DLH Kota Semarang: Puluhan Investor Berminat Bangun Proyek PLTSa Jatibarang

Sampah di TPA Jatibarang, akan dikelola untuk menjadi tenaga listrik sekaligus bisa mengurangi jumlah produksi sampah yang mencapai 1000 ton per hari di Kota Semarang.

 

HALO SEMARANG – Sejumlah investor menyatakan minatnya untuk membangun Proyek pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) di Kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatibarang.

Meskipun sampai saat ini kajian atau Financial Business Case (FBC) masih belum selesai. Dan diharapkan pada tahun 2021 ini sudah masuk lelang dan sekaligus mulai pembangunannya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Semarang, Sapto Adi Sugihartono mengatakan, terkait proyek pembangunan PLTSa Jatibarang, sampai saat ini, memang kajiannya belum selesai.

Meski begitu, diharapkan pembangunannya segera terwujud pada tahun 2021.

“Tahun 2021 ini, direncanakan sudah mulau proses lelang proyek PLTSa Jatibarang. Dari lelang itu, nanti siapa yang akan mengelola PLTSa ini,” katanya, Selasa (2/3/2021).

Sapto menambahkan, saat ini sudah ada puluhan investor yang menyampaikan minatnya untuk menjadi patner pemerintah kota Semarang dalam pengelolaan PLTSa Jatibarang.

“Mekanismenya, nanti tetap siapa yang menjadi patner ditentukan dari proses lelang, dengan skemanya pembiayaan Kerjasama Pemerintah Badan Usaha (KPBU),” terangnya.

Sehingga, lanjut Sapto, dengan adanya proyek PLTSa Jatibarang bisa mengurangi produksi sampah 1000 ton per hari.

“Nantinya, kapasitas PLTSa ini bisa menghasilkan listrik sebesar 20 megawatt. Kapasitas ini, lebih besar dari PLTSa sebelumnya dengan teknologi landfill gas, yang hanya sebesar 800 kilowatt,” katanya.

Sementara itu, Perwakilan Hanlang, Piang Awal Kalim, mengatakan, rencana pembangunan PLTSa di TPA Jatibarang pada awal tahun 2021. Dan 2023 sudah operasional.

“Ini studi pembangunan PLTSa sudah hampir selesai, dan market sounding sudah dilakukan tahun 2019 lalu. Dan tinggal menunggu pelaksanaan tender,” katanya.

Perbedaan PLTSa ini dengan yang sekarang ada, dengan mengambil gas CH4 atau metan. Secara umum, masih meninggalkan sisa sampah.

“Berbeda kalau dengan teknologi pembakaran sampah akan menjadi wast to energi yang minim limbah,” ujarnya.

Selain itu, dengan teknologi insenerator ini, kata dia, tidak butuh waktu lama untuk memproses sampah sampai menghasilkan energi listrik.

“Prosesnya langsung, dan tiap hari bisa mengolah hingga 1000 ton sampah,” ungkapnya.

Tujuan utama menghilangkan sampah, yang selama ini di kota kota lain belum ada. “Sekarang yang sudah ada yang hilang hanya 20 persen. Dalam teknologi insenerator di atas 80 persen sampah hilang.

“Meski ada sisa bisa dimanfaatkan untuk pembangunan jalan tol,” paparnya.

Menurutnya, melihat kondisi sampah di TPA Jatibarang yang masuk 1000 ton per hari, jika tidak diolah akan berdampak pada lingkungan.

“Seperti terjadinya longsor saat musim hujan, racun yang meresap ke dalam tanah, dan nanti anak cucu kita yang mengkonsumsi air tersebut. Belum lagi efek penyakit lainnya, bisa kanker, dan berbahaya untuk ibu hamil,” imbuhnya.(HS)

bawah-berita-dprd-semarang
Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.