Diprotes, Pedagang Korban Kebakaran Pasar Weleri I Tetap Nekat Dirikan Lapak Di Tengah Jalan

Lapak sementara yang didirikan pedagang di Jalan Sutomo, Desa Penyangkringan, Kecamatan Weleri.

 

HALO KENDAL – Meski mendapat protes dari pedagang tetap Pasar Weleri II, penutupan Jalan Sutomo, Desa Penyangkringan, Kecamatan Weleri, Kendal tetap dilanjut oleh para pedagang korban kebakaran Pasar Weleri I untuk pembangunan lapak sementara.

Padahal pihak terkait, baik Dinas Perdagangan, Dinas Perhubungan maupun pihak Kecamatan Weleri tidak mengizinkan penutupan jalan tersebut, karena untuk relokasi pedagang korban kebakaran Pasar Weleri I sudah ada lokasi pasar darurat.

Menurut Ahmad pedagang roti di Pasar Weleri I mengatakan, pembangunan lapak sementara di Jalan Sutomo adalah keinginan pedagang.

“Ini murni keinginan pedagang dan karena letaknya di Desa Penyangkringan, maka pihak desa hanya memfasilitasi. Semua biaya dari kami, pedagang. Karena kami butuh hidup dan berjualan kembali. Jika menunggu dari pemkab, prosesnya lama, paling tidak Maret baru ada,” kata Ahmad, Senin (21/12/2020).

Pedagang yang sudah berjualan di Pasar Weleri I sejak tahun 1980 tersebut menilai, Pemkab Kendal lamban dalam menangani dan menyediakan pasar darurat.

“Jika responnya cepat kami tidak akan membangun lapak ini. Jadi pihak desa hanya memfasilitasi lewat Karang Taruna setempat. Kami memang dikenakan biaya Rp 1,5 juta, karena itu untuk biaya pembangunan,” ungkapnya.

Saat ditanya apabila nanti pasar darurat sudah dibangun, apakah para pedagang akan pindah, Ahmad mengatakan, di pasar darurat nantinya masih belum menampung seluruh pedagang.

Sementara itu pedagang lainnya Rudi, yang juga korban kebakaran mengungkapkan hal yang sama. Dia merasa sangat terbantu dengan fasilitas yang diberikan pihak desa.
“Kami memang berencana mencari tempat berjualan, di mana ada tempat akan kami tempati karena kami butuh makan. Dan oleh pihak Desa Penyangkringan dibantu fasilitasi dan kami berterima kasih,” ujar Rudi.

Sementara itu Camat Weleri, Nur Kholis dengan tegas mengatakan, pihaknya tidak mengizinkan berdirinya lapak sementara di Jalan Sutomo tersebut. Saat dimintai persetujuan pihak desa pun, dirinya menolak dan meminta pembangunan dihentikan.

“Saya sudah memerintahkan untuk pembangunan dihentikan karena itu akses jalan,” ujar Nur Kholis.

Pembangunan lapak di tengah jalan, juga mendapat penolakan dari pemilik toko yang ada di sepanjang Jalan Sutomo. Pasalnya selain mengurangi kunjungan pelanggan, penutupan jalan juga membuat para pelanggan harus jalan jauh untuk menuju tokonya.(HS)

Pembaca lain, menyukai ini

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.