Diresmikan, Planetarium UIN Walisongo Diharapkan Bisa Jadi Pusat Riset dan Destinasi Wisata Luar Angkasa

Gedung Planetarium UIN Walisongo Semarang, memiliki teleskop untuk riset dan pengamatan benda luar angkasa.

 

HALO SEMARANG – Kini UIN Walisongo Semarang telah memiliki tempat riset sekaligus pengamatan benda-benda di luar angkasa yang diberi nama Planetarium UIN Walisongo. Tempat yang dijadikan pusat riset Ilmu Falak atau ilmu pengetahuan tentang lintasan benda langit.

Selain menjadi pusat riset, planetarium ini ke depan bisa menjadi magnet destinasi wisata. Para pengunjung nantinya bisa berselancar melihat cakrawala dan benda-benda luar angkasa dengan alat dan fasilitas yang tersedia di sana.

Planetarium ini diresmikan bersama tujuh gedung lain yang dibangun di lahan seluas 26.400 m2. Di antaranya ditunjang kelengkapan fasilitas laboratorium, observatorium, perpustakaan dan infrastruktur teknologi informasi.

“Pembangunan telah selesai. Sejumlah fasilitas ini siap digunakan untuk kegiatan akademik di tahun 2021 ini,” ungkap Rektor UIN Walisongo Semarang Prof Dr Imam Taufiq, MAg.

Proyek tersebut merupakan Program The Support to Development of the Islamic Higher Education Project, sebuah mega proyek pengembangan Pendidikan Tinggi Islam dari Islamic Development Bank (IsDB).

Penambahan sejumlah fasilitas canggih tersebut menjadi upaya menaikkan level UIN Walisongo Semarang menjadi kampus bertaraf internasional.

“Adanya program ini, maka peningkatan akses, kualitas dan manajemen project di UIN Walisongo Semarang akan dapat berjalan dengan baik menuju visi kami di tahun 2038 menuju Universitas Islam Riset Terdepan Berbassis pada Kesatuan Ilmu Pengetahuan untuk Kemanusiaan dan Peradaban,” ungkapnya.

Dia berharap, program ini berdampak signifikan dalam peningkatan mutu akademik. “Kami berterima kasih kepada IsDB, Bapennas, Kementerian Agama dan seluruh pihak yang terlibat dalam program ini,” tambah Prof Imam.

Peresmian yang gelar secara virtual tersebut disaksikan langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Yaqut Cholil Qoumas. Menag berharap agar fasilitas baru ini UIN Walisongo ini berpotensi menjadi salah satu role model perguruan tinggi di lingkungan Kementerian Agama.

“Saya berharap UIN Walisongo Semarang dapat menjadi tempat terbaik untuk melakukan kolaborasi dan sinergis serta tampil menjadi Perguruan Tinggi modern dan model PTKIN lain di Indonesia,” ujarnya, baru-baru ini.

The Head of the IsDB Regional Hub Indonesia, Mr Salah Jelassi, mengatakan fasilitas tersebut agar berdampak besar pada pembangunan Human Index di Indonesia, terutama di perguruan tinggi Islam.

“Pengembangan Pendidikan tinggi di Perguruan tinggi Islam terus kami dorong untuk dapat menyumbang kontribusi besar dalam peningkatan Human Index, semoga peningkatan ekonomi dan lingkungan sosial dapat terus mengalami peningkatan berkelanjutan sejalan dengan kemajuan perguruan tinggi Islam,” jelasnya.

Dosen Astronomi, Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Walisongo, Muhammad Nurkhanif mengatakan, gedung Planetarium di lantai satu digunakan sebagai galeri, dan lantai dua, memiliki kapasitas total 160 kursi.

Planetarium ini, kata dia, merupakan bangunan berkubah setengah lingkaran untuk memperlihatkan atau memperagakan susunan dan gerakan bintang-bintang di langit.

Layaknya sebuah gedung bioskop, sebagai tempat menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar. Kalau bioskop menggunakan layar lebar, sedangkan planetarium menggunakan kubah dalam bentuk setengah lingkaran. Sehingga penonton seolah-olah berada di tengah-tengah bola langit.

Dia menjelaskan bahwa selain menjadi tempat riset Ilmu Falaq untuk Prodi S1, S2 dan S3 Ilmu Falaq, planetarium tersebut tidak hanya untuk kalangan akademisi maupun mahasiswa, tapi masyarakat bisa memanfaatkan untuk menambah pengetahuan mengenai isi antariksa menggunakan berbagai alat seperti teleskop, teropong bintang, dan peralatan canggih lainnya. Harapan, tempat ini bisa untuk tempat magang,  dari mahasiswa prodi ilmu Falaq di seluruh Indonesia.

“Planetarium merupakan bangunan berkubah setengah lingkaran untuk memperlihatkan atau memperagakan susunan dan gerakan bintang-bintang di langit. Layaknya sebuah gedung bioskop, sebagai tempat menonton pertunjukan film dengan menggunakan layar lebar.
Sedangkan Observatorium merupakan bangunan yang dilengkapi alat-alat seperti teleskop, teropong bintang, dan peralatan-peralatan lain untuk keperluan pengamatan dan penelitian ilmiah tentang perbintangan,” pungkasnya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.