in

Ditemukan Tanpa Sengaja, Mata Air “Tiban” Diharapkan Mampu Menggeliatkan Wisata Kampung Ragam Warna Kaliwungu

Warga mengunjungi Kampung Ragam Warna untuk menikmati air "tiban" di Kampung Ragam Warna, Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu.

SEJAK dikabarkan munculnya mata air “tiban”, setiap hari semakin banyak orang yang menyambangi Kampung Ragam Warna, di Desa Kutoharjo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Dari pagi hingga malam hari, para pengunjung datang dengan beragam kepentingan.

Sejak ditemukan tanpa sengaja oleh salah seorang warga Kampung Mranggen RT 02 RW 01 sekira sepekan lalu, mata air yang muncul tiba-tiba dari sebuah bongkahan akar pohon bolu di salah satu sisi puncak timur kampung tersebut langsung ramai dikunjungi warga. Warga kemudian menamainya mata air “tiban”.

Pohon bolu atau sering disebut pohon beringin pencekik, dengan nama latin ficus annulata, diketahui merupakan pohon raksasa yang mampu menampung atau menyimpan air dalam jangka waktu lama pada akar-akarnya.

Akhirnya orang-orang penasaran untuk melihat secara langsung keberadaan mata air “tiban” ini. Sebagian warga pun ada yang mencoba membasuh muka dengan air jernih yang mengalir secara alamiah tersebut. Bahkan tak sedikit pula yang coba meminum dan mandi di lokasi.

Menurut para pengunjung yang coba mencicipi atau meminum air “tiban” itu mengaku, air berasa segar dan tawar, namun seperti ada manis-manisnya. Mirip sebuah iklan air mineral ternama.

Rasa air “tiban” yang mirip air mineral ternama ternyata bukan isapan jempol. Sebab, berdasar hasil penelitian sementara dari salah seorang warga yang bekerja di laboratorium, air dari mata air “tiban” itu memang memiliki kandungan mineral terbilang tinggi, juga diyakini lebih tinggi dari air pada umumnya.

Dengan kandungan mineral tinggi, diyakini air dari mata air “tiban” aman dikonsumsi dan menyehatkan. Namun, akan lebih bijaksana jika menunggu pemegang otoritas setempat melakukan penelitian lebih lanjut.

Kemunculan Mata Air “Tiban”

Ketua RT 02 Ahmad Yasin atau akrab disapa Mbah Jagan, orang yang kali pertama menemukan mata air “tiban” mengaku keheranan dengan kemunculan air jernih yang terus mengalir itu.

Apalagi, lokasinya berada di puncak perbukitan Bumi Jabal Kaliwungu, yang berdekatan di sisi selatan komplek Makam Waliku. Padahal diketahui, area itu tidak ada jaringan PDAM maupun sumur.

Didampingi Seno “Kecel”, selaku pengelola Kampung Ragam Warna, Yasin meyakini bahwa kemunculan mata air “tiban” ini murni kuasa Illahi.

“Kami pun bergerak cepat, bersama warga yang lain langsung membenahi lokasi. Mata air itu langsung kami pasangi pipa PVC untuk mengalirkan air ke bak penampungan yang kami buat mendadak, berdekatan dengan Pos Kamling. Kemudian di sebelahnya diletakkan sebuah kotak sumbangan bagi para pengunjung,” ungkapnya, Senin (1/7/2024).

Seperti warga Kampung Mranggen, Desa Kutoharjo yang lain, Yasin dan Seno berharap, mata air “tiban” ini bisa memberikan manfaat dan keberkahan bagi Kampung Ragam Warna.

“Supaya Kampung Ragam Warna kembali menggeliat dan tetap diminati sebagai salah satu destinasi wisata andalan Kota Santri Kaliwungu,” harap Yasin.

Dukungan Pemerintah Desa

Sebelumnya, Kepala Desa Kutoharjo, Ivan Styawan saat mendatangi mata air “tiban” mengaku siap memfasilitasi pembangunan area seputar lokasi.

Dirinya berharap mata air “tiban” itu bisa lebih bermanfaat bagi warga dan masyarakat sekitar, sekaligus meningkatkan kunjungan wisata di Kampung Ragam Warna.

“Pada prinsipnya, jika diperlukan kami siap memfasilitasi pembangunan mata air “tiban”, supaya lebih memberikan manfaat bagi masyarakat. Selain itu demi kemajuan Kampung Ragam Warna. Kita lihat perkembangannya nanti seperti apa,” ujar Ivan. (HS-06)

 

Puluhan Pelajar Kota Semarang Bersaing Ciptakan Inovasi Keselamatan di Bidang Lalu Lintas

Didampingi Suami dan Anak, Mbak Ita Terima Tim Pantarlih untuk Pilkada Semarang 2024