in

DKP Kendal Gelar Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan

Acara Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan, Kegiatan Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Selasa (17/5/2022).

HALO KENDAL – Cara pembudi dayaan ikan yang sehat, baik sehat lingkungan, sehat ikan, sehat proses produksi dan sehat usaha, menjadi faktor penting untuk mendapatkan produk perikanan budi daya yang aman dikonsumsi.

Terdapat empat jaminan kesehatan ikan dan lingkungan, antara lain jaminan keberhasilan produksi, jaminan ikan aman dikonsumsi, jaminan ikan dapat dipasarkan ke luar negeri, dan jaminan lingkungan budi daya tetap lestari.

Hal tersebut disampaikan Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Hudi Sambodo dalam acara Pelatihan Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan, Kegiatan Pengelolaan Pembudidayaan Ikan, di Kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kendal, Selasa (17/5/2022).

Dikatakan, untuk mewujudkan hal tersebut salah satu faktor pendukungnya adalah adanya pengendalian hama dan penyakit ikan. Pengendalian hama dan penyakit ikan dimaksudkan untuk mengendalikan serangan dan penyebaran penyakit.

“Beberapa hal dapat dilakukan antara lain melalui kegiatan vaksinasi ikan, monitoring penyakit ikan, penyusunan sebaran peta penyakit ikan, penyusunan pedoman vaksinasi, dan harmonisasi peraturan perundang-undangan tentang penyakit ikan,” ujar Hudi.

Namun, lanjutnya, hal yang paling penting adalah masyarakat pembudi daya ikan perlu memahami berbagai macam hama dan penyakit ikan, faktor penyebab dan cara pencegahan.

“Selain itu, bagaimana mengatasinya apabila ikan yang dibudi daya telah terjangkit suatu penyakit,” imbuhnya.

Kegiatan Sosialisasi Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan menghadirkan nara sumber Perwakilan FKIP Undip, dr Sarjito, Pokdatan Limbangan Heru dan dihadiri Anggota Komisi B DPRD Kendal, Sri Supriyati dan Gus Iqbal.

Hudi mengungkapkan, hama dan penyakit ikan sering dialami para pembudi daya ikan. Namun banyak para pembudi daya yang masih belum paham apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya.

“Untuk itu, para pembudi daya perlu memahami bagaimana cara mengendalikan hama dan penyakit pada ikan yang dibudi dayakan, karena bagaimanapun upaya pencegahan lebih baik dari pada mengobati,” ungkapnya.

Sementara dalam paparannya, dr Sarjito selaku nara sumber dari FKIP Undip menyampaikan definisi dari hama dan penyakit. Hama merupakan organisme pengganggu yang dapat memangsa, membunuh, dan mempengaruhi produktifitas ikan.

“Sedangkan penyakit merupakan terganggunya kesehatan ikan yang diakibatkan oleh berbagai sebab yang dapat mematikan ikan. Beberapa jenis hama, predator, penyaing, perusak sarana, dan pencuri,” bebernya.

Beberapa cara pencegahan terhadap hama dan penyakit antara lain, pemasangan waring/pemagaran di sekeliling kolam/tambak, pengeringan dan pengapuran kolam sebelum digunakan, pemasangan saringan pada saluran inlet, pembersihan di sekitar kolam/wadah budi daya dan pemasangan senar/tali/waring di atas kolam.

“Sedangkan pemberantasannya dengan cara penggunaan kaporit, chlorin, saponin atau yang lainnya asal tidak berbahaya atau bukan bahan kimia berbahaya serta dengan menggunakan alat tertentu, seperti biawak, ular, linsang, ikan dan lain-lain,” imbuh dr Sarjito.

Dijelaskan, ciri-ciri atau tanda-tanda ikan yang sehat, yaitu ikan nampak bersih, terlihat cerah atau mengkilat, tidak terdapat perubahan warna baik titik-titik, bercak-bercak atau perubahan total, tidak terdapat benjolan-benjolan atau luka pada seluruh permukaan kulit dan insang.

“Selain itu, perut tidak melembung, insang bersih, berwarna merah segar, tidak mengeluarkan lendir yang berlebihan, sirip punggung tidak lembek, ekor selalu membuka, berenang normal, respon terhadap pemberian pakan, gerakan lincah atau gesit dan feces putus-putus saat keluar dari lubang sekresi,” jelas Sarjito.

Penyakit dapat disebabkan oleh stres, kekurangan gizi, pemberian pakan berlebihan, keracunan (limbah), memar, cacat serta kualitas air.

Peningkatan daya tahan tubuh ikan (sistem kekebalan) dapat dilakukan dengan beberapa cara antara lain, vaksin, yakni memberikan kekebalan tubuh melalui pembentukan antibodi spesifik, imunostimulan, yakni merangsang kekebalan non-spesifik, misalnya aktivitas fagositosis (sel pembunuh kuman).

“Selain itu pemberian vitamin C, untuk mencegah kelainan tulang, meningkatkan ketahan terhadap penyakit, mengurangi pengaruh stres, mempercepat penyembuhan luka, mempercepat pertumbuhan dan probiotik, untuk meningkatkan daya cerna,” ujarnya.

Apabila ikan yang dibudi dayakan telah terjangkit suatu penyakit, penggunaan obat perlu dilakukan. Obat yang digunakan harus memiliki nomor pendaftaran, tidak kadaluwarsa, kemasan utuh dan tidak ada perubahan fisik.

“Selain itu dosis sesuai label dan tidak termasuk zat aktif yang dilarang sesuai dengan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 52 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Obat Ikan,” pungkas dr Sarjito.(HS)

Ali Sesay Resmi Gabung PSIS

Hadiri Halal bi Halal Paguyuban Kades “Bahurekso”, Ini Harapan Bupati Kendal