” katanya, Kamis (25/2/2021).

Penanganan limbah medis ini memang tidak masuk ke TPA Jatibarang. Biasanya dikelola oleh pihak ketiga seperti limbah rumah sakit dr Kariadi, rumah sakit wongsonegoro (RSWN) dan lainnya.

“Limbah itu dikelola dan dimasukkan ke insenalator, untuk dimusnahkan agar tidak mencemari lingkungan,” imbuhnya.

Meski begitu, dari data DLH, masih ada sampah dari masyarakat umum yang termasuk sampah medis, yakni dari masker sekali pakai dan sarung tangan plastik atau hand gloves yang ikut terangkut ke TPA Jatibarang. Sampah ini berasal dari restoran, rumah makan, dan hotel.

“Seharusnya sampah medis dari masyarakat umum juga diolah sesuai standar kesehatan. Produksinya ada sebanyak 1,2 kilogram sampah medis per hari di Kota Semarang yang terangkut di tempat pembungan akhir (TPA) Jatibarang,” terangnya.

Pihaknya meminta kepada masyarakat saat membuang sampah masker sekali pakai, harus dipotong terlebih dahulu. Lebih baik lagi, sebelum dibuang ke tempat sampah disemprot untuk disterilisasi.

“Baru dimasukkan ke kantong plastik, dan dibuang pun dipilah dengan sampah yang lainnya. Agar petugas mengambil dan mengelompokkannya ke sampah medis dari umum,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Semarang, Mochamad Abdul Hakam mengatakan, penanganan limbah Covid-19 dilakukan baik di rumah sakit, di Rumah Dinas Wali Kota Semarang, ataupun di Asrama Haji transit Kanwil Kemenag Jateng yang berada di kawasan Islamic Center Manyaran Kota Semarang.

“Kami mengampu untuk limbah medis di Rumah Dinas Walikota Semarang, Asrama Haji transit Kanwil Kemenag Jateng sampai Puskesmas. Dari mulai dilakukan penyimpanan, hingga pengambilan untuk penanganan lebih lanjut,” kata Hakam.

Semua Alat Pelindung Diri (APD) yang dikenakan petugas kesehatan maupun penderita yang terpapar Covid-19 adalah termasuk limbah Covid-19.

Hakam menambahkan, tidak hanya APD yang termasuk limbah, namun peralatan makan yang digunakan penderita Covid-19 termasuk limbah medis Covid-19.

“APD dari atas sampai bawah, masker, dan tempat makan yang dipakai penderita itu termasuk limbah,” tambah Hakam.

Dalam sehari, limbah medis Covid-19 yang berada di Rumah Dinas Wali Kota Semarang terkumpul hingga ratusan kilogram. Dengan demikian pihaknya terus berupaya agar tidak terjadi penularan dari limbah.

“Di rumah dinas itu bisa mencapai 100 sampai 200 kilogram, makanya di sana per hari ngambilnya. Puskesmas yang rawat inap terkumpul tiga sampai lima kilogram, rawat jalan satu sampai dua kilogram perhari,” pungkas Hakam.(HS)

Share This

Jelang Pelantikan, Dico Resmikan KB Bina Mulia di Desa Sukolilan

Kapolda Jateng Larang Perayaan Usai Pelantikan Bupati-Wali Kota