in

Dipoles Jadi Kampung Tematik Masjid Sekayu, Begini Kenampakannya

ń∂enampakan relief sejarah berdirinya Masjid Sekayu di Kampung Sekayu, baru-baru ini.

SUASANA nampak berbeda saat menyusuri kampung Tematik Masjid Sekayu yang berada tidak jauh dari Mal Paragon dan kompleks Balai Kota Semarang, di Jalan Pemuda, Kota Semarang. Dari pantauan halosemarang.id, Senin (11/6/2024) siang, saat masuk ke Kampung Sekayu, wilayah tersebut nampak rapi dan tertata serta lebih bersih. Terutama area sekitar Masjid Taqwa Sekayu. Selain jalannya yang kini sudah dilapisi paving juga terdapat relief sejarah pembangunan Masjid Sekayu yang menarik perhatian warga sekitar maupun pendatang, karena terpampang di jalan masuk kampung tersebut.

Bahkan, karena penasaran, beberapa warga pun singgah dan berfoto di dekat bekas lokasi cafe Gethe Lama, yang dekat dengan relief.

“Relief ini memang baru terpasang tahun lalu, kadang ada pendatang yang ingin sekadar foto maupun yang ingin tahu tentang sejarah Masjid Sekayu. Selain bisa menikmati suasana sore hari sampai menjelang malam, warga juga bisa duduk santai di cafe dekat masjid sini,” kata Ahmad, salah satu warga Sekayu saat ditemui Senin (11/6/2024).

Adapun relief ini sendiri adalah hasil karya seniman Sekayu yang dibantu pemahat dari Borobudur dan batunya juga dari kawasan Borobudur. Sedangkan dana pembangunannya dari bantuan APBD Kota Semarang.

Di relief sejarah berdirinya Masjid Sekayu ini dijelaskan mengenai proses pembuatan masjid pada tahun 1413 M. Meski jika dilihat sekilas tidak berbeda dengan masjid lainnya, namun konon ini adalah salah satu masjid tertua di Jawa Tengah. Tiang penyangga atau soko masjid yang berjumlah empat buah juga masih digunakan dan berdiri kokoh sampai sekarang.

Ketua Takmir Masjid Taqwa Sekayu, Kurnia Fachrurrozy mengatakan, berdasarkan dokumen dari Dinas Purbakala Pusat di Jakarta, masjid yang kini bernama Masjid Taqwa Sekayu tersebut dulu bernama Masjid Pekayuan. Masjid tersebut pertama kali didirikan dengan bahan kayu, beratap rumbia, tiang dari bambu, dan lantai tanah murni. Selang waktu, Masjid Taqwa Sekayu direnovasi dan mengalami pemugaran.

Dalam perkembangannya, Masjid Sekayu lantas dipugar dan mendapat hadiah dari Raden Patah, Raja Demak berupa tiang pendopo yang difungsikan sebagai tiang penyangga masjid. Awal pembenahan masjid terjadi sekitar tahun 1666.

Fachrurrozy menyebutkan, ada tokoh penting di balik berdirinya Masjid Taqwa Sekayu, yakni Kiai Kamal.

Dalam hikayat itu, disebutkan bahwa Kiai Kamal adalah seorang murid dari Sunan Gunung Jati. Dan kala itu Kiai Kamal diperintahkan untuk masuk ke wilayah Sekayu mengembangkan agama Islam. Kiai Kamal datang di Pekayuan untuk menyiapkan kayu-kayu sebagai material Masjid Demak.

Sedangkan untuk keperluan ibadah selama berdomisili di Pekayuan, Kiai Kamal membangunkan tempat ibadah yaitu masjid tersebut.

“Sejarahnya itu berawal dari Mbah Kiai Kamal yang saat diberikan perintah oleh gurunya untuk masuk ke Sekayu mengembangkan agama Islam,” paparnya.

Ia memaparkan, Masjid Taqwa Sekayu ini yang konon memang ada kaitan erat dengan Masjid Agung Demak, di mana sebagian kayu untuk membangun Masjid Demak berasal dari Sekayu. Karena pembangunan Masjid Sekayu oleh Kiai Kamal, juga seorang ulama asal Cirebon pada tahun 1413 M, yang mana lebih dulu dibanding pembangunan Masjid Agung Demak pada tahun 1420 M. Dengan usianya yang sudah ratusan tahun, membuat bangunan ini menjadi cagar budaya dan banyak dikaji peneliti baik dalam negeri maupun luar negeri.

Dan pengurus Masjid Sekayu sendiri sampai saat ini masih mempertahankan isi bangunan, meski beberapa kali dilakukan pemugaran. Ada empat yang masih digunakan di Masjid Taqwa Sekayu, Mustaka Masjid (kubah), Soko empat (tiang besar berjumlah empat), pintu tiga (pintu masuk Masjid) juga masih pakai yang dulu. Serta sebuah sumur yang dipakai sampai saat ini. (HS-06)

 

Sejumlah Pemain Liga Disanksi Buntut Kericuhan Sepak Bola Tarkam di Kabupaten Semarang

Viral Aksi Jambret Hingga Pemotor Terseret di Muktiharjo Kidul Semarang, Polisi Turun Tangan