in

Dituntut Kreatif Di Masa Pandemi, Agus Kembangkan Budi Daya Bonsai Kelapa

Agus saat sedang menyirami tanaman bonsai miliknya.

 

SETELAH malang melintang terjun pada dunia bisnis, Agus Supriyadi (44) warga Kota Semarang, Jawa Tengah akhirnya berlabuh mengembangkan budi daya tanaman bonsai kelapa.

Baginya, dunia bonsai kelapa merupakan hal baru. Dengan mengandalkan belajar dari sosial media, ia membulatkan tekad untuk memulai bisnis itu dari nol pada Oktober 2020 silam.

“Waktu itu sudah pandemi saya bingung mau bisnis apa. Akhirnya saya pilih bonsai kelapa dengan beberapa pertimbangan, yaitu bahan mudah didapat, segmentasi pasar bonsai kelapa masih terbuka luas,” tutur Agus saat ditemui di kebunnya yang memanfaatkan kawasan hutan Kota Semarang, kompleks Taman Budaya Raden Saleh (TBRS), Sabtu (24/7/2021).

Ia tak menampik bahwa kondisi wabah saat ini menuntut dirinya lebih kreatif dalam berbagai hal, terutama mampu bertahan dan memenuhi kebutuhan hidup.

“Kesulitan memang ada di awal-awal, sebab bonsai kelapa adalah hal baru bagi saya. Jadi harus belajar, minimal bonsai itu tidak mati,” katanya sambil merawat tanaman bonsai kelapa miliknya.

Ia tidak hanya mendatangkan tanaman bonsai sudah jadi dari sejumlah daerah di Jawa Tengah. Namun, Agus telah mampu membuat pembibitan sendiri hingga menjadi bonsai kelapa.

Sembilan bulan terlewati, Agus telah memiliki ratusan tanaman bonsai kelapa dari berbagai jenis, bentuk, dan ukuran. Mulai dari kelapa gading, kelapa sayur jenis hijau, kuning, cokelat, dan oranye.

“Dalam kurun waktu enam bulan atau satu tahun sudah mulai kelihatan bentuknya. Sudah mulai tumbuh empat sampai lima daun, dan sudah enak untuk dipandang. Sedangkan kalau mau jual cepat, dari benih saja sudah bisa kita jual,” ujarnya sambil menunjuk jenis-jenis bonsai kelapa kepunyaannya.

Akan tetapi, dikatakannya, ihwal keindahan dari bonsai kelapa tergantung pribadi masing-masing melihatnya. Meski begitu, dari sejumlah jenis bonsai kelapa miliknya terdapat yang memiliki keistimewaan. Yaitu bonsai kelapa kembar dan cabang.

“Dua bonsai itu tergolong unik. Dari sekitar 250 biji kelapa, hanya dua yang terbentuk kembar dan itu harganya ya di atas yang biasanya,” pria yang pernah menggeluti dunia mebel ini.

Diutarakannya, terdapat media untuk pertumbuhan tanaman bonsai kelapa, dengan menggunakan media tanah, sekam, dan menggunakan media air.

“Menggunakan media tanam air, akar akan tumbuh dengan cepat dan banyak, selain itu monitoringnya juga mudah. Kalau program bonsai kelapa daun, lebih bagus pakai media tanah, nutrisinya banyak. Atau mau kombinasi keduanya juga lebih bagus, bawah media air, atasnya tanah,” papar pria yang juga tergabung dalam komunitas pecinta mobil Toyota Kijang Club Indonesia (TKCI) ini.

Ia menyebut, tanaman bonsai kelapa mempunyai pasarnya sendiri. Melalui mulut ke mulut, memanfaatkan jejaring media sosial, hingga mengikuti pameran.

“Kalau di pasar umum, kebanyakan banyak yang minat bonsai kelapa melayang atau nungging. Yang diperlihatkan keunikan batok kelapa yang ditopang dengan akarnya, ditambah dengan keindahan daunnya,” ucap ayah dua anak ini.

Perihal harga, ia menawarkan bonsai kelapa miliknya mulai dari Rp 200 ribu hingga Rp 500 ribu. Tergantung pada jenis, bentuk, usia dan ukurannya yang memiliki harga jual bermacam-macam.

“Yang membuat mahal itu bentuk yang indah, dan kesuburan bonsai itu sendiri,” terang Agus sembari menunjukkan dokumentasi bonsai kelapa yang telah laku di ponselnya.

Meski masih terbilang bisnis rintisan, ia juga terbuka kepada siapa pun dalam hal ilmu budi daya tanaman bonsai kelapa. Baik sekadar tukar pengetahuan maupun praktik di kebun.

“Silakan yang ingin datang ke sini belajar bareng membuat bonsai. Saya juga menyediakan bibitnya untuk mereka belajar, mulai dari Rp 20 ribu sampai Rp 25 ribu,” papar pria yang masih tercatat aktif sebagai Tenaga Sukarela di Palang Merah Indonesia Kota Semarang ini.(HS)

Share This

PSSI dan Polri Sepakat Kerja Sama, Akankan Kompetisi Bisa Digelar?

Wajib Seimbangkan Neraca Keuangan