Direktur RSUD Muntilan Tegaskan Tak Ada Pasien Dicovidkan

Direktur RSUD Muntilan dokter M Syukri, dalam konferensi pers Penanganan Covid-19, di ruang Command Center Setda Kabupaten Magelang. (Foto : Magelangkab.go.id).

 

HALO MAGELANG – Rumah Sakit Umum Daerah Muntilan, sebagai salah satu fasilitas kesehatan rujukan Covid-19, sejak awal sudah membentuk tim penanganan Covid-19. Hal ini antara lain agar data pasien yang terkonfirmasi Covid-19 selalu valid.

“Keputusan pasien Covid atau bukan, adalah tim yang menentukan. Sehingga tidak satu dokter yang menentukan. Ini untuk menghindari yang ramai pasien di-covid-kan,” ungkap Direktur RSUD Muntilan dokter M Syukri, seperti dirilis Magelangkab.go.id.

Menurut Syukri menyebutkan kesiapan fisik atau ruang perawatan di RSUD Muntilan, meliputi bangsal isolasi Covid-19 berjumlah 35 tempat tidur dan akan dikembangkan menjadi 43 tempat tidur.

Kemudian ruang isolasi standar ICU, sebanyak 6 dan akan dikembangkan menjadi 8 tempat tidur.

Ruang isolasi biasa sebanyak 29 menjadi 35 tempat tidur. Ruang isolasi IGD sebanyak satu tempat tidur, serta kamar operasi khusus dan ruang persalinan juga khusus pasien Covid-19 masing-masing satu ruangan.

“Untuk pasien Covid-19, kita fokuskan di seberang Kali Lamat, jadi tiga bangsal, yaitu Bangsal Mawar, Anggrek dan Dahlia,” tambah dokter Syukri.

Saat ini RSUD Muntilan memiliki Sumber Daya Kesehatan berjumlah 551 tenaga, serta satu dokter baru yaitu spesialis paru-paru.

Sampai dengan Januari, RSUD Muntilan sudah merawat total 431 pasien, dengan rincian 267 suspek dan 164 terkonfirmasi Covid-19. Sebanyak 390 pasien berhasil sembuh.

“Terlepas dari itu, RSUD Muntilan juga kerap melakukan tracing kontak erat terhadap petugas kesehatan,” imbuh Syukri.

Di samping kesehatan fisik, RSUD Muntilan juga mendatangkan psikolog. “Hal ini untuk menenangkan para petugas kesehatan supaya tidak tertekan dan stress karena saat orang lain berada di rumah, mereka harus terus berada di rumah sakit,” tandasnya.

Sebelumnya, dalam beberapa hari terakhir, muncul kabar tentang dugaan adanya rumah sakit yang mengcovidkan pasien, demi memperoleh dana dari Kemenkes.

Terkait rumour rumah sakit mengcovidkan pasien, juga mendapat perhatian sukarelawan medis Covid-19, sekaligus pegiat media sosial, dokter Tirta Mandira Hudhi.

Dalam Instagram pribadinya, Sabtu 30 Januari 2021, Tirta pun menyayangkan beredarnya rumor tersebut. Menurut dia, pihak penyedia jasa pelayanan kesehatan, akan mengacu pada peraturan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Hal itu merupakan bentuk perlindungan paling dini bagi tenaga kesehatan,

“Ada aturan di Permenkes dan itu berdasarkan dari WHO. Siapapun yang meninggal dalam keadaan dadakan dan tidak diketahui penyebabnya, itu wajib diswab terlebih dahulu. Ini adalah salah satu bentuk proteksi ke nakes,” kata dokter Tirta, dalam akun Instagramnya.

Para tenaga kesehatan, menurut dia juga tidak bisa serta merta menentukan bahwa pasien berstatus positif Covid-19. Mereka harus selalu melihat gejala yang dirasakan pasien.

Sementara itu, bagi pasien meninggal karena kecelakaan dan tidak terbukti positif Covid-19, maka pihak rumah sakit tetap menyerahkan kewenangan pada keluarga pasien.

“Kalau itu hasil swab lama, tetapi jika ada gejala-gejala mirip Covid-19, maka pasien dikuburkan secara Covid-19. Jadi bukan dicovidkan. Itu untuk keamanan kalian juga,” kata dokter Tirta.

Adapun untuk pasien meninggal karena kecelakaan dan sebelumnya tidak ada bukti, bahwa yang bersangkutan mengidap Covid-19, maka akan dikuburkan secara biasa.

Selain itu jika dia meninggal dadakan dan hasil swab positif, berarti dia bisa jadi meninggal karena Covid-19.

“Untuk lebih amannya dimakamkan secara protokol Covid-19. Jadi bukan dicovidkan, gak ada uangnya,” katanya. (HS-08)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.